5.062 Anak Putus Sekolah, Disdik Cianjur: Anggap Pendidikan Tak Manfaat

Ikbal Selamet - detikJabar
Rabu, 10 Agu 2022 13:00 WIB
Kantor Disdik Cianjur
Foto: Kantor Disdik Cianjur (Ikbal Selamet/detikJabar).
Cianjur -

Ribuan anak usia sekolah di Cianjur putus sekolah. Kebanyakan anak putus sekolah di Kota Santri, yakni di tingkat SMP dan tidak melanjutkan lagi ke jenjang SMA/SMK sederajat. Faktor ekonomi dan sosial diduga jadi penyebab utama.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur Akib Ibrahim menjelaskan untuk siswa SD yang lulus berasa di angka 38 ribu dengan persentase melanjutkan sekolah di angka 99 persen.

Sedangkan untuk siswa lulusan SMP di tahun ini mencapai 29.793 siswa dengan angka partisipasi atau yang melanjutkan pendidikan formal ke jenjang SMA/SMK sederajat hanya 24.731 siswa.


"Untuk SD hanya sedikit yang putus sekolah, tapi untuk jenjang SMP ke SMA ini memang banyak yang tidak meneruskan atau putus sekolah, angkanya mencapai 5.062 siswa," ujar dia, Rabu (10/8/2022).

Menurutnya, wilayah dengan paling banyak anak putus sekolah yakni Kecamatan Cugenang dengan 523 siswa.

Dia menjelaskan ribuan siswa itu putus sekolah lantaran berbagai faktor, mulai dari ekonomi hingga sosial kebudayaan atau lebih tepatnya pemahaman orang tua.

Menurut dia, biasanya untuk siswa SMP memilih tidak melanjutkan sekolah karena terbentur biaya. Meskipun ada dana bantuan dari pemerintah provinsi, orang tua tetap harus mengeluarkan uang cukup besar agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan jenjang SMA/SMK.

"Kalau SD dan SMP, apalagi negeri kan semuanya sudah gratis. Tidak ada biaya pendaftaran ataupun bulanan. Berbeda dengan SMP ke SMA/SMK, ada uang pendaftaran bahkan ada yang masih menerapkan SPP bulanan. Jadi masyarakat tidak mampu memilih untuk tidak menyekolahkan lagi anaknya setelah SMP," kata dia.

Selain itu, lanjut Akib, pemahaman orang tua terkait pentingnya pendidikan juga jadi penyebab lainnya. Menurut dia, masih banyak orang tua yang merasa cukup anaknya hanya sekolah hingga tingkat SMP atau sebatas mahir membaca dan menulis.

"Jadi karena dianggapnya pendidikan itu tidak begitu terasa manfaatnya jadi cukup sekolahkan anak sampai SMP, setelah itu diarahkan untuk bekerja. Apalagi kan banyak pabrik yang menerima pegawai dengan pendidikan minimal SMP," ungkap dia.

Dia mengaku untuk meningkatkan partisipasi sekolah tersebut merupakan pekerjaan berat, terlebih untuk tingkat SMP ke SMA/SMK sederajat, mengingat untuk saat ini SMA/SMK berasa di bawah kewenangan pemerintah provinsi.

"Akan jadi PR besar, tapi kami akan koordinasi dengan dinas terkait hingga pemerintahan di tingkat kecamatan dan desa untuk meningkatkan partisipasi sekolah, sehingga ke depan tidak ada lagi anak putus sekolah di Cianjur," ujarnya.

(mso/mso)