Gegerkan Warga Sumedang, Ular Cincin Lebih Agresif dari King Kobra!

Gegerkan Warga Sumedang, Ular Cincin Lebih Agresif dari King Kobra!

Nur Azis - detikJabar
Kamis, 22 Sep 2022 04:00 WIB
Ular cincin di Sumedang
Ular cincin di Sumedang (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Ular cincin emas sepanjang 2 meter menggegerkan warga lingkungan Panday, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan. Beruntung, ular tersebut berhasil dievakuasi oleh anggota dari komunitas pecinta reptil Bangke Laut Sumedang.

Lalu seperti apakah karakteristik dari ular tersebut?

Dilansir dari situs Universitas Kristen Petra, opensource.petra.ac.id, disebutkan, nama umum dalam bahasa Inggris untuk ular cincin emas, yakni Gold-ringed Cat Snake.


Sementara untuk nama latinnya, yakni Boiga dendrophila. Di Indonesia sendiri, ular cincin emas dinamakan juga ular weling. Ular ini memiliki warna hitam berbelang kuning atau putih melingkar. Ular jenis ini memiliki panjang maksimal 2,5 meter.

Habitat ular ini di hutan primer dan sekunder dataran rendah terutama dekat badan air, termasuk hutan bakau dan rawa. Makanan dari ular ini yakni seperti katak, kadal, ular, burung dan mamalia kecil. Ular ini kerap beraktivitas pada malam hari. Sementara pada siang hari sering terlihat istirahat di pohon.

Persebaran ular ini banyak ditemui di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sunda Kecil dan Sulawesi. Sifat lain dari ular cincin emas, diantaranya sangat agresif dan menggigit apabila diganggu.

Anggota dari komunitas pecinta reptil Bangke Laut Sumedang, Andri Reginaldi menjelaskan, ular cincin emas merupakan jenis ular berbisa dengan level bisa menengah atau tidak mematikan seperti king cobra.

"Ular ini lebih agresif dari king cobra, tapi bisanya tidak mematikan seperti king cobra dan biasanya orang yang digigit hanya akan merasakan panas di area gigitan dan merasakan demam dengan jarak gejalanya akan terasa sekitar 3 menit setelah gigitan tergantung daya tahan tubuhnya," paparnya kepada detikJabar.

Andri menjelaskan, keluarga ular jenis boiga seperti boiga dedrophila, red boiga atau boiga cynodon memiliki posisi taring di belakang rahang.

"Keluarga ular jenis boiga yang ada di Sumedang biasanya memiliki posisi taringnya di area belakang rahang, jadi kalau gigit asal tidak dalam mudah dilepasnya, itu berbeda dengan jenis ular seperti cobra yang bertaring di depan atau ular viper yang bertaring lipat yang cukup sulit dilepas jika sudah mengigit," terangnya.

Perkembangbiakan ular cincin emas tidak berbeda dengan ular pada umumnya atau akan berlangsung setiap tahunnya.

Andri menyebut, siklus perkembangbiakan ular terjadi pada April hingga Juli yang merupakan musim kawin. Lalu pada Juli hingga September masuk pada masa okulasi. Sementara pada akhir tahun, banyak anakan ular yang menetas atau bergerak.

"Jadi wajar pada akhir tahun jika ada temuan ular di pemukiman warga karena masa itu anakan ular sudah banyak yang menetas dan bergerak," terangnya.

Penanganan Saat Digigit

Andri pun menjelaskan bagaimana cara menghadapi ular cincin emas.

"Warga yang berhadapan dengan ular cincin emas sebaiknya menggunakan alat bantu seperti tongkat, pengki, atau sodokan jika akan mengusirnya, namun jika tidak mengetahui pasti terkait jenis ularnya, alangkah baiknya hubungi ahli atau penggiat reptil atau anggota Damkar dan petugas lainnya karena karakter menyerang ular berbisa itu beda-beda," katanya.

Andri menyebut, pertolongan pertama bagi warga yang kena gigitan ular jenis ini bisa diobati dengan cara tradisional serta obat-obatan umum

"Untuk bengkak akibat luka gigitan ular cincin emas, biasanya kita pakai daun kacang tanah dan asem jawa itu dibalurkan ke area yang bengkak, terus mengkonsumsi paracetamol untuk demamnya," terangnya.

Andri menambahkan, namun jika lukanya cukup serius maka secepatnya dibawa ke rumah sakit.

(yum/yum)