Tangkal Stunting Lewat Aksi Budikdamber

Yudha Maulana - detikJabar
Selasa, 06 Sep 2022 08:05 WIB
Ina Umar Usman (55) memberi pakan lele budikdamber
Ina Umar Usman (55) memberi pakan lele budikdamber (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)
Bandung -

Riak air muncul dari hempasan puluhan ekor ikan lele (Clarias gariepinus var) yang tengah berebut pakan di dalam ember. Terlihat lele-lele itu lahap memakan tiap butir pakan yang meluncur dari tangan Ina Umar Usman (55), warga Babakan Priangan, RW 01, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Regol, Kota Bandung.

Selesai memberi makan lele yang bermukim di satu ember, Ina beralih ke ember-ember lainnya tempat lele menanti makan sore. Dibukanya penutup ember dengan hati-hati, lalu pakan ditebar yang langsung disantap dengan lahap oleh kumpulan ikan berkumis itu.

Membudidaya ikan lele dengan metode budikdamber ini telah digeluti Ina bersama ibu-ibu PKK dari RW 01 Ciseureuh selama dua tahun terakhir. Budikdamber merupakan bagian dari Buruan SAE yang dicanangkan Pemkot Bandung, program itu merupakan ikhtiar merawat ketahanan pangan keluarga sekaligus melawan gagal tumbuh pada anak (stunting) dengan konsep dari warga untuk warga.


Ikan lele yang dibudidaya warga RW 01 Ciseureuh dalam media budikdamberIkan lele yang dibudidaya warga RW 01 Ciseureuh dalam media budikdamber (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)

Budikdamber sendiri merupakan kependekan dari budi daya ikan dalam ember. Sesuai namanya, ikan lele dibudidayakan dalam medium ember. Ember yang digunakan biasanya berukuran 80 liter, satu ember berisi 100 ekor benih lele berukuran tiga buku jari.

Selain membudidayakan lele, warga juga menanam sayur mayur seperti kangkung, sawi putih hingga pakcoy pada lubang di bagian penutup ember budikdamber. Akar dari sayuran nantinya menyerap langsung nutrisi dari air budidaya lele.

Metode budidaya yang ditemukan dosen budidaya perikanan dari Politeknik Negeri Lampung, Juli Nursandi ini tak memerlukan lahan yang luas. Secara ruang, metode ini sangat cocok untuk diaplikasikan di wilayah perkotaan dengan lahan yang terbatas.

Buktinya di RW 01 Ciseureuh, belasan budikdamber mejeng berjejer di ruas gang selebar kurang lebih dua meter tanpa mengganggu akses warga yang lalu lalang. Tiap-tiap ember, diberi nama warga yang membudidayakan lele.

Dilansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan lele merupakan spesies ikan yang tangguh karena bisa hidup dalam air dengan kandungan oksigen rendah. Sehingga, budidaya lele dalam ember ini memungkinkan tanpa pemasangan filter dan regulator udara.

Walau demikian, mengganti air di dalam budikdamber secara berkala merupakan hal mutlak yang perlu dilakukan. Ina mengatakan, dalam pengelolaan budikdamber ia menerapkan konsep zero waste, sehingga air bekas lele digunakan untuk menyiram sayur mayur lainnya yang ditanam di Buruan SAE.

"Budikdamber ini cukup lengkap sekali ya, karena selain ada protein hewani dari lele, juga kita bisa sekaligus memanen sayur-sayuran kaya nutrisi. Air dari bekas lele, biasa saya gunakan untuk menyiram sayuran lain non-budikdamber per dua hari sekali, jadi saya ambil dua gayung, nah saya isi lagi juga air bersih dua gayung misalnya," tutur Ina kepada detikJabar belum lama ini.

Budikdamber milik warga RW 01 Cisereuh berjejer di dalam gangBudikdamber milik warga RW 01 Cisereuh berjejer di dalam gang (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)

Pembudidaya juga mesti getol menyortir ikan lele di dalam budikdamber, demi mengontrol perkembangan lele dan takaran pakan yang diberikan.

"Ukurannya berbeda-beda mungkin karena di dalam ember. Jadi dipisahkan, ada yang kecil dan yang besar. Kalau tidak dipisahkan, soalnya ikan lele ini bisa memakan sesamanya," kata Ina.

