Hendra Permana, Driver Ojol Bandung yang Fasih Bahasa Jepang

Serba-serbi Warga

Hendra Permana, Driver Ojol Bandung yang Fasih Bahasa Jepang

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 18:00 WIB
Driver Ojol Bandung, Hendra Permana (32)
Driver Ojol Bandung, Hendra Permana (32) (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Sudah sulit semakin terjepit. Begitulah kira-kira ungkapan yang diutarakan oleh seorang driver ojek online (ojol) di tengah tingginya harga bahan bakar minyak (BBM).

Hendra Permana (32), salah seorang driver ojol di Kota Bandung mengakui kondisi saat ini semakin sulit. Harga BBM yang sangat tinggi membuatnya harus bekerja lebih giat lagi agar dapur rumahnya terus mengepul.

Berbincang dengan detikJabar di sekitar Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Hendra mengatakan jika naiknya harga BBM membuatnya makin mengeluarkan biaya lebih sehari-hari.


Padahal penghasilan Hendra sebagai driver ojol tak menentu. Apalagi kata dia, potongan dari aplikasi ojol saat ini juga tak jelas.

"Gak ketutup sih, meskipun ada kebijakan tarif naik tapi kan dikit. Misal penumpang ngasih Rp 15 ribu, ke kitanya cuma Rp 8 ribu. Potongannya gede soalnya gak flat gitu, di jam sibuk makin gede potongannya," kata Hendra, Kamis (29/9/2022).

Belum lagi, saat ini Hendra mengungkapkan pemakaian BBM jauh lebih boros dari biasanya. Hendra sendiri menggunakan BBM jenis Pertalite.

"Isi pertalite agak boros emang bener, saya hafal banget jarak ke sini ke sini itu habisnya berapa. Jadi tahu hafal lah. Sekarang bisa lebih boros," ungkapnya.

Dalam sehari, Hendra bisa mendapat penumpang hingga 15 orang jika sedang ramai. Sejak pagi hingga malam hari bekerja sebagai driver ojol, Hendra bisa mengantongi Rp 200-300 ribu.

Namun pendapatan itu harus bisa digunakan sebaik mungkin. Sebab selain harga BBM yang tinggi, harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut naik.

"Pendapatan sih nambah ya, tapi kan BBM mahal jadi ya sama aja," ujarnya.

Jago Bahasa Jepang

Meski berprofesi sebagai driver ojol, namun Hendra punya keahilan lain. Ia jago berbahasa Jepang dan sempat menjadi pengajar di salah satu perusahaan penyalur tenaga kerja ke Jepang.

Namun karena pandemi COVID-19, perusahaan itu tutup dan membuatnya harus mencari pekerjaan lain yakni sebagai driver ojol.

"Jadi driver ojol itu 2019 akhir lah pas pandemi, tadinya kerja ngajar bahasa Jepang di perusahaan yang menyalurkan tenaga kerja gitu. Udahan karena pas pandemi gak ada penyaluran itu lagi," jelas Hendra.

Hendra bisa berbahasa Jepang karena pernah bekerja di sana selama dua tahun. Saat itu ia bekerja sebagai karyawan partime.

"Bahasa Jepang ya bisa lah dikit-dikit, belajarnya langsung di Jepangnya. Pernah disana kerja partime itu tahun 2016. Terus pulang kesini (Bandung) kerja ngajar itu," ungkapnya.

(bba/yum)