UNESCO Soroti Mitigasi Bencana dan Jalur Evakuasi Tsunami di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Minggu, 18 Sep 2022 14:46 WIB
UNESCO evaluasi mitigasi bencana di Pangandaran.
UNESCO evaluasi mitigasi bencana di Pangandaran (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar).
Pangandaran -

Mitigasi bencana di Kabupaten Pangandaran mendapat sorotan dari UNESCO. Pasalnya sejumlah fasilitas termasuk jalur evakuasi saat terjadi bencana masih belum maksimal.

"Kondisi pantai Pangandaran ini sangat rawan terjadi bencana Tsunami, maka mitigasi bencana dan jalur evakuasi harus sudah siap," kata Head Of Iotic UNESCO Ardito saat melakukan verfikasi lapangan Tsunami Ready hari kedua di Pangandaran, Minggu (18/9/2022).

Ia mengatakan bahwa mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat di suatu kawasan rawan bencana. "Baik itu bencana alam, buatan ataupun gabungan keduanya," kata Ardito.


Ardito menyoroti kesiapan tim Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) atau lifeguard di Pantai Pangandaran. "Kalo pengetahuan soal bencana semuanya sudah baik, namun ada beberapa hal masih harus diperhatikan," katanya

Ardito menginginkan semua stakeholder yang bergerak dalam bidang mitigasi bencana, mengetahui tahapan evakuasi dini saat terjadi bencana tsunami. "Karena proses evakuasi yang paling penting adalah keselamatan," katanya.

Menurut Ardito, evakuasi itu bukan pasca terjadi bencana tsunami. Tetapi, pertama, sesaat sebelum kejadian berlangsung dengan mitigasi dan edukasi bencana penyelamatan diri. Kedua saat kejadian berlangsung memastikan semuanya dalam kondisi selamat.

"Nah terakhir baru pemulihan pasca kejadian bencana alam," ucapnya.

Untuk fasilitas informasi bencana, dan pantauan comand center, Ardito menilai sudah lengkap. "Tinggal jalur evakuasi dan peta rawan bencana yang masih harus ditambah," katanya.

Saat ini, Ardito menilai papan informasi dan edukasi soal mitigasi bencana alam di Pangandaran masih belum lengkap. "Termasuk jalur evakuasi ke tempat aman saat kejadian bencana alam berlangsung," katanya.

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Pangandaran Sutan Abdul Abdul Rosyid mengatakan, jalur evakuasi paling dekat di pantai Pangandaran saat terjadi bencana Tsunami ada 2 lokasi.

"Pertama kawasan Taman Wisata Cagar alam di Goa lanang tempat dan Cikamal, aman dengan kondisi ketinggian lokasi dari permukaan laut, cuman infrasturktur, rambu-rambu dan bencana evakuasi belum ada dan peringatan siaga tsunami belum dipasang," katanya.

Ia mengatakan evaluasi dari UESCO terkait tempat evakuasi, jalur evakuasi, peta evakuasi, info tentang tsunami dan rambu evakuasi akan segera ditindaklanjuti. Secara umum untuk jalur evakuasi warga Pantai Pangandaran bisa menuju Purbahayu, jaraknya sejauh 12 Km melalui jalan raya Pangandaran.

Sekretaris Balawista Pangandaran Rian mengatakan bel peringatan atau sirine, alat penyelamatan, perahu, himbauan pengeras suara, himbauan saat terjadi gempa dan arah jalur evakuasi sudah ada, namun memang masih perlu ditambah.

Selain lokasi evakuasi, kesiapan hotel di Pangandaran yang siap menghadapi bencana sudah ada. "Kalo hotel-hotel besar di Pangandaran sudah sebagian siap menghadapi bencana tsunami menjadi tempat evakuasi sementara apabila ada orang yang sempat belum terselamatkan," katanya.

Apabila terjadi gempa bumi, Balawista akan cek langsung kondisi air ke BMKG Bandung, karena kalo terjadi tsunami air laut pasti surut dulu, ataupun menunggu informasi BMKG.

"Jika tidak terjadi tsunami maka akan disampaikan melalui voice toa pengeras suara yang tersebar di 5 pos Balawista," ucapnya.

(mso/mso)