Petani Pangalengan Minta RK Beri Kejelasan soal Penguasaan Tanah Negara

Petani Pangalengan Minta RK Beri Kejelasan soal Penguasaan Tanah Negara

Rifat Alhamidi - detikJabar
Selasa, 27 Sep 2022 15:36 WIB
Demo petani di Gedung Sate, Bandung.
Demo petani di Gedung Sate, Bandung (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar).
Bandung -

Puluhan petani dari Pangalengan, Jawa Barat, melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Sate, Selasa (27/9/2022). Mereka menuntut Gubernur Ridwan Kamil agar memberikan kejelasan mengenai hak pengelolaan tanah untuk para petani di Pangalengan.

Pantauan detikJabar, massa aksi yang didominasi para orang tua ini datang ke Gedung Sate sembari membawa mobil komando untuk berorasi. Tak hanya petani, massa aksi kali ini juga merupakan gabungan dari aliansi buruh dan mahasiswa.

Koordinator Aksi Aji Gunawan mengatakan para petani di Pangalengan menuntut pengelolaan tanah diserahkan seluruhnya kepada petani. Sebab selama ini, petani tak bisa secara nyaman menggarap lahan mereka lantaran status tanah di sana merupakan milik negara.


"Kami menagih janji gubernur mengenai hak atas tanah dan kedaulatan tanah yang saat ini punya ketimpangan kuasa. Sehingga para petani di Pangalengan sampai sekarang tidak punya akses yang jelas terhadap tanah garapannya," kata Aji kepada detikJabar.

Aji mengatakan para petani Pangalengan masih dilanda rasa was-was saat menggarap lahan garapannya. Sebab, di lapangan, kata dia, masih ada praktek monopoli lahan bahkan berujung kepada perampasan tanah di lahan garapan para petani tersebut.

"Ditambah dengan kenaikan BBM, biaya operasional petani jadi makin tinggi sementara daya jualnya malah menurun. Ini menjadi tuntutan aksi kami kepada gubernur selain memang ancaman monopoli dan perampasan tanah di Pangalengan yang setiap tahun tidak pernah ada kejelasan bagi para petani," tuturnya.

Perwakilan petani yang berunjuk rasa kemudian diterima Sekda Jabar Setiawan Wangsaatmaja untuk beraudiensi. Namun menurut Aji, hasil audiensi tersebut tidak memuaskan para petani yang memang menuntut kejelasan tanah lahan pertanian.

"Tadi hanya serap aspirasi saja, yang menerima Sekda. Tuntutan ini akan ditampung dan dilanjutkan aspirasinya ke gubernur. Karena secara pernyataan, kami ingin gubernur menjamin hak tanah petani Pangalengan," pungkasnya.

Setelah bergiliran menyampaikan orasinya, aksi ini kemudian ditutup dengan pernyataan sikap. Puluhan petani, buruh dan mahasiswa ini kemudian bubar dari Gedung Sate sekitar pukul 14.30 WIB.

(ral/mso)