Rezeki Petani Asri dengan Pupuk Asli Ber-SNI

Rezeki Petani Asri dengan Pupuk Asli Ber-SNI

Yudha Maulana - detikJabar
Jumat, 16 Sep 2022 14:59 WIB
Pemupukan ladang sayur di Parongpong, Bandung Barat
Pemupukan ladang sayur di Parongpong, Bandung Barat (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)
Bandung -

Deru knalpot mobil pikap memecah keheningan pagi Desa Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Pikap itu membawa tumpukan karung berwarna putih dengan cap salah satu merek pupuk terkenal.

Mobil itu berhenti di pinggir kebun dekat tikungan yang menurun curam. Tampak, seorang pria turun dari mobil dengan senyuman tersungging di wajahnya. Sambil berjalan santai, pria itu menghampiri dua orang petani yang tengah menggarap hortikultura.

"Saya punya pupuk NPK murah, harganya Rp125 ribu, isinya 50 kg. Kalau mau belinya kiloan, sekilonya Rp3.500, harganya murah kualitasnya sama dengan yang ada di toko," tutur pria tersebut dengan gaya bicara meyakinkan, pada 2017 lalu di Parongpong, 6 KM dari Lembang.


Pria itu kemudian memperlihatkan jeroan dari karung yang diangkutnya. Terlihat butiran berwarna biru kontras dengan ukuran gelintiran (granula) kurang lebih sebesar kerikil, yang disebutnya pupuk NPK.

Ditawari pupuk dengan harga miring, salah seorang petani Cucun (35) tergoda. Tanpa menaruh curiga, dibelilah satu karung pupuk dari orang tak dikenal tersebut. Ketika itu harga pupuk NPK di agen resmi berkisar Rp15 ribu per kilogram atau Rp750 ribu per karung.

Beberapa hari kemudian kejanggalan demi kejanggalan ditemukan Cucun ketika menggunakan pupuk dari pria tersebut. Butiran pupuk yang dipakai untuk menutrisi sayuran garapannya, tak luruh setelah tiga pekan ditaburkan ke tanah. Bentuknya masih berupa kerikil padat.

"Dari awal menanam sampai tiga minggu, pupuk yang ditaburkan tetap utuh. Memang sepintas hanya curiga dari warna saja, biasanya pucat, kalau yang ini birunya kontras seperti kerikil yang dicelup warna," ujar Cucun kepada detikJabar di kebunnya, 8 September 2022.

"Bahkan ketika disiram air atau hujan sekali pun, pupuk yang tadi tak larut. Bentuknya tetap utuh. Saya kira hanya berbeda di warna saja dengan pupuk yang biasa dipakai," ujar Cucun mengenang.

Waktu panen pun tiba, pupuk NPK abal-abal itu membuat brokoli, salada dan aneka hortikultura yang ditanam oleh Cucun dkk tak optimal. Alhasil, bukannya untung, Cucun malah buntung karena gagal panen.

Ladang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung BaratLadang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Ukuran tanaman yang dipanen lebih kecil karena pertumbuhannya tak maksimal. Dari segi warna pun, berbeda dengan hasil panen yang biasa ia dapatkan dengan pupuk yang asli. Ujungnya, ia jual rugi hasil panennya ke pengepul.

"Tadinya tergiur karena harga pupuk cukup tinggi, ketika ada yang murah jadinya tergiur, dicoba tadinya mau irit biaya, malah jadi tidak ketutup modalnya, jadinya malah nombok," ujar Cucun.

Selang beberapa hari, laporan soal korban pupuk palsu pun beredar. Pasalnya, korban dari pupuk palsu tak hanya para petani hortikultura tetapi juga para pembudidaya tanaman hias di sekitaran Parongpong, bunga hias yang ditanam jadi tak mekar sempurna.

"Memang waktu itu yang menawarkan orangnya juga baru lihat, asing lah enggak biasanya ke sini. Dia langsung datang saja menawarkan sambil naik mobil," ucap Cucun. Ia mengatakan pria yang menjual pupuk 'jadi-jadian' itu tak pernah datang menawarkan pupuk lagi.

Kejadian yang menimpa Cucun dan sejumlah petani di Parongpong, membuat para petani menjadi semakin hati-hati. Jejaring informasi pun ditebar di antara petani, andaikata ada pupuk yang dijual dengan harga kelewat murah petani mesti waspada.

