Petani Milenial Lampaui Target, Dishut Jabar Siap Gelar Pasar Leuweung

Rifat Alhamidi - detikJabar
Jumat, 23 Sep 2022 00:14 WIB
Ridwan Kamil
Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat melihat budidaya jamur (Foto: Istimewa).
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan program petani milenial di wilayahnya sudah sukses dilaksanakan. Pada gelombang I, sebanyak 1.249 petani milenial telah diwisuda pada Maret 2022, dan kini 20 ribu calon petani milenial tengah mendaftar pada gelombang II.

Ridwan Kamil mengatakan upaya tersebut merupakan komitmen Jawa Barat untuk mewujudkan kemandirian pangan. Ia optimistis kemandirian pangan itu bisa diwujudkan dalam program petani milenial.

"Sehingga, meskipun tinggal di desa, tapi bisa mendapatkan rezeki kota dan bisnis mendunia," ujar Ridwan Kamil dalam rilis yang diterima detikJabar, Kamis (22/9/2022).


Orang nomor satu di Jawa Barat ini mengatakan, saat ini petani milenial menjadi penting di tengah kondisi dunia sedang krisis finansial, pangan dan energi.

Indonesia khususnya wilayah Jawa Barat, ujar Ridwan Kamil, dianugerahi tanah yang subur. Namun, yang menggarap pertanian masih sedikit. Sehingga, program petani milenial ini diharapkan bisa menjawab tantangan krisis dunia, terutama di bidang pangan.

Sementara itu, di antara organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat program petani milenial adalah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Mereka mengembangkan lebah madu dan jamur kayu.

Budidaya dua komoditas ini, mendapatkan animo tinggi dari kalangan milenial. Terbukti, jumlah pendaftar mencapai 753 orang dari 516 petani milenial yang ditargetkan Dinas Kehutanan.

Plt Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Dodit Ardian Pancapana mengaku tingginya animo masyarakat tidak lepas dari peran teknologi digital yang saat ini leading di Jawa Barat.

"Pada tahun 2021, sebanyak 98 orang daftar secara online maupun offline. Semuanya sudah mengikuti inagurasi pada Maret 2022 lalu. Sedangkan tahun 2022 ini, sebanyak 102 petani milenial dinyatakan lulus namun belum dilakukan inagurasi," beber Dodit.

Dodit mengatakan, pihaknya sudah menggulirkan program petani milenial lebah madu dan jamur kayu sejak November 2021.

Dodit juga menyebut, keterlibatan berbagai pihak dari hulu hingga hilir, turut membantu keberlangsungan petani milenial Dinas Kehutanan. Sehingga, tidak hanya kepada petani milenial, komunikasi kepada offtaker dan avalis, terus dijaga dengan baik.

Ke depannya, Dishut akan mengembangkan akses penjualan produk para petani milenial ini. Salah satunya dengan menggelar event Pasar Leuweung. Nantinya, petani milenial bisa men-display langsung produk olahannya.

"Event Pasar Leweung atau pasar hutan ini, kita jadikan sebagai atraksi wisata yang bisa menyedot pengunjung. Rencananya, kita gelar satu bulan sekali. Sehingga, orang dari luar daerah, seperti Jakarta dan kota besar lainnya, bisa membeli produk hasil hutan ini langsung dari petani milenial," beber Dodit.

Melalui event Pasar Leweung ini juga, pastinya dibutuhkan peningkatan kualitas produk, peningkatan SDM dan dukungan pembiayaan. "Tiga poin yang harus ditingkatkan, yakni petani milenial, penyuluh, dan peran offtaker," jelas Dodit.

Sehingga, kata Dodit, jika siklus produk hasil hutan petmil sudah semakin besar dengan bertambahnya omset, maka semangat generasi muda bergabung dengan petani milenial akan semakin tinggi.

(ral/mso)