Jabar Sepekan: HP Meledak Tewaskan Bocah hingga Sidang Perdana Doni Salmanan

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 07 Agu 2022 22:01 WIB
Sidang perdana kasus Doni Salmanan
Foto: Sidang perdana Doni Salmanan (Yuga Hassani/detikJabar).
Bandung -

Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Jawa Barat (Jabar) selama sepekan. Dari mulai insiden meledaknya HP dan menewaskan bocah sembilan tahun di Ciamis hingga Doni Salmanan mulai menjalani sidang perdana kasus Quotex di PN Bale Bandung.

Berikut rangkuman Jabar Sepekan:

HP Meledak Tewaskan Bocah Ciamis

IHM, bocah kelas 3 SD berusia sembilan tahun ditemukan tewas di kediamannya. IHM alami luka bakar di bagian dadanya dan diduga meninggal karena ponsel yang digunakannya meledak.


Peristiwa itu terjadi pada Rabu (3/8/2022) di rumahnya Desa Kiarapayung, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Insiden yang menimpa IHM ini turut dibenarkan kepala desa setempat.

"Awal kejadiannya, anak pulang sekolah, lalu ibunya ke warung mencari makanan. Kejadian sekitar pukul 14.00 WIB. Keadaannya meninggal dunia," ujar Kepala Desa Kiarapayung Dedi saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis (4/8/2022).

Saat ditemukan, kondisi ponsel milik IHM berserakan. Baterai ponsel pecah. Namun, kabelnya masih utuh.

"Saat saya ikut memandikan mengurusnya, melihat di dadanya terdapat luka sebesar telapak tangan. Disinyalir ada kelainan di HP-nya. Pecah, baterainya itu agak cembung. Bukan dari aliran listrik," jelasnya.

Dedi menegaskan luka bakar yang dialami korban tepat di bagian tengah dada bawah leher. "Luka bakar itu diraba sangat lembek," ucapnya.

"Kita ambil hikmahnya, kepada keluarga bersabar atas musibah ini. Menerima kejadian ini sebagai musibah. Mohon kepada semua pihak edukasi sampaikan ke masyarakat bahwa HP bahaya ketika tidak dikontrol. Kalau sudah tidak layak pakai sebaiknya diistirahatkan," kata Dedi menambahkan.

Dedi menjelaskan ponsel yang meledak itu umurnya sudah cukup lama. Menurut keterangan orang tua korban, ponsel itu biasa digunakan bersama R ibunya dan IHM anaknya.

Selain digunakan untuk menghubungi ayahnya DYT yang bekerja sebagai buruh bangunan di Bogor. Ponsel juga sempat digunakan untuk belajar daring pada saat pandemi COVID-19. Saat diisi daya, ponsel Android itu dicas tidak menggunakan adaptor original.

"Ponselnya memang sudah jadul. Katanya dulu sempat diperbaiki. Kalau belinya kapan memang tidak ingat," ungkap Kepala Desa Kiarapayung Dedi menurut keterangan orang tua korban.

Mahasiswi Cianjur Nyaris Jadi PSK di Jakarta

Bunga, seorang mahasiswi asal Cianjur terjebak lowongan kerja (Loker) palsu. Bahkan perempuan berusia 19 tahun ini nyaris dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di Jakarta.

Dia mengaku awalnya akan mencari pekerjaan sebagai babysitter. Namun kenyataannya, setelah sampai Jakarta, Bunga malah dibawa ke kafe remang-remang dan akan dijadikan PSK.

Bahkan saat dibawa menemui bos kafe untuk menjelaskan sistem kerjanya. Dia juga ditawari minuman beralkohol oleh seorang muncikari.

"Jadi sambil ngobrol sama bosnya itu saya ditawari minuman alkohol, katanya biar enak ngobrolnya dan menikmati suasananya. Tapi saya nolak, karena saya udah takut, ingin pulang. Ditambah saya memang tidak minum alkohol," kata dia, Senin (1/8/2022).

Menurutnya dalam obrolan tersebut, terungkap jika dirinya akan dijadikan PSK dengan bayaran sekitar Rp 170 ribu per jam.

"Nanti sistemnya tunggu tamu, kalau dapat tamu dibayarnya Rp 170 ribu per jam. Tapi saya bersikukuh tidak mau, karena saya mau kerja halal bukan jadi PSK," ungkapnya.

Dia mengungkapkan jika bos kafe juga sempat bertanya apakah Bunga masih perawan atau tidak dan sebelumnya mengetahui jika akan bekerja di tempat tersebut.

"Saya waktu itu jawab saya masih perawan, bos kafenya juga kaget dan menanyakan kenapa mau kerja di sini. Saya bilang saja, di lokernya itu babysitter bukan jadi PSK, makanya saya mau, kalau tahu dijadikan PSK pasti nolak dari awal," ujar dia.

Setelah terus meminta dipulangkan, akhirnya Bunga pun dibawa lagi ke penampungan yang tidak jauh dari kafe tersebut. Dia pun dipulangkan usai mengancam akan melaporkan ke polisi.

"Mungkin karena saya bawel ingin pulang, akhirnya saya dipulangkan keCianjur. Alhamdulillah bisa selamat dan tidak jadiPSK di sana,"pungkasnya.