Jurit Malam: Lorong Kesunyian di Balik Kemegahan Gedung Sate

Sudirman Wamad - detikJabar
Kamis, 18 Agu 2022 21:01 WIB
Gedung Sate Bandung
Foto: Gedung Sate Bandung (Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Angin malam menembus celah bangunan tua bergaya Renaissance yang menjadi ikon Jawa Barat (Jabar). Dingin menyapa di tengah gagahnya Gedung Sate.

Suasananya sepi, seperti tak ada kehidupan saat malam hari. Gedung Sate memang sibuk saat pagi hingga sore hari. Jurnalis detikJabar mencoba menyusuri Gedung Sate kala malam hari. Menggali sejarah di gedung tua dengan suasana yang tak biasa.

Jurnalis detikJabar kompak tak mengenakan jaket saat menyusuri setiap ruangan Gedung Sate. Tujuannya, menjajal sensasi angin malam dan suhu di ruangan gedung. Masuk melalui pintu utama di depan gedung. Ada penjaga yang bersiaga. Lampu gedung dibiarkan menyala.


Setelah masuk lewat pintu depan, ada dua tangga, pertama mengarah ke ruang utama atau aula. Dan, kedua adalah menuju ruangan bawah atau lorong menuju museum dan pintu keluar di belakang gedung.Penyusuran dimulai dari ruang tengah, aula timur dan barat.

Gedung Sate BandungPintu menuju ruang kerja Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Sate Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar).

Tak ada suara apapun yang didengar kala menulusuri setiap ruangan, termasuk di aula timur dan barat bangunan yang diarsiteki Ir. J. Gerber ini. Hanya kesunyian yang terasa.

Ruangannya tak begitu gelap, sebab sejumlah lampu menyala. Cerita-cerita horor di gedung tua ini seakan sirna karena lampu yang menyala. Kendati demikian, arsitek dan ornamen gedung yang usianya sudah seabad ini tetap memberikan kesan horor.

Setelah merasakan sensasi berkeliling di aula dan ruangan utama, tempat di mana foto Gubernur Jabar dari masa ke masa dipajang di dinding, tim detikJabar bergeser menuju ke lorong bawah.

Gedung Sate BandungArea dalam Gedung Sate Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar)

Foto-foto kegiatan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar terpajang di dinding lorong menuju museum ataupun pintu keluar. Tepat di area menuju pintu keluar yang bisa mengarah langsung ke kantin Gedung Sate, suasananya lebih gelap dibandingkan yang lainnya. Pagar besi warna hijau dengan desain kuno menambah kesan berbeda. Setelah berhenti sebentar, dan merasakan angin yang masuk dari cela-cela pagar, tim bergeser kembali.

Lampu di lorong bawah menyala. Tapi, tak ada seorang pun. Sepanjang lorong mata akan dimanjakan dengan foto kegiatan gubernur dan wakil gubernur. Hanya kesunyian yang dirasa. Begitu pun dengan lorong yang menuju museum atau kafe di Gedung Sate.

Catatan, penelusuran malam hari di Gedung Sate ini tentunya mendapatkan izin dari petugas keamanan setempat. Salah seorang petugas juga menyebut, suasana malam Gedung Sate berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, kini Gedung Sate dipasang beberapa lampu hias. Kesan seram perlahan terkikis. Kendati demikian, tetap tak melunturkan kisah horor yang ada.

Sekadar diketahui, Gedung Sate memiliki nilai historis pada masa perang kemerdekaan. Pada tanggal 3 Desember 1945, sebanyak tujuh orang pemuda gugur melawan lawannya yaitu Pasukan Gurkha yang datang menyerang.

[Gambas:Instagram]

Gedung Sate dibangun pada 27 Juli 1920 oleh Nona Johanna Catherina Coops putri sulung Walikota Bandung B. Coops yang didampingi Nona Petronella Roeslofsen, putri sulung Wali Kota Bandung B. Coops yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.

Pada awal tahun 1924 Gedung Hoofdbureau PTT rampung dikerjakan, disusul dengan selesai dibangunnya Induk Gedung Sate dan Perpustakaan Tehnik yang paling lengkap di Asia Tenggara, pada bulan September 1942.

(sud/mso)