Angka Kematian Akibat DBD di Jabar Tembus 241 Kasus Sepanjang 2022

Data Jabar

Angka Kematian Akibat DBD di Jabar Tembus 241 Kasus Sepanjang 2022

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 15 Sep 2022 08:43 WIB
Nyamuk demam berdarah.
Ilustrasi nyamuk demam berdarah (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mencatat angka demam berdarah atau DBD di Jabar mencapai 27.010 kasus dari Januari-Agustus 2022. Dari data tersebut, dilaporkan sebanyak 241 kematian terjadi akibat DBD di Jawa Barat.

Data itu dilaporkan Dinkes Jabar per tanggal 13 September 2022. Angka DBD ini dinyatakan paling tertinggi sejak dua tahun lalu dengan rincian 22.613 kasus pada 2020 dan 21.857 kasus pada tahun lalu di 2021.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jabar Ryan Bayusantika Ristandi mengatakan, angka kasus DBD ini diprediksi akan terus meningkat. Penyebabnya karena saat ini wilayah di Jawa Barat telah masuk musim penghujan.


"Kemungkinan tetap ada (penambahan jumlah kasus DBD), terutama kalau masih ada yang lalai tidak waspada terhadap adanya sarang nyamuk. Seperti tidak memperhatikan kebersihan situasi tempat tinggal atau tempat beraktivitas," kata Ryan kepada wartawan, Kamis (15/9/2022).

Dari data tersebut, ada 5 wilayah di Jawa Barat tertinggi dengan penyebaran DBD. Di antaranya Kota Bandung dengan 4.196 kasus, Kabupaten Bandung 2.777 kasus, Kota Bekasi 2.059 kasus, Kabupaten Sumedang 1.647 kasus dan Kota Tasikmalaya 1.540 kasus.

Sementara, ada 6 wilayah yang juga tertinggi angka kematian atas kasus DBD di Jawa Barat. Di antaranya Kabupaten Bandung dengan 37 kasus kematian, Kota Tasikmalaya 23 kematian, Kabupaten Sumedang 15 kematian, Kota Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kota Sukabumi dengan masing-masing 13 kasus kematian.

Ryan pun meminta masyarakat untuk terus waspada dengan intensitas hujan yang makin meningkat di Jawa Barat. Upaya 3M dengan sebagai pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menurutnya, harus lebih digiatkan lagi oleh masyarakat di kondisi sekarang.

"Jadi untuk langkah kesiapsiagaan itu dimulai dengan gerakan satu rumah satu jumantik (girij) dengan melibatkan anggota keluarga. Keluarga harus berperan sebagai juru pemantau jentik di rumah masing-masing," ungkapnya.

"Plus untuk mencegah gigitan nyamuk, pasang kasa nyamuk pada ventilasi. Kemudian menggunakan cairan anti nyamuk baik oles maupun semprot, memberantas jentik dengan larvasida dan menanam tanaman pengusir nyamuk di rumah," katanya menambahkan.

Kasus DBD ini pun mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kang Emil, sapaan akrabnya, mengatakan DBD perlu menjadi atensi selain pandemi COVID-19 yang sudah 2 tahun melanda wilayah di Jawa Barat.

"Iyah, kita ini kemarin beritanya habis sama COVID, DBD sekarang jadi atensi. Tingkat fatalitasnya selalu fluktuatif, sehingga kita imbau kepada masyarakat yang butuh fogging bisa lapor ke kami. Nanti kami ada gerakan memfogging ke wilayah-wilayah yang diduga punya tingkat DBD cukup tinggi," ujarnya.

(ral/iqk)