Atap SDN 1 Bunisari Garut Ambruk, Empat Siswa Tertimpa Material

Atap SDN 1 Bunisari Garut Ambruk, Empat Siswa Tertimpa Material

Hakim Ghani - detikJabar
Selasa, 04 Okt 2022 13:32 WIB
Atap SD di Garut ambruk.
Atap SD di Garut ambruk (Foto: Istimewa).
Garut -

Atap salah satu ruangan kelas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Bunisari Garut ambruk. Empat orang siswa tertimbun dan mengalami luka.

Peristiwa robohnya atap SDN 1 Bunisari yang terletak di Kecamatan Malangbong, Garut itu terjadi pada Selasa (4/10/2022) pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB. Atap ruangan yang roboh, diketahui merupakan ruangan kelas tiga sekolah tersebut.

"Jadi atap sekaligus gentingnya yang ambruk, bukan bangunannya. Waktu kejadian Selasa 4 Oktober 2022, sekitar jam 10 pagi tadi," kata Zainuri.


Saat kejadian tersebut berlangsung, proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) tengah dilaksanakan di bangunan kelas tersebut. Akibatnya, ada sejumlah siswa yang tertimbun material berupa kayu, plafon dan genting.

Zainuri menjelaskan total ada 4 orang siswa yang menjadi korban. Keempat korban langsung dibawa ke puskesmas dan sudah dilakukan perawatan.

"Menimpa empat orang siswa yang sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar," katanya.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman yang langsung meninjau lokasi, memastikan jika keempat pelajar yang menjadi korban sudah mendapatkan perawatan di puskesmas setempat.

"Tadi saya ke sana, ngobrol juga dengan dokternya. Kondisinya baik dan sudah diperbolehkan pulang," ucap Helmi.

Helmi menambahkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukannya, bangunan SDN 1 Bunisari memang sudah lapuk. Bangunan sekolah tersebut, diketahui dibangun sejak tahun 1983.

"Memang sekolah ini, tadi kata pak gurunya, ini sejak tahun 83 dibangunnya. Memang dilihat dari struktur bangunan, memang sudah lapuk," ujarnya Helmi.

Pasca kejadian tersebut, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut dihentikan untuk sementara waktu. Helmi mengaku sudah meminta Dinas Pendidikan untuk mendata sekolah yang memiliki bangunan lapuk, untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali.

"Cukup ini yang terakhir," ujar Helmi.

(mso/mso)