"Sekarang tidak tergiur lagi, kecuali kalau belinya tidak dari toko tani atau agen yang resmi. Mereknya jelas, ada SNI (Standar Nasional Indonesia). Memang (harga) agak lebih tinggi tapi lebih baik daripada gagal panen atau tidak menutupi modal. Saya sudah kapok," ujar Cucun tegas.

EFEK BERBAHAYA PUPUK PALSU

Banyaknya gunung api vulkanik yang aktif membuat Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat menjadi daerah yang subur. Erupsi dari gunung vulkanik pada masa lampau membuat tanah di Jabar kaya dengan unsur hara seperti magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) yang dibutuhkan oleh tanaman.

Musabab demikian, sejumlah komoditas hortikultura dari Jawa Barat pun tumbuh subur. Hortikultura dari Jabar menjadi salah satu penyumbang terbesar angka produksi sayuran secara nasional.

Dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ada sepuluh komoditas hortikultura dari Tanah Priangan yang menyumbang seperlima dari keseluruhan angka produksi sayuran di semua provinsi di Indonesia.

Kesepuluh komoditas itu yakni kacang panjang (21,6%), paprika (34,5%), jamur (25,8%), cabai besar (25,2%), buncis (26,8%), ketimun (31,4%), labu siam (20,5%), melinjo (20,1%), petsai/sawi (26%) dan petai (20,9%).

Peneliti Pusat Pemberdayaan Pedesaan Institut Teknologi Bandung (P2D ITB) Pathmi Noerhatini menjelaskan, dampak dari pupuk palsu tidak hanya berlaku sementara. Dalam jangka waktu yang panjang ada sejumlah dampak negatif terhadap lingkungan.

"Penggunaan pupuk palsu bisa menyebabkan penurunan kesuburan tanah bahkan merusak struktur tanah baik secara fisik, biologi, dan kimia tanah," ujar Pathmi saat dihubungi detikJabar.

Pemberian pupuk yang tidak tepat juga dapat menurunkan potensi hasil tanaman, tak hanya pertumbuhan yang lebih lambat, tanaman juga menjadi lebih rentan terhadap serangan hama atau penyakit, sehingga risiko tanaman mati lebih tinggi.

"Rentan terhadap perubahan cuaca yang ekstrem serta tanaman tidak optimal dalam penyerapan unsur hara dan fotosintesis, karena daun lebih kecil. Kedua hal tersebut akan menurunkan kualitas dan kuantitas panen, bahkan tanaman mati," ucap Pathmi yang juga mengelola perusahaan perkebunan sayur dan buah, Lyco Farm Ciwidey itu.

TARGET SASARAN PENGEDAR PUPUK PALSU

Ketua Umum Kelompok Tani Nelayan Andalan Jawa Barat (KTNA Jabar) Otong Wiranta, mengungkapkan pengedar pupuk palsu biasanya menyasar petani yang belum teredukasi dengan baik soal produk pupuk. Mereka akan menyasar langsung ke petani di ladang.

"Kalau di tingkat kelompok tani mereka pada mengerti, tapi harus diakui tidak semua petani juga terkoordinir dengan baik. Kadang ada kelompok tani yang aktif, ada juga kelompok tani yang pasif, sehingga banyak anggotanya yang dimanfaatkan oleh oknum," ujar Otong saat dihubungi detikJabar, 11 September 2022.

Berdasarkan laporan yang diterima KTNA Jabar, pengedar pupuk tani akan menyisir ke daerah-daerah pelosok. "Biasanya mereka menyisir petani petani yang menggarap lahan yang luas, area yang besar tapi belum mengerti soal jenis pupuk yang beredar seperti soal SNI dan yang lain-lainnya," katanya.

Ladang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung BaratLadang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Terkait jenis pupuk yang rawan dipalsukan, ujar Otong, sepengetahuannya kasus pemalsuan pupuk nitrogen tunggal seperti urea dan nitrea jarang terjadi. "Tetapi untuk untuk jenis tertentu, seperti fosfat atau NPK ternyata masih banyak yang belum memenuhi kaidah yang dianjurkan pemerintah atau SNI," katanya.

Beredarnya pupuk palsu ini jelas mengancam petani. Selain merongrong kesejahteraan petani, pupuk palsu juga dapat mengancam ketahanan pangan secara umum.