Panen Budikdamber dari Warga untuk Warga

Ina mengatakan, rata-rata lele baru bisa dipanen dalam rentang waktu tiga bulan sampai lele mencapai 12-15 centimeter atau seukuran lele di warung pecel. Dengan perhitungan tertentu, termasuk menambah ember, panen lele bisa dilakukan rutin satu bulan sekali.

"Sekali panen bisa dua kilogram atau tiga kilogram, satu kilogramnya itu bisa sembilan atau sepuluh ekor lele," kata Ina kepada detikJabar belum lama ini.

Lele dan sayuran dari budikdamber ini, ujar Ina, bisa dikonsumsi oleh warga pembudidaya. Namun, budidakmber yang dikelola oleh ibu PKK disalurkan kepada ibu hamil dan anak-anak. Sementara sisa panen dijual untuk memutar modal lagi untuk menjaga keberlangsungan budidaya.

"Kalau lele kita berikan yang sudah matang, karena tak semua bisa mengolah lele kan ya. Sayuran diberikan yang mentahnya, kita memiliki posyandu untuk pendataan, selain dari sini (budikdamber dan buruan SAE), bila ada vitamin dan sebagainya kita juga salurkan kepada ibu hamil dan anak-anak," tuturnya.

"Awalnya benih lele diberikan oleh pemerintah, tetapi sekarang berjalan sendiri. Benihnya dari hasil jualan dari buruan SAE, swadaya dari warga juga, karena kan ada yang dibagikan juga kepada warga, saya juga beli benih lele kemarin," ujar Ina menambahkan.

Warga RW 04 Cihaurgeulis, H Sumadi berbudikdamber di pekarangan rumahnyaWarga RW 04 Cihaurgeulis, H Sumadi berbudikdamber di pekarangan rumahnya (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)

Di tempat lainnya, salah seorang pembudidaya budikdamber dari kelompok Buruan An-Nur RW 04 Cihaurgeulis, H Sumadi berhasil memanen 22 kilogram lele dari 10 ember budikdamber. Awalnya, Sumadi membudidayakan tiga kilogram benih lele seukuran jempol di pekarangan rumahnya.

Ia menyebut, butuh waktu hingga tiga bulan untuk memanen hingga semua lele berukuran 12 centimeter. Tetapi, di dalam prosesnya lele yang masih dalam masa pembudidayaan pun masih bisa dikonsumsi.

"Lagi pula lele tidak panen bareng semua, tapi ada tahapan misal pertama yang diinginkan bisa lah diambil, sisanya ya ditinggal (tetap di-budikdamber)," katanya.

Sumadi menyebut ia menggunakan benih lele jenis Sangkuriang, karena varietas silang tersebut pertumbuhannya 29,26% lebih tinggi dari lele dumbo biasa yang hanya 20,38% pada rentang usia 5-26 hari.

Budikdamber di pekarangan yang dilakukan warga RW 04 Cihaurgeulis, H SumadiLele dari budikdamber di pekarangan yang dilakukan warga RW 04 Cihaurgeulis, H Sumadi (Foto: Yudha Maulana/detikJabar)

Sumadi ber-budikdamber diselingi dengan bercocok tanam kangkung, yang hasilnya bisa dipanen setiap tiga pekan sekali. "Satu pekan untuk menyemai, dan tiga pekan lagi untuk memanen kangkung," tutur Sumadi sambil memperlihatkan proses penyemaian.

"Yang penting terus dilakukan, jangan sampai emberna nangkub (jangan sampai embernya terbalik atau berhenti budikdamber, red)," tuturnya.

Ketua RW 04 Cihaurgeulis, Tita Juwita mengatakan, sejauh ini pelaksanaan budikdamber dan Buruan SAE di wilayahnya melibatkan warga dan juga jemaah masjid An-Nur. Ada juga warganya, yang secara mandiri melakukan budikdamber di halaman rumah.

Ia menuturkan, hasil panen dari Buruan SAE pun dikonsumsi oleh warganya, khususnya ibu hamil dan balita. Rencananya, budikdamber di Cihaurgeulis akan dikelola oleh Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Masjid An-Nur.

