Fakta Unik: Si Langka Kodok Merah Tetiba Muncul di Gunung Ciremai

Fakta Unik: Si Langka Kodok Merah Tetiba Muncul di Gunung Ciremai

Cornelis Jonathan Sopamena - detikJabar
Selasa, 27 Sep 2022 07:00 WIB
Kodok merah Ciremai (Leptophryne javanica) betina
Kodok merah Ciremai (Leptophryne javanica) betina (Foto: Foto: Farist Alhadi/LIPI)
Bandung -

Kodok darah atau kodok merah merupakan salah satu satwa langka yang statusnya dilindungi. Kodok yang berhabitat di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini sempat ramai dibicarakan lantas diklaim menolak punah.

Karena langka, kehadiran jenis satwa amfibi ini ternyata sangat dinanti pengelola taman tersebut. Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi KLHK, Munawir mengaku kemunculan kodok darah ini memberi tanda kondisi alam di kawasan tersebut masih asri, terjaga, dan tidak tercemar.

"Keberadaan kodok jenis tersebut menandakan alamnya masih bagus masih lestari. Tugas kita semua menjaga itu. Penemuan (kodok merah) ini membuktikan bahwa, satu, kodok ini belum punah. Kedua, Halimun Salak masih lestari. Itu intinya," ungkap Munawir pada detikJabar, Rabu (13/7/2022).


Meski sama-sama memiliki nama kodok darah, ternyata terdapat beberapa perbedaan antara kodok darah yang terletak di TNGC dan TNGHS. Perbedaan pertama terletak pada nama latinnya. Kodok Merah di TNGC memiliki nama latin Leptophryne javanica, sedangkan TNGHS dengan nama lain Leptophryne cruentata.

Selain itu, kodok merah di TNGC memiliki warna yang didominasi gelap dengan aksen merah di bagian bawahnya. Sedangkan, kodok merah di TNGHS memiliki warna merah. Meski kedua kodok ini memiliki ciri warna yang cukup berbeda, kedua kodok ini sama-sama memiliki bercak kuning yang tersebar di seluruh tubuhnya.

Bahkan, hewan nokturnal ini menjadi satu-satunya jenis kodok yang masuk dalam daftar satwa dilindungi di PP No 7 Tahun 1999. Pertanyaannya, mengapa kodok yang satu ini begitu spesial?

"Pertama sisi populasi dan persebarannya tidak banyak, salah satu yang menjadi alasan utama yang menjadi ilmiah spesies dilindungi. Kemudian tingkat kerentanannya tinggi, kerentanan dalam artian sangat mudah hilang atau terganggu ketika lingkungannya berubah nah itu rentan dia (untuk) mati atau punah. Jenis ini itu rentan kalau lingkungannya rusak dia pasti habis. Maka perlu dilindungi habitatnya," ujar Munawir.

Kodok ini sempat menjadi ramai karena sudah dinanti selama 5 tahun oleh pengelola TNGHS. Bahkan, pengelola TNGHS sampai sempat mengunggah di internet ketika kodok darah di lingkungan TNGHS muncul setelah menghilang 5 tahun.

Kodok yang memiliki tubuh sepanjang 2-3 centimeter ini, biasanya memiliki habitat di area hutan yang dekat dengan sungai. Kodok ini juga digolongkan menjadi satwa nokturnal lantaran seringkali aktif di malam hari untuk mencari makan. Kodok darah biasanya menyantap belalang, jangkrik, atau cacing tanah.

Akibat kelangkaannya, kodok merah ini menjadi rentan diburu. Padahal, sanksi yang berat sudah siap mengganjar pihak yang memburu, mengoleksi, atau menjual satwa ini sebagaimana tertuang di Pasal 40 Ayat (2) UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam pasal tersebut, tertulis sanksi yang dapat diterima bagi pihak nakal yang tidak bertanggung jawab adalah ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Selain sempat menghilang hingga akhirnya ditemukan kembali di TNGHS, kodok darah yang terletak di TNGC juga terus mengalami penurunan jumlah populasi setiap tahunnya. Berikut data hasil monitoring populasi Kodok Merah Ciremai yang pernah dilakukan oleh tim balai TNGC.

Tahun 2018

Curug Cisurian: 102 individu
Curug Cilutung: 272 individu
Curug Batu Nganjut: 25 individu
MA. Kopi Bojong: 24 individu

Tahun 2020

Curug Cisurian: 18 individu
Curug Cilutung: 69 individu
Curug Batu Nganjut: 7 individu
MA. Kopi Bojong: 17 individu
MA. Ciinjuk: 21 individu
MA. Cadas Belang: 21 individu

Tahun 2022

Curug Cisurian: 17 individu
Curug Cilutung: 23 individu
MA. Ciinjuk: 46 individu
MA. Kopi Bojong: 13 individu

(iqk/iqk)