"Dampak dari pupuk palsu ini untuk sayuran saya kira itu akan sangat kelihatan sekali, jadi untuk tanaman hortikultura itu banyak sekali dampaknya dari pemakaian pupuk palsu. Petani padi juga bakal repot, misal pakai pertama tidak kelihatan, tapi nanti hasilnya tidak seperti yang pertama (kualitas padi yang tak diharapkan, red)," kata Otong.

Oleh karena itu, KTNA dengan jaringan hingga ke tingkat desa terus berupaya melakukan penyuluhan terkait pemilihan pupuk dan turun langsung ke jalur distribusi untuk mencapai hasil yang diharapkan petani.

"Kita bekerjasama dengan Komite Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) untuk turut mengawasi dan melaporkan andaikata ada temuan di lapangan," ucap Otong.

WASPADA LEWAT 'SILIH BEJA'

Para petani di Lembang, Bandung Barat memiliki cara tersendiri untuk menangkal beredarnya pupuk atau pestisida palsu. Mereka menerapkan cara "silih beja" atau saling memberitahu satu sama lain kepada petani yang tergabung dalam forum.

"Kami memiliki forum komunikasi petani se-Lembang, jadi bukan hanya soal pupuk, pestisida, tapi juga soal harga dan yang lainnya akan sampai ke petani, kecuali petani yang belum bergabung ke kelompok tani, tapi saya yakin akan "silih beja", insyaallah itu juga akan sampai ke yang lainnya," kata Koordinator Penyuluh Pertanian Lembang W. Darwin saat dihubungi detikJabar.

Darwin mengatakan, sejauh ini, belum ada laporan petani yang menjadi korban pupuk palsu di daerah yang diampunya. Sebab, para penyuluh pertanian menekankan agar petani melaporkan jika ada pupuk, pestisida atau produk pertanian yang mencurigakan baik dari segi harga maupun saat pengaplikasian.

Kegiatan penyuluhan pertanian kepada petani di Lembang, Bandung BaratKegiatan penyuluhan pertanian kepada petani di Lembang, Bandung Barat Foto: istimewa/dok pribadi Darwin

Petani pun dianjurkan untuk membeli pupuk di kios atau penyalur produk pertanian resmi. Sejauh ini di wilayah Lembang terdapat 7 kios yang telah memiliki legalitas untuk mengedarkan pupuk dan pestisida secara resmi.

"Memang seiring dengan berjalannya waktu pupuk bisa dengan mudah masuk ke kios, bahkan langsung ke petani. Tapi di sisi pengawasan kita punya KP3 (Komite Pengawasan Pupuk dan Pestisida) daerah, dari orang kita juga ada penyuluh khusus tentang organisme pengganggu tanaman yang memberikan laporan setiap bulan, sistemnya bisa kontrol ke kios atau kalau ada informasi dari petani sekiranya ada pupuk atau pestisida palsu yang dicurigai, bisa segera ditangani," ujarnya.

Lain halnya dengan di Parongpong, petani di Lembang pernah menemukan kejadian pestisida palsu dengan kemasan mencatut dari produsen asli. Hal itu diketahui dari daun dan tanaman yang kering setelah produk 'aspal' itu digunakan. Laporan itu pun ditindaklanjuti dengan mengonfirmasi langsung kepada produsen pestisida.

"Kita cek ke lapangan, kita langsung kontak dengan perusahaan yang benarnya, yang kita tahu. Itu koordinasi kita selain dengan pemerintahan juga. Karena perusahaan tahu, mana yang palsu atau bukan walau mirip secara fisik, kan bisa diuji lab," katanya.

"Karena peredaran barang palsu itu, membuat perusahaan yang membuat produk dengan benar juga dirugikan. Kita kontak perusahaan yang kita tahu, kita punya grup kelompok tani se-Lembang, kita informasikan, mana yang palsu dan mana yang asli setelah koordinasi dengan semua pihak, jangan sampai produk yang asli juga jadi terbawa jelek juga," ujarnya.

Darwin menjelaskan, selama ini penyuluhan terhadap petani secara rutin terus dilakukan secara berkala, minimal 16 kali pertemuan per bulan.

"Itu metodenya macam-macam, penyuluhan dilakukan baik itu secara individu atau kelompok, ya kita harus terus lakukan ke kelompok tani," katanya.

