Bahaya Buang Celana Dalam Sembarangan di Gunung Gede Pangrango

Ikbal Selamet - detikJabar
Kamis, 04 Agu 2022 08:30 WIB
Relawan bersihkan sampah di Gunung Gede Pangrango
Relawan bersihkan sampah di Gunung Gede Pangrango. (Foto: istimewa)
Cianjur -

Celana dalam kerap ditemukan di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, Cianjur. Sampah yang dibuang oknum pendaki tersebut dapat menimbulkan dampak buruk bagi alam dan pendaki lainnya.

Sekadar diketahui, limbah atau sampah berupa kain membutuhkan waktu lama untuk terurai. Kain biasanya baru bisa terurai dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Namun untuk beberapa jenis kain, penguraiannya dapat memakan waktu lebih lama, yakni di atas satu tahun.

Niko Rastagil, salah seorang Volunteer Gunung Gede Pangrango, menyayangkan perilaku oknum pendaki yang sengaja membuang celana dalam di sana.


"Mau alasannya apapun tidak boleh buang sampah di Gunung, termasuk celana dalam. Karena mengotori gunung, serta kan kain tidak mudah terurai," kata dia.

Niko berharap para pendaki sadar tidak membuang celana dalam sembarangan. "Saya harap perilaku yang tidak baik itu tidak terjadi lagi, karena dapat mengotori Gunung layaknya sampah plastik," tegasnya.

Selain itu, celana dalam yang dibuang di Gunung Gede Pangrango biasanya terdapat tinja. Sebab pendaki membuang celana dalam itu usai mengalami cepirit alias membuang feses di dalam celana dalam.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Yusman Faisal, mengatakan jika kotoran tersebut dibawa hujan dan masuk ke aliran sungai, akan berbahaya bagi masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk sehari-hari.

Menurut Yusman, kotoran manusia mengandung banyak bakteri berbahaya, salah satunya E. coli. Bakteri ini dapat mengakibatkan muntaber.

"Kalau misalnya masuk ke sungai, maka siapapun