Warga KBB Sesak Napas-Perih Mata Diduga gegara Abu Batu Bara Pabrik

Whisnu Pradana - detikJabar
Rabu, 10 Agu 2022 16:12 WIB
Warga menunjukan debu yang diduga berasal dari sisa pembakaran batu bara.
Foto:Warga menunjukan debu yang diduga berasal dari sisa pembakaran batu bara (Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Pabrik peleburan logam di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) disinyalir menimbulkan pencemaran udara dari emisi limbah batubara yang digunakan.

Alhasil sejumlah warga Kampung Cibingbin, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat merasakan dampak negatif polusi abu batubara dari aktivitas pabrik peleburan logam tersebut.

"Warga yang paling terdampak itu yang rumahnya dekat dengan pabrik. Terutama yang ada di RT 03 dan 06, tapi belum dipastikan berapa totalnya," ungkap Ketua RW 4 Agus Mulyana kepada wartawan, Rabu (10/8/2022).


Dari laporan warga yang diterimanya, Agus mengatakan rata-rata warga mengalami sesak napas, gatal-gatal, hingga mata perih. Ditambah dengan kotornya barang-barang serta rumah warga akibat abu batubara yang beterbangan.

"Memang sudah ada beberapa yang sesak napas terutama warga yang rumahnya paling dekat dengan pabrik," ujar Agus.

Menindaklanjuti keluhan dari warganya, Agus menyebut sudah sempat bertemu dan menyampaikan dampak dari aktivitas pabrik tersebut.

"Saya sudah sampaikan ke pihak pabrik dan mereka janji akan memperbaiki tapi perbaikannya belum maksimal jadi warga masih terdampak," kata Agus.

Salah seorang warga yang sangat merasakan dampak dari aktivitas pabrik peleburan logam itu ialah Rina Santika (36). Akibat pencemaran limbah batubara dari pabrik di dekat rumahnya, tiga anaknya terpaksa harus menjalani pemeriksaan kesehatan pernapasan setiap bulan.

"Dampak ke keluarga saya sangat terasa. Di rumah itu kan saya berlima dengan suami dan anak, nah kita sebulan sekali ke dokter terutama anak, keluhannya batuk dan pencernaan," kata Rina.

Bahkan anak-anaknya harus mendapatkan treatment penguapan dari dokter untuk membersihkan saluran pernapasan dari debu-debu yang terhirup hingga membuat sesak.

"Jadi sesak, bahkan anak saya harus diuap juga biar lega napasnya. Kalau kata dokter memang penyebabnya polusi udara, cuma nggak menyebutkan karena material apa," ucap Rina.

(mso/mso)