"Petani di Lembang, Alhamdulillah tidak semua itu kena (pestisida) yang palsu, karena kita juga gencar lakukan penyuluhan," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat (Disperindag Jabar) Iendra Sofyan mengatakan, pemerintah proaktif dalam mencegah peredaran pupuk palsu. Salah satunya adalah dengan membuka layanan aduan masyarakat, dan pengawasan bersama OPD terkait lainnya.

"Berdasarkan arahan dari Dit Bapokting (Bp. Purwandoko) untuk mengantisipasi peredaran pupuk palsu harus diintensifkan pengawasan bersama dengan Distanhor serta membuka aduan masyarakat," ujar Iendra saat dihubungi detikJabar melalui aplikasi perpesanan. Disperindag merupakan bagian dari Komite Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Jawa Barat.

Kegiatan penyuluhan pertanian kepada petani di Lembang, Bandung BaratKegiatan penyuluhan pertanian kepada petani di Lembang, Bandung Barat Foto: istimewa/dok pribadi Darwin

Iendra pun mengharapkan agar petani pun turut berpartisipasi dalam melakukan pengawasan demi mencegah beredarnya pupuk palsu di tingkat akar rumput. Jika ada temuan, ia meminta agar petani pun tak segan melaporkan kepada penyuluh atau dinas terkait.

"Biasanya ada aduan masyarakat jika dicurigai atau ditemukan pupuk palsu di pasaran. Jika hasil penelusuran dan investigasi terbukti ditemukan maka segera melaporkan kepada PPNS atau kepada Kepolisian," kata Iendra.

CARA MEMILIH PRODUK PUPUK ASLI BERKUALITAS

SVP Sekretaris Perusahaan dan Tata Kelola PT Pupuk Kujang Ade Cahya mengatakan, ada beberapa cara untuk memastikan keaslian dari suatu produk pupuk, khususnya Pupuk Kujang. Pertama, ialah dilihat dari kemasan.

"Kemasan yang berada di dalamnya harus ada plastik in line atau plastik pelindung, jika sudah oke, bisa dilihat dari sisi brand-nya. Misalnya kalua pupuk dari kita NPK Phonska, kalau yang meniru atau palsu itu bukan Phonska tapi Phonka huruf 'S'-nya hilang, atau bisa saja Phoska huruf 'N'-nya yang hilang. Itu salah satu yang bisa diperhatikan," ujar Ade seperti disimak detikJabar dalam konferensi pers daring, 1 September 2022.

Selain kemasan, ujar Ade, yang perlu diperhatikan adalah kondisi fisik dari pupuknya. Proses produksi yang dilakukan adalah dengan steam granulation, sehingga pupuk yang dihasilkan bentuknya granule atau berbentuk biji atau butir.

"Kemudian, kalau ingin meneliti lebih jauh harus menggunakan cek kandungannya di laboratorium," kata Ade.

Lebih lanjut, Ade juga menjelaskan Pupuk Kujang juga membuat diferensiasi warna untuk membedakan antara pupuk yang bersubsidi dan non-subsidi. Khusus, untuk pupuk bersubsidi, Pupuk Kujang memberikan warna pink.

Berdasarkan laporan di lapangan, sejumlah oknum pernah ada yang mencoba memalsukan atau menyelewengkan produk pupuk dengan mencatut nama Pupuk Kujang.

"Untuk kuantitatif berapa jumlahnya (kasus pemalsuan) kita akan cek, tapi kita pastikan setelah kita melakukan secara internal, pertama dulu itu pupuk subsidi dan non subsidi itu bentuknya hampir sama, NPK dan urea sehingga menjadi rawan," katanya.

"Kita kasih pewarna untuk lebih mudah diidentifikasi, karena pupuk bersubsidi dan non subsidi ini ada perbedaan harga pupuk, perbedaan harga ini memungkinkan terjadinya morale hazard," kata Ade.

KENAPA HARUS SNI ?

Di samping langkah-langkah memilih pupuk tadi, Ade juga mengimbau agar petani juga memilih pupuk yang bertanda SNI sebagai jaminan kualitas pupuk. Pasalnya, jangan sampai petani terjebak dengan pupuk abal-abal.