"Jangan sampai ada anak yang stunting. Kita gerakan juga PKK, misal ada laporan gizi buruk tapi bukan di RW kita, nanti ada kunjungan dari Kesos, nanti juga diberikan ikan dari sini, ya kita suka menawarkan," ujarnya.

Ia berharap ke depannya, budikdamber dan Buruan SAE ini dilirik oleh para pemuda sebagai bentuk regenerasi menjaga ketahanan pangan. "Ya kita ada karang taruna, tapi karena kesibukan karena menikah atau kuliah, jadinya dikerjakan oleh kami-kami ini, saya berharap sih pemuda juga turut membantu," kata Tita.

Yusnia (27), ibu rumah tangga, meyakini mengonsumi lele dan jenis ikan lainnya memberikan dampak yang baik tumbuh kembang buah hatinya. Ibu beranak tiga itu gemar menyantap lele baik saat mengandung hingga menyusui buah hatinya.

"Lele murah dan mudah didapatkan, tekstur daging lele itu lembut tidak seperti daging lainnya yang agak keras," ujar Yusnia kepada detikJabar.

Ia pun kerap memberikan keluarganya hidangan dari lele. "Ya anak-anak saya juga suka, alhamdulillah mereka sehat, sebenarnya tak hanya lele, semua ikan juga memiliki nutrisi yang baik," katanya.

Lele Jadi Senjata Lawan Stunting

Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Bandung pada 2021, terdapat 7.568 balita yang teridentifikasi mengalami stunting. Angka tersebut menurun 2,40% dari dua tahun sebelumnya yakni 9.567 balita.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang lama. Pemkot Bandung pun menetapkan ada 15 lokus stunting di Kota Bandung, yang mendapatkan sorotan lebih karena jumlah stuntingnya lebih banyak dari kelurahan lainnya.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung (DKPP Kota Bandung) melaporkan saat ini budikdamber tersebar di 335 kelompok Buruan SAE. Ikan lele dijadikan salah satu tombak untuk menurunkan angka stunting tersebut.

"Ikan lele dimanfaatkan oleh kelompok atau PKK untuk diolah atau diberikan langsung kepada keluarga stunting yang ada di wilayahnya, dengan pengawasan dari puskesmas setempat dan kewilayahan," ujar Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar kepada detikJabar belum lama ini.

Kabid Perikanan DKPP Kota Bandung Darmadji mengatakan, hasil dari budidaya pada budikdamber juga digunakan untuk pelatihan olahan hasil perikanan. Saat ini, penetrasi ke 15 kelurahan prioritas stunting dilakukan dengan membagikan ikan lele yang siap dimasak dan tebar benih.

"Sebetulnya budikdamber itu kita tujukan untuk kecukupan gizi keluarga dan budikdamber saya kira tidak bisa untuk bisnis, karena skalanya kecil. Jadi kalau kita hitung BEP-nya tidak akan kekejar, tapi keunggulannya budikdamber itu tidak butuh lahan yang luas, di teras halaman rumah, di rooftop juga bisa. Kalau kolam kan harus punya lahan, sumber air dan sebagainya," ucap Darmadji kepada detikJabar.

Darmadji menyebut lele menjadi salah satu andalan untuk menyuplai protein hewani karena daya tahannya yang kuat sehingga bisa dibudidayakan di dalam ember. Menurutnya, dengan perawatan dan pakan yang tepat, lele seukuran 9-12 centimer bisa dipanen dalam waktu satu hingga 1,5 bulan.

"Itu ukuran satu kilogram, itu isinya delapan sampai 10 ekor," ujar Darmaji.

Nutrisi pada Lele

Ajakan untuk mengonsumsi lele untuk melawan stunting ini juga diserukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pasalnya, lele selain murah dan mudah ditemui komoditas air tawar ini juga memiliki gizi yang tinggi yang multimanfaat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dalam 100 gram ikan lele mengandung protein (18 gr), lemak (2,9 gr), Natrium (50 mg), Vit. B12 (121% dari Nilai Harian), Selenium (26% dari Nilai Harian), Fosfor (24% dari Nilai Harian), dan Tiamin (15% dari Nilai Harian).

"Harganya murah tapi tinggi gizi, jadi tidak perlu gengsi makan lele karena ini ikan yang menyehatkan," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Artati Widiarti melalui keterangan tertulisnya, Selasa (7/6/2022).

