Jurus Pemkab Cianjur Tekan Perceraian

Ikbal Selamet - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 11:23 WIB
Bupati Cianjur Herman Suherman
Foto: Bupati Cianjur Herman Suherman (Ismet Selamet/detikJabar).
Cianjur -

Bupati Cianjur Herman Suherman bakal mengeluarkan aturan agar 50 persen kuota pegawai di pabrik disiapkan untuk kaum pria. Hal itu dilakukan untuk menekan angka perceraian di Kota Santri.

Herman mengatakan fenomena saat ini, pabrik di Cianjur kebanyakan menerima pegawai perempuan, sedangkan pegawai laki-laki sangat sedikit.

"Kebanyakan 80 persennya perempuan, terutama di perusahaan tekstil," kata dia, Selasa (9/8/2022).


Padahal, menurut Herman, kaum pria juga bisa mengerjakan pekerjaan yang biasanya ditujukan untuk pekerja wanita di pabrik. "Asalkan diberi pelatihan, laki-laki juga bisa kerja menjahit di pabrik," ujar dia.

Ia mengatakan akan segera membuat regulasi untuk mengatur kuota pegawai pria di pabrik. Minimalnya, lanjut dia, pabrik menyiapkan kuota 50 persen untuk pria.

"Minimalnya perbandingan penerimaan pria dan wanita itu sebanding. Tidak terlalu banyak perempuan, bahkan kalau bisa lebih banyak kuota atau kesempatan bekerja itu untuk pria. Nanti kita buatkan aturannya melalui Perbup," kata dia.

Dia menjelaskan kebijakan itu diambil demi menekan angka perceraian. Pasalnya tingginya perceraian di Cianjur disebabkan cekcok rumah tangga yang dipicu faktor ekonomi.

"Lebih spesifikanya karena fenomena saat ini dimana istri bekerja sedangkan suami di rumah mengurus rumah dan anak. Karena minimnya lapangan pekerjaan untuk pria di pabrik. Makanya dengan aturan itu harapan pria bekerja dan angka perceraian bisa menurun," tuturnya.

Untuk perempuan, ungkap Herman, Pemkab akan memberikan bantuan modal usaha, sehingga perempuan bisa tetap membantu keuangan keluarga dengan berwirausaha.

"Jadi solusi untuk kaum perempuannya juga disiapkan, perempuan tetap bisa cari uang dari rumah dengan usaha. Modalnya disiapkan, fasilitasnya juga kita siapkan bagi yang mau jualan online," pungkasnya.

Sebelumnya, Angka perceraian di Kabupaten Cianjur hampir mencapai 6.000 kasus per tahun. Faktor ekonomi, terutama kondisi banyaknya perempuan yang bekerja sedangkan suami mengurus rumah menjadi penyebab utama tingginya perceraian di Kota Santri.

(mso/mso)