Serba-serbi Warga

Cerita Hendayana Tetap Jadi Badut saat Orang Tua Meninggal

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 18:30 WIB
Hendayana.
Hendayana. (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Sang penghibur, sebutan itu bisanya diberikan bagi mereka yang berprofesi badut. Dari balik wajah dan kostumnya yang lucu, mereka akan menghadirkan hiburan hingga aneka kelucuan bagi penonton.

Namun seporang badut harus memiliki seni dalam menghibur dirinya sendiri. Betapa tidak, seorang badut harus tampil stabil saat berada di atas panggung, baik dalam keadaan suka, pun dirundung duka.

Seperti pengalaman yang dibagikan badut asal Kota Cimahi, Hendayana Rusman kepada detikJabar seusai mengisi acara di Kabupaten Sumedang belum lama ini.


Di tengah sedang asyik-asyiknya bercerita, ia tiba-tiba saja terdiam saat itu. Mulutnya terkatup diiringi deraian air mata yang jatuh tak terbendung membelah hiasan make up wajahnya.

Tampilan badut yang lucu seketika berubah. Sorot matanya seolah memandang jauh ke belakang. Bibirnya bergetar seperti berat untuk berucap.

Dengan suara berat, ia perlahan kembali bercerita tentang pengalamannya yang paling berkesan sekaligus mengharukan saat menjadi seorang badut.

"Saya masih ingat saat itu tahun 2017, saya saat itu sedang menghibur anak-anak dalam sebuah acara ulang tahun," paparnya.

Namun pada pertengahan acara saat sedang asyik-asyiknya tertawa bareng anak-anak, tiba-tiba ia dikagetkan panggilan masuk dari ponsel di saku celananya. Pada layar ponsel itu tertera nama orang tuanya.

"Satu yang menjadi aturan saat saya sedang tampil yaitu saya tidak dapat diganggu oleh panggilan telepon, kecuali panggilan itu datang dari orang tua," terangnya.

Bagai petir di siang bolong, betapa kagetnya ia saat mengetahui bahwa panggilan tersebut adalah kabar duka dari orang tuanya yang baru saja meninggal dunia.

"Saat itu yang mengabarkan kakak saya bahwa bapak baru saja meninggal dunia," ujarnya.

Di hadapan puluhan anak yang tengah riang gembira, ia harus berupaya menahan kesedihannya di balik riasan badut yang tengah dimainkannya. Meski berat, saat itu ia mau tidak mau harus menuntaskan tugasnya.

"Saat itu tidak mungkin acara dipotong begitu saja, kasihan anak-anak yang sudah terhibur dan saya memilih melanjutkan acara sambil sesekali mendoakan ayah saya yang sudah tiada," ucapnya.

Hendayana mengaku beruntung lantaran saat itu sukses menyelesaikan tugasnya sekaligus masih dapat menghadiri pemakaman orang tuanya tersebut.

"Alhamdulillah saat itu saya masih dapat melihat jasad bapak saya serta dapat turut serta memakamkan sampai ke liang lahat," paparnya.

(orb/orb)