Kisah Epon, Sempat Ditahlilkan Lalu Bertemu Keluarga Usai 19 Tahun Pisah

Kabupaten Sukabumi

Kisah Epon, Sempat Ditahlilkan Lalu Bertemu Keluarga Usai 19 Tahun Pisah

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 04 Okt 2022 18:59 WIB
Momen Epon bertemu lagi dengan keluarganya.
Momen Epon bertemu lagi dengan keluarganya (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Epon, seorang penyandang gangguan jiwa berusia 40 tahunan itu kabur dari rumah usai mengalami keretakan dalam rumah tangganya. Setelah itu, warga Kabupaten Karawang itu 'terdampar' hingga ke Surabaya dan sempat menghuni salah satu panti di Lembaga Pondok Sosial (Liponsos) di kota tersebut.

Setelah sekian lama, Epon juga dikenal dengan nama Ipon itu akhirnya dirawat di Sentra Sosial Phalamartha, Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Sampai kemudian kondisinya pulih dan perlahan bisa mengungkap jatidirinya. Pelacakan keluarga Epon dilakukan, sampai akhirnya keluarganya ditemukan.

"Akhirnya keluarga Epon ditemukan, ketika pertamakali dihubungi oleh pendamping sosial di Karawang keluarganya histeris. Maklum saja mereka ini sudah berusaha mencari Epon bahkan sampai nanya ke orang pintar," cerita Cup Santo, Kepala Sentra Phalamartha, Kementerian Sosial RI kepada detikJabar, Selasa (4/10/2022).


Saat itu, pendamping sosial mengantar keluarga Epon untuk bertemu di Sentra Sosial Phalamartha di Sukabumi. Isak tangis keluarga Epon pecah, mereka berpelukan melepas rasa kangen yang selama ini tertahan. Bahkan pihak keluarga sempat mengira Epon sudah tiada.

"Jadi ceritanya keluarganya ini sudah mencari kemana-mana, berbagai cara dilakukan sampai ke orang pintar. Karena tidak membuahkan hasil, pihak keluarga mengira Epon ini sudah meninggal dunia, bahkan keluarganya di Karawang sempat menggelar tahlilan," kata Cup.

Kasus pertemuan dramatis Epon dikatakan Cup Santo adalah salah satu dari beragam kasus penyandang gangguan jiwa yang berhasil dipulihkan dan dikembalikan kepada keluarganya melalui program Reunifikasi.

"Karena tempat yang terbaik bagi mereka adalah bersama keluarganya, mendapatkan perhatian, kasih sayang dan pendampingan dari keluarga daripada hidup terlantar di jalanan. Ketika mereka mendapat pengobatan yang baik, akhirnya bisa sembuh dan kembali menjalani kehidupannya dengan baik," papar Cup Santo.

Kusman, pekerja sosial di Sentra Phalamartha yang memulihkan kondisi Epon mengatakan perempuan itu menjalani pengobatan selama 1 tahun 9 bulan. Selama itu pula kondisinya berangsur membaik, ia mulai bisa menceritakan asal muasalnya.

"Kita mendapatkan informasi dari dia karena kondisinya itu sudah mulai baik jadi dia bisa menyebutkan alamat rumahnya dan itupun tidak sekaligus kita mencatat karena berulang ulang sampai menemukan konsistensi dari jawaban itu. Setelah kita mendapatkan konsistensi berkali kali tetap menyebutkan alamat yang sama akhirnya kita hubungi Dinas Sosial Kabupaten Karawang," ungkap Kusman.

"Kami melakukan pelacakan, melalui kecamatan dan desa dibantu para pendamping dan TKSK hingga akhirnya kita temukan alamat keluarganya. Jadi cerita keluarga, saat itu dia ada keretakan di dalam keluarga, kemudian dia meninggalkan dua anaknya yang saat itu masih kecil," kata Kusman.

Kembali ke soal Reunifikasi, pihak Phalamartha menjadikan program itu bagian dari kegiatan menjelang hari peringatan kesehatan jiwa sedunia yang jatuh pada 10 Oktober nanti. Berbagai kegiatan terkait dengan kesehatan jiwa dilakukan dan untuk Phalamartha dipusatkan di Panti Aura Welas Asih.

"Ada tujuh kegiatan yang dilakukan mulai dari pembebasan pasung, Reunifikasi keluarga bagi ODGJ yang terlantar atau sudah sekian lama tinggal di lembaga sosial. Kemudian bantuan atensi, pelaksanaan perekaman data KTP bekerja sama dengan Disdukcapil, pemeriksaan kesehatan umum dan Covid 19 untuk vaksin yang pertama dan kemudian adalah kampanye sosial," jelas Cup Santo, Kepala Sentra Phalamartha, Kementerian Sosial RI.

(sya/mso)