Dulu Bandung Dijuluki Kuburan Bayi, Bagaimana Kondisinya Sekarang?

Dulu Bandung Dijuluki Kuburan Bayi, Bagaimana Kondisinya Sekarang?

Sudirman Wamad - detikJabar
Sabtu, 01 Okt 2022 11:00 WIB
A poor naked unwanted baby doll
Ilustrasi bayi meninggal (Foto: Getty Images/iStockphoto/coolmilo)
Bandung -

Kota Bandung pernah mendapatkan julukan sebagai kinderkerkhof atau kuburan bayi. Julukan ini tersemat pada abad ke-19. Kala itu, angka kematian bayi tinggi dan dimakamkan di halaman rumah masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman, tepatnya saat Bandung berstatus sebagai kotapraja. Pemerintah menerbitkan aturan tentang penataan kota, salah satunya warga dilarang memakamkan keluarganya di halaman rumah. Dibuatlah beberapa kompleks pemakaman, seperti Astanaanyar, Pandu, Cikadut dan lainnya.

Angka kematian bayi itu salah satunya adalah akibat wabah korela yang terjadi pada periode 1910. Lantas, bagaimanakah kondisi terkini soal kasus angka kematian bayi di Kota Bandung?


Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat angka kematian bayi sepanjang 2022 hingga Agustus mencapai 41 kasus. "Tahun sebelumnya, pada 2021 angka kematian bayi itu jumlahnya 91 kasus. Sedangkan, 2022 sampai Agustus mencapai 41 kasus," kata Sekretaris Dinkes Kota Bandung Anhar Hadian kepada detikJabar, Jumat (30/9/2022).

Anhar berharap kasus kematian bayi bisa menurun. Pihaknya tengah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian bayi. Jumlah kematian bayi pada 2020 lebih sedikit ketimbang 2021. Pada 2020, jumlah kematian bayi mencapai 82 kasus.

"Tampaknya memang kalau 2021 itu karena pandemi. Di mana masyarakat enggan mengakses layanan kesehatan, itu salah satu penyebabnya adalah keterlambatan akses layanan kesehatan," kata Anhar.

Anhar mengatakan masyarakat, khususnya ibu hamil saat pandemi khawatir tertular COVID-19 saat berkunjung ke rumah sakit. "Semoga pada 2022 ini tidak terjadi hal serupa. Mungkin awal tahun iya, karena ada Omicron," ucap Anhar.

Anhar tak menampik masih adanya kasus kematian bayi itu salah satu faktor lainnya adalah edukasi tentang kesehatan kehamilan. Ia menduga ada beberapa kelompok masyarakat, khususnya kalangan berpenghasilan rendah atau prasejahtera yang enggan merujuk ke layanan kesehatan. Kelompok tersebut khawatir tentang biaya perawatan di rumah sakit.

"Kita sudah punya program UHC, jadi pemerintah menggratiskan. Yang penting warga ber-KTP Kota Bandung," kata Anhar.

Kemudian, lanjut Anhar, akses kesehatan di Kota Bandung terbilang sangat lengkap. Di Kota Bandung ada 38 rumah sakit yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Selain itu, Dinkes Kota Bandung kita memperkuat tim Audit Maternal Perinatal (AMP) untuk mengkaji tentang prosedur pelayanan di layanan kesehatan, seperti bidan dan lainnya. Kelas kesehatan ibu hamil pun kembali digencarkan.

"Kita edukasi ibu hamil tentang kesehatannya. Agar lebih peduli. Harapannya bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi," ucap Anhar.

(sud/yum)