Sihir dan Klenik di Masa Kini

Kabar Internasional

Sihir dan Klenik di Masa Kini

Tim detikInet - detikJabar
Sabtu, 26 Nov 2022 21:00 WIB
Ilustrasi dukun cabul atau penipu
Ilustrasi sihir. (Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono)
Jakarta -

Sebuah penelitian mengungkapkan, meski zaman sudah modern, hampir setengah populasi di dunia masih percaya kepada hal yang berhubungan dengan sihir dan klenik. Mereka percaya, sihir bisa mengakibatkan kekeringan pertanian atau pengangguran berskala besar hingga mendatangkan penyakit.

Dikutip dari detikInet, penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor budaya, politik, dan ekonomi yang tampaknya mendorong kepercayaan semacam itu. Penelitian dilakukan kepada lebih dari 140 ribu orang di 95 negara dan wilayah dikompilasi menjadi satu kumpulan data besar.

Indonesia, termasuk dalam sampel penelitian ini, dengan ukurannya sampel 1.880 dan keterwakilan 87%. Data-data ini memungkinkan penulis penelitian memberikan gambaran tentang eksistensi kepercayaan sihir di seluruh dunia.


Hasilnya, secara keseluruhan, 43% peserta setuju dengan pernyataan bahwa "orang-orang tertentu bisa melontarkan kutukan atau mantra yang menyebabkan hal buruk terjadi pada seseorang."

"Perhitungan sederhana berdasarkan data populasi orang dewasa menghasilkan hampir satu miliar orang percaya (pada sihir) hanya di 95 negara yang masuk dalam sampel. Pasti jumlah ini kurang karena kepekaan terhadap pertanyaan terkait sihir setidaknya hanya beberapa responden," tulis para peneliti sebagaimana dilansir detikJabar, Jumat (25/11/2022).

Sejarah pun pernah mencatat, zaman dulu manusia pernah melakukan pembakaran terhadap orang-orang yang dianggap penyihir dan dukun, terutama di Eropa pada Abad Pertengahan. Meski era itu sudah lama berlalu, nyatanya nyaris setengah populasi dunia masih percaya dengan sihir dan hal berbau klenik hingga sekarang.

Namun, seperti dikutip dari IFL Science, mereka selanjutnya menjelaskan bahwa beberapa negara menjadi sarang kepercayaan sihir dan yang lainnya menjadi rumah bagi populasi yang lebih rasional.

Misalnya, meskipun hanya 9% orang Swedia menganggap ilmu sihir kredibel, ada 90% orang di Tunisia yang mengaku percaya pada penyihir. Penulis penelitian berusaha untuk mengklarifikasi dan memahami fungsi sosial dari kepercayaan terhadap sihir.

"Selama berabad-abad, tujuan yang paling jelas dari kepercayaan sihir adalah untuk memberikan penjelasan akhir atas peristiwa yang tidak menguntungkan dalam kehidupan manusia dan dengan demikian membantu mengatasinya," jelas mereka.

Oleh karena itu, mereka menemukan bahwa kepercayaan tersebut berkorelasi dengan keterpaparan terhadap guncangan akibat peristiwa tertentu seperti kekeringan pertanian atau pengangguran berskala besar.

"Para peneliti juga mengatakan bahwa konsep ilmu sihir membantu menjaga keteraturan dan kohesi tanpa adanya mekanisme pemerintahan yang efektif, dan karena itu, lebih tersebar luas di negara-negara dengan institusi yang lemah," kata mereka.

Namun, pada saat yang sama, mereka mencatat bahwa fungsi ini, kemungkinan besar harus dibayar mahal untuk menghancurkan tatanan sosial, berkontribusi pada kecemasan, dan stagnasi ekonomi.

Menganalisis pendekatan yang berbeda untuk memerangi bahaya ini, penulis penelitian mengatakan bahwa mencoba mendidik orang tentang kekeliruan ilmu sihir kemungkinan akan menjadi bumerang.

Misalnya, mereka mencatat tentang seseorang yang sepenuhnya memahami bahwa penyakit yang dideritanya disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun ada juga yang masih menganggap kemungkinan mereka terkena sihir.

Demikian pula, para peneliti memperingatkan terhadap pelarangan kepercayaan semacam itu, karena hal itu dapat meningkatkan ketakutan terhadap orang-orang dengan kemampuan istimewa dan dilindungi oleh undang-undang baru di negara tertentu.

Oleh karena itu, menurut para peneliti, pendekatan terbaik adalah berfokus pada pembangunan institusi sosial yang memberikan keamanan lebih besar, melindungi orang dari bencana fisik dan ekonomi, dan dengan demikian akan mengurangi kebutuhan akan kepercayaan terhadap sihir.

Artikel ini telah tayang di detikInet dengan judul Nyaris Setengah Populasi Dunia Masih Percaya Sihir dan Klenik, Indonesia Termasuk

(ral/orb)