DKPP Kota Bandung memberikan pelatihan pengolahan  lele budikdamber kepada kader PKK. Ikan olahan tersebut akandisalurkan kepada warga di lokus stunting Kota BandungDKPP Kota Bandung memberikan pelatihan pengolahan lele budikdamber kepada kader PKK. Ikan olahan tersebut akan disalurkan kepada warga di lokus stunting Kota Bandung Foto: istimewa (DKPP Kota Bandung)

Artati mengungkapkan masyarakat di Jawa Timur, khususnya Mojokerto dan Madiun, memiliki preferensi yang tinggi dalam mengonsumsi ikan lele. Hasilnya, Kota Mojokerto sudah berhasil menurunkan angka stunting menjadi sebesar 6,9% berdasarkan hasil riset kesehatan daerah 2021. Sama halnya Madiun yang berhasil menurunkan angka stunting menjadi sebesar 12,4%.

"Dalam rangka menjaga tren ini, kita ingatkan dan terus mengajak masyarakat untuk bangga mengonsumsi ikan lele," katanya.

Butuh Kerjasama Semua Pihak

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung (Kadinkes Bandung) penanganan stunting di Kota Bandung terus ditekan lewat penanganan pada 1.000 hari pertama kehidupan.

"Zero stunting bisa, hanya saja untuk kasus baru. Kami terus tekan lewat 1.000 hari pertama kehidupan, " kata Ahyani dalam diskusi bersama Forum Diskusi Pewarta Bandung (FDWB) di Bandung, 4 Juli 2022.

Ahyani menyebut, pemicu dari stunting tak hanya dari makanan semata. Tetapi ada, sejumlah faktor lain semisal anggota keluarga yang merokok, sanitasi yang buruk, faktor kesehatan jiwa pada ibu yang mengandung dan yang lainnya.

Oleh sebab itu, ujar Ahyani, penangan stunting tak hanya dari satu dimensi semata. Perlu penanganan multi sektoral yang melibatkan semua pihak termasuk swasta.

"Ini memerlukan kerjasama semua sektor," ujarnya.

Mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2017, total konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia hanya delapan persen. Padahal, mengonsumsi protein hewani merupakan salah satu upaya pencegahan stunting.

PT Japfa Comfeed Indonesia (Tbk) JAPFA, merupakan pihak swasta yang turut ambil bagian dalam penanganan stunting di Indonesia. Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya mengatakan, JAPFA menjamin produk hewani berkualitas dengan harga terjangkau dengan konsep ASUH.

Konsep ASUH yang dimaksud Indra, yakni Aman, Sehat, Utuh dan Halal. JAPFA juga memperhatikan penerapan standard operating procedure (SOP) yang ketat dengan dukungan tenaga lapangan profesional.

"Kami berharap, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi protein hewani demi masyarakat generasi unggul Indonesia di masa mendatang," tutur Indra dalam siniar edukasi media bertajuk "Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting" yang disiarkan Rabu, 3 Agustus 2022.

Pemberian pakan yang tepat pada lele budikdamber mempercepat proses pembesaran ikan lelePemberian pakan yang tepat pada lele budikdamber mempercepat proses pembesaran ikan lele Foto: Yudha Maulana/detikJabar

Ahli kejiwaan dari RS Limijati Bandung, dr Elvine Gunawan SpKj mengatakan peran orang tua dalam menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman secara psikologis bagi anak juga penting untuk menekan angka stunting.

Ia mengutip hasil penelitian di Kota Semarang, ditemukan 46 ribu anak yang terdeteksi stunting ternyata dipengaruhi kesehatan jiwa orang tua. Misalnya ketika orang tua mengonsumsi alkohol atau zat berisiko lainnya, seks bebas termasuk hal spiritualnya.

Ketika seorang ibu mengalami stres maka berisiko pada 33 persen anak kemungkinan mengalami stunting ringan. Jika yang stres itu ayahnya, maka tingkat kemungkinan tersebut naik menjadi 37 persen. Sedangkan bila keduanya stres, kemungkinan anak stunting mencapai 40 persen.

"Kondisi jiwa yang sehat akan berdampak pada pola asuh anak yang sehat juga. Ketika kedua orang tua tidak stabil maka itu akan memengaruhi tumbuh kembang anak." kata Elvine.

(yum/bbn)