Medan Curam dan Angin Kencang Hambat Pemadaman Api di Gunung Ciremai

Medan Curam dan Angin Kencang Hambat Pemadaman Api di Gunung Ciremai

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Selasa, 27 Sep 2022 19:52 WIB
Ilustrasi Kebakaran. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi kebakaran (Foto: Thinkstock)
Kuningan -

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melahap sebagian kawasan di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada Minggu (25/9/2022) kemarin, masih berusaha dipadamkan petugas hingga hari ini.

Sebelumnya petugas gabungan dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dibantu TNI, Polri, BPBD Kuningan, dan unsur lainnya berhasil memadamkan kobaran api selama kurang lebih 5 jam. Namun, si jago merah kembali membara.

Lokasi awal titik kebakaran terjadi di Blok Cileutik, Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Lalu menyebar ke kawasan hutan Pajaten dan Batuluhur. Hingga malam ini petugas masih berupaya mengendalikan Karhutla tersebut.


"Hari ini kami masih berupaya memadamkan di areal Pajaten dengan Batuluhur. Ini berbeda dengan titik api kamarin, ini (lokasi) lebih ke Utara lagi dari yang kemarin," kata Kepala Balai TNGC Teguh Setiawan dihubungi detikJabar, Selasa (27/9/2022).

Ada beberapa faktor yang menyulitkan proses pemadaman yaitu kondisi cuaca dan areal sekitar lokasi kebakaran jadi kendala proses pemadaman. Angin kencang yang menerpa lokasi kebakaran jadi penyebab api cepat menyebar.

"Kendala cukup banyak karena medan cukup curam dengan batu vulkanik yang mudah lepas, jadi di injak kadang-kadang suka jeblos atau geser jadi harus hati-hati, ilalang atau semak belukarnya cukup tebal di sini," ungkap dia.

"Lalu sudah beberapa bulan masuk musim kemarau juga dan yang ketiga angin cukup kencang sehingga mempercepat proses penyebaran api," sambungnya.

Meski terhambat beberapa faktor, sumber air di lokasi kebakaran tidak terlalu sulit. Pasalnya, di beberapa titik lokasi kebakaran masih terjangkau menggunakan pompa air untuk mengambil air dari sumber air.

"Air lumayan cukup. Kayak di Batuluhur itu masih bisa terjangkau dengan mesin pompa dengan pipa yang ada di kita. Karena arealnya juga cukup datar dengan areal air yang cukup banyak. Di Pajaten kurang, sumber air terbatas. Jadi kita sistem unjal air," ucap dia.

Sulitnya api dikendalikan sehingga pihaknya mendapat tambahan personel. Dari sebelumnya 100 personel, kini bertambah menjadi kurang lebih 150 orang. "Ada tambahan personel dari teman-teman pengelola wisata di TNGC, terus juga dari PDAM Cirebon tadi juga support, Polres Kuningan juga tadi kirim 30 orang Shabara," ujar dia.

Selain itu petugas gabungan juga berencana akan membuat posko, agar proses pemadaman tertangani lebih cepat. "Tadi siang saya sudah rakor dengan sekda. Kita sepakat besok buat posko gabungan. TNGC, Polisi, TNI, BPBD, dan unsur lainnya," jelas dia.

Hingga malam ini para petugas gabungan itu masih berupaya mengendalikan api. Mereka terus berjaga-jaga agar api tidak menyebar ke titik lain. "Kita bertahan supaya tidak menyebar lagi ke blok lainnya. Luas (lahan terbakar) belum kita ukur, kami masih fokus pemadaman dulu," ujar Teguh.

(iqk/iqk)