"Dengan adanya SNI kami bisa meyakinkan kepada konsumen dan kita juga selalu mensosialisasikan kepada konsumen kalau beli pupuk itu harus sudah berstandar SNI, sehingga membantu konsumen untuk memilih produk yang berkualitas," tuturnya.

Menurut Ade, SNI merupakan salah satu pendukung untuk meningkatkan daya saing produk pupuk perusahaan pelat merah tersebut. Baik untuk kebutuhan di dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri.

"Membantu kita ekspor, kalau kita membawa SNI berarti negara menjamin bahwa produk ini berstandar mutu yang tinggi, dan itu juga membantu kami dalam hal melindungi nilai produk kami di mata internasional," kata Ade. Pihaknya pun melakukan demonstrasi pola tanam (demplot) dengan melibatkan petani untuk melihat secara langsung dampak pupuk yang baik terhadap tanaman.

Tips memilih pupuk yang berkualitasTips memilih pupuk yang berkualitas Foto: istimewa/Pupuk Sriwijaya Palembang

SVP Operasi PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Andri Azmi menjelaskan pentingnya SNI dalam memayungi petani agar tak menjadi korban pupuk palsu.

"Manfaat produk ber-SNI memberikan perlindungan kepada petani atas jaminan kualitas pupuk, karena dengan SNI, prosesnya seperti yang disampaikan terjamin dari awal sampai akhir," ujar Andri dalam konferensi pers virtual, 1 September 2022.

"Membantu petani memilih pupuk yang berkualitas, petani juga dapat memilih produk bersertifikat untuk memastikan formula pupuk tepat yang dijanjikan dan meningkatkan hasil pertanian," tutur Andri menambahkan.

Menurut Andri, pupuk palsu atau illegal terkadang sulit diidentifikasi secara fisik. Hal yang paling menentukan adalah dengan melihat segi komposisi dari pupuk itu sendiri.

"Tentu kita sebagai perusahaan yang menjunjung tinggi SNI kita punya lab yang cukup kompeten dan akan kita lakukan counter check, kalau pupuk urea sudah clear, komposisi utamanya adalah nitrogen ketika nitrogen kurang dari 40% berasal dari urea, tapi komposisi sudah turun karena tercampur dengan impurities yang lain," katanya.

Ia juga menjelaskan, penerapan SNI di Pusri dilakukan dari hulu ke hilir. Artinya SNI dimulai dari proses penerimaan bahan baku, pengolahan dan proses produksi hingga system manajemen penyaluran produk. "Maka ketika bersertifikat SNI maka seharusnya kualitas yang baik itu selalu terjaga, konsisten, karena proses produksinya tidak berubah," ujarnya.

"Setelah ber-SNI tentu harusnya dari sisi komersil meningkat karena ada trust dari konsumen akan bertambah," kata Andri tandas.

PERKUAT KETAHANAN PANGAN DENGAN SNI

Perang yang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina, serta perubahan iklim global dan pandemi COVID-19 menjadi lampu kuning ancaman krisis pangan dunia. Antisipasinya dengan penguatan produksi pertanian nasional.

Sektor pertanian Indonesia saat ini terbukti memiliki ketahanan yang baik. Kementerian Pertanian melaporkan, nilai ekspor pertanian Indonesia antara 2019 dan 2020 meningkat dari Rp309,16 triliun menjadi Rp451,77 triliun atau naik 15,79 persen. Nilai ekspor pertanian Indonesia mencapai Rp 625,94 triliun atau naik 38,68 persen pada 2020-2021.

Dalam keterangan resmi yang diterima detikJabar, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S. Achmad menyatakan bahwa sejalan dengan program peningkatan produktivitas dan kualitas pertanian Indonesia, BSN telah menetapkan 29 Standar Nasional Indonesia (SNI) pupuk.

"Dari 29 SNI pupuk yang telah ditetapkan, 9 SNI diberlakukan secara wajib," ujar Kukuh.

SNI pupuk yang diberlakukan wajib tersebut adalah SNI 2801:2010 Pupuk urea; SNI 2803:2012 Pupuk NPK padat; SNI 02-1760-2005 Pupuk amonium sulfat; SNI 02-0086-2005 Pupuk tripel super fosfat; SNI 02-2805-2005 Pupuk kalium klorida; SNI 02-3769-2005 Pupuk SP-36; SNI 02-3776-2005 Pupuk fosfat alam untuk pertanian; SNI 7763:2018 Pupuk organik padat; SNI 8267:2016 Kitosan cair sebagai pupuk organik - Syarat mutu dan pengolahan.

