Kata Pakar soal Ratusan Mahasiswa Bandung Terinfeksi HIV

Kata Pakar soal Ratusan Mahasiswa Bandung Terinfeksi HIV

Tim detikHealth - detikJabar
Rabu, 31 Agu 2022 20:00 WIB
Laboratory Request, Hiv Test, Hiv Positive
Ilustrasi HIV. (Foto: iStock)
Jakarta -

Jumlah mahasiswa Bandung yang terinfeksi HIV/AIDS menyita perhatian publik. Sebab jumlahnya lebih dari 400 orang hingga 2021.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi (Kanker) dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban buka suara soal laporan data tersebut.

Dikutip dari detikHealth, sebagai pakar yang pertama kali menemukan kasus HIV di Indonesia pada 1980-an, Prof Zubairi menyebut mahasiswa memang termasuk kelompok yang mudah terpapar. Sebab rentang usia remaja hingga dewasa muda dikaitkan dengan banyaknya perilaku seks berisiko hingga penggunaan narkotika.


"Kenapa? Karena waktu kita muda dulu kan selalu ingin mencoba-coba yang baru. Jadi perilaku remaja uang ingin mencoba narkotika dan dengar-dengar atau terpengaruh mengenai hubungan seksual," terang Prof Zubairi saat ditemui Gedung Dr R Soeharto, Kantor PB IDI, Jakarta Pusat, Selasa (30/9/2022).

Selain itu, ada juga penyebab lain yang membuat mereka rentan terpapar HIV. Salah satu yang terkuat adalah faktor ekonomi yang berujung terjun ke dunia prostitusi.

"Kemudian ada sekali masalah ekonomi, banyak remaja yang berasal dari keluarga kurang beruntung yang memerlukan banget dukungan ekonomi. Itu yang kemudian timbulnya adalah prostitusi anak," lanjut dia.

Meski begitu, temuan 400-an mahasiswa terinfeksi HIV di Bandung itu menurutnya tidak menandakan perlunya perhatian tinggi kepada kelompok tersebut. Terlebih, jika obat dikonsumsi secara teratur serta aktivitas keseharian pasien bisa berjalan seperti biasa dan tetap produktif.

"Mahasiswa adalah kelompok 18-25 tahun itu memang kebetulan termasuk kelompok yang lebih mudah terkena HIV. Tapi tolong diingat seolah-olah gawat banget, nggak," bebernya.

Prof Zubairi mengatakan saat ini banyak pasien HIV yang berobat dengan baik. Sehingga, mereka bisa tetap hidup produktif di tengah usia keemasannya.

"Sekarang ini pasien yang berobat dengan baik dan teratur, dan tidak putus obat itu terkontrol baik, cukup banyak yang hidup produktif aktif di atas 20 tahun, ada beberapa yang di atas 25 tahun, ada 1-2 yang tetap hidup sehat setelah konsumsi obat setelah 28 tahun," pungkasnya.

(orb/orb)