KPA: Banyak Penderita HIV/AIDS di Bandung Belum Terdata

Wisma Putra - detikJabar
Kamis, 11 Agu 2022 14:26 WIB
doctors hands holding red aids ribbon and  blood sample for hiv test. world aids day concepts.
Ilustrasi HIV/AIDS (Foto: Thinkstock/Utah778)
Bandung -

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung mencatat hingga Desember 2021, estimasi penderita HIV/AIDS di Kota Bandung sekitar 10 ribu orang, namun baru setengah yang menjalani pengobatan.

"Kondisi HIV/AIDS di Kota Bandung sampai Desember 2021 ada sekitar 5.843 kasus positif, itu dari estimasi sekitar 10-11 ribuan, kita masih punya PR sekitar 5-6 ribu yang harus kita cari," kata Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung Sis Silvia Dewi kepada detikJabar disela acara Diskusi Indonesia AIDS Coalition (IAC) di Bandung, Kamis (11/8/2022).

Selain itu masalah lain banyak dari orang dengan HIV/AIDS berhenti berobat di tengah jalan. "Mereka enggak minuman obat lagi, enggak tahu kenapa, mungkin karena bosan atau apa, sehingga memutuskan lost to follow up," katanya.


"Itu jadi PR, sedangkan target 2030 itu seharusnya jangan sampai ada kasus baru HIV AIDS, jangan ada kematian dan jangan sampai ada stigma diskriminasi," tambah Sis.

Dilihat dari faktor resiko penularan, heteroseksual masih menjadi yang terbanyak. Sisanya karena jarum suntik dan penularan ke anak.

"Heteroseksual antara laki-laki dan perempuan mencapai 39,52 persen, hampir 40 persen. Setelah itu ada penggunaan narkoba suntik 30 persen, ternyata masih ada orang-orang yang gunakan jarum suntik bergantian, kalau penularan ke anak rendah hanya 2,7 persen, sekitar 100 anak," ujarnya.

Sis mengatakan untuk kasus penularan pada anak sudah bisa ditekan lantaran ada pemeriksaan pada calon pengantin serta ibu hamil. "Sekarang rata-rata, ibunya positif anaknya negatif, alhamdulillah," ujarnya.

Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, estimasi kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Andir sebanyak 4.235 kasus. "Sekarang nih seperti di Cinambo yang tadinya rendah sekarang mulai naik, pelayanan jalan, kasus HIV AIDS nya banyak ditemukan, rendah belum tentu nihil, itu mencerminkan pelayanan seperti tracing COVID-19 saja," tambahnya.

(wip/iqk)