"Penerapan SNI pupuk akan menjamin kualitas dari produk pupuk yang harapannya dapat memenuhi harapan petani/pengguna," kata Kukuh.

Ladang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung BaratLadang sayuran dan proses pemupukan di Cigugur Girang, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Saat ini untuk 2 jenis pupuk yang disubsidi pemerintah adalah pupuk urea dan pupuk NPK. Berdasarkan SNI 2801:2010 Pupuk urea, yang dimaksud pupuk urea dalam SNI adalah pupuk buatan yang merupakan pupuk tunggal, mengandung unsur hara utama nitrogen, berbentuk butiran (prill) atau gelintiran dengan rumus kimia CO(NH2)2.

GERAK PENEGAK HUKUM SETOP PEREDARAN PUPUK PALSU

Deputi Pengembangan Standar BSN Hendro Kusumo mengatakan, SNI juga menjadi acuan bagi produsen dan pengguna pupuk, yakni petani. Dengan tanda SNI, ujar Hendro, masyarakat bisa mendapatkan produk mana yang telah memenuhi persyaratan mutu dan bisa diandalkan.

"Itu juga menjadi pegangan para penegak untuk untuk pengawasan pasar, manakala ada barang yang beredar yang mesti diterapkan SNI wajib. Itu menjadi acuan untuk pengawasan di lapangan," kata Hendro seperti disimak detikJabar dalam konferensi pers virtual, 1 September 2022.

Pihak kepolisian pun selama ini gencar melakukan penggerebekan pupuk palsu di sejumlah lokasi di Indonesia. Salah satunya di pabrik pupuk NPK dan SP36 palsu di Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, 31 Oktober 2017.

Pabrik tersebut memproduksi pupuk dengan bahan dasar kapur, pewarna dan garam. Petugas kepolisian menyatakan, pabrik tersebut kerap meniru kemasan karung pupuk asli.

Bareskrim bongkar gudang dan pabrik pupuk palsu di cianjur jawa baratBareskrim bongkar gudang dan pabrik pupuk palsu di cianjur jawa barat Foto: Dokumen Istimewa

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan Jayamarta mengatakan, dalam satu hari pabrik tersebut bisa memproduksi 4 ton pupuk palsu. Saat diamankan, polisi mengamankan 110 ton, yang terdiri dari 20 ton siap dikirim ke Lampung dan Sumatera, 30 ton di dalam pabrik sudah bercapkan merek pupuk sama asli, dan sisanya bahan baku pupuk 50 ton.

"Satu karungnya dijual Rp 60 ribu ke pengecer, omzetnya mencapai ratusan juta," ujar Adi.

Pada 4 April 2017, Mabes Polri pun menggeledah empat pabrik yang diduga memproduksi pupuk palsu dan menemukan 13 gudang penyimpanan pupuk tersebut. Dari hasil operasi, polisi menyita 615 ton pupuk palsu dari sindikat tersebut.

"Pabrik dan gudang ditemukan di beberapa daerah di Jawa Barat, yaitu Sukabumi, Padalarang, Bandung Barat, dan Cianjur. Kemudian saksi sudah diperiksa dan telah ditetapkan 10 tersangka," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigadir Jenderal Agung Setya kala itu, 6 April 2017.

Pupuk tersebut diketahui terbuat dari kapur dan dolomit serta pewarna pakaian. Kandungan NPK-nya pun hampir tidak ada alias nol.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 60 ayat 1 jo Pasal 37 ayat 1 UU No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman dan atau Pasal 113 jo Pasal 57 ayat 2 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan atau Pasal 62 ayat 1 jo Pasal 8 ayat 1 (e) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Ibrahim Tompo kepada detikJabar pada Kamis (15/9) mengatakan, kepolisian pun akan turut memberikan perlindungan kepada petani dengan mengawasi penyimpangan hukum dalam peredaran pupuk. Bahkan, oknum pengedar pupuk palsu di antaranya telah diseret ke meja hijau.

"Beberapa kasus sudah pernah diproses hukum dan kita tetap mengawasi penyimpangan terhadap tindak pidana yang ada," ujar Ibrahim menegaskan.

(yum/bbn)