Kota Bandung

Jurit Malam: Menengok Patung Pastor Verbraak yang Konon Bisa Gerak

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 11 Agu 2022 21:20 WIB
Patung Pastor Verbraak di Taman Maluku, Kota Bandung.
Foto: Patung Pastor Verbraak di Taman Maluku, Kota Bandung (Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Taman Maluku, sebuah ruang publik yang berada di Jalan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung menyimpan sebuah cerita urban legend. Cerita itu terkait dengan keberadaan patung Pastor Verbraak.

Patung Pastor Verbraak berdiri kokoh di sisi utara Taman Maluku. Sepintas patung ini tidak ada yang berbeda dengan patung pada umumnya. Namun, warga yang sering datang ke Taman Maluku mengaku sering menemukan hal tak biasa pada patung itu.

Agung Taufik (22) misalnya. Pria asal Garut yang bekerja di sebuah kantor tak jauh dari Taman Maluku mengungkapkan beberapa kali mengalami kejadian tak biasa saat melihat patung Pastor Verbraak. Kata dia patung tersebut bisa bergerak sendiri.


"Kalau malem begitu kaya gerak gitu patungnya. Tapi sekilas, perasaan aja gitu kaya gerak. Karena kan saya di sini dekat sini tidurnya jadi suka kelihatan," kata Agung saat berbincang dengan detikJabar di dekat patung Pastor Verbraak.

Agung sendiri tidak tahu persis soal sejarah patung itu. Namun memang menurutnya banyak orang yang mengatakan patung itu angker.

"Iya memang banyak yang bilang begitu. Tapi kalau pas saya di deket (patung) mah biasa aja nggak ada apa-apa. Kaya sekarang ini kan duduk di bawah patung biasa aja," ujarnya.

Banyak yang percaya jika Pastor Verbraak itu tewas dalam kecelakaan pesawat dan jasadnya dikuburkan di bawah monumen patung tersebut. Konon, mata patung setinggi 4 meter itu akan mengikuti siapa saja yang berjalan di dekatnya, terutama di malam hari.

Taman Maluku Bandung.Taman Maluku Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar).

Kisah lain yang tak kalah seram, patung tersebut juga sering mengangguk-angguk tiap kali lonceng katedral berdentang. Halaman buku yang dipegang patung akan berubah setiap harinya.

Yang lebih mistis, patung pastor tersebut akan bergerak turun dan berjalan-jalan di gelapnya Taman Maluku saat malam hari.

Berdasarkan artikel yang pernah ditulis detikcom pada 19 Februari 2020 lalu, cerita jasad pastor yang dikubur di bawah patung tak berdasar. Pasalnya, pastor yang memiliki nama lengkap Hendricus Christiian Verbraak itu tak pernah sekalipun menginjak Kota Bandung.

Ariyono Wahyu W, pegiat Komunitas Aleut menceritakan asal muasal patung tersebut. Verbraak merupakan pria berkebangsaan Belanda yang lahir pada 28 Maret 1835. Verbraak mengawali kariernya sebagai pedagang, lalu beralih profesi menjadi seorang pastor yang ditugaskan ke Padang, pada 1872.

"Baru pada 1874, ia dikirimkan ke Aceh dan menjalankan pelayanan hingga 1907, tahun itu tertulis dalam monumennya," kata Ariyono.

Tak hanya memberikan hiburan dan siraman rohani kepada para prajurit di medan perang, Verbraak juga dikenal sangat perhatian kepada anak-anak di panti asuhan. Ia mencarikan orang tua angkat bagi anak-anak tak terurus itu.

Kepedulian pastor Verbraak kepada anak-anak ini membuatnya dicintai semua orang.
"Saking disayangnya, Verbraak mendapatkan penyambutan khusus bila berkunjung ke satu tempat, ia dikawal oleh seorang sersan," ujar Ariyono.

Menariknya, patung penghargaan bagi Verbraak juga sempat ada di Aceh, tepatnya di Simpang Pante Pirak dan Peunayong atau Simpang Lima. Kini, patung itu sudah tidak ada lagi.

Tahun 1907, Verbraak memutuskan untuk pensiun. Penglihatannya yang memburuk akibat usia, menjadi salah satu alasan peraih penghargaan Ridder in de Orde van den Nederlandsche Leeuw (Ksatria dalam orde Singa Belanda).

"Setelah pensiun Verbraak bermukim di Magelang, kota militer di Jawa Tengah, ia meninggal saat berusia 83 tahun," kata Ariyono.

Pemerintah Kota Rotterdam pada tahun 1922 memberikan penghargaan untuk Pastor Verbraak sebagai warga kota teladan. Gagasan untuk mengenang jasa Verbraak pun tercetus oleh Dutch East Indian Army.

Mereka mengumpulkan dana dan mendirikan patung Verbraak karya seniman G.J.W Rueb di Moulukken Park (Taman Maluku) pada 27 Januari 1922.

"Jadi mitos ada jenazah dan patung bisa bergerak itu nggak benar," kata Ariyono menegaskan.

(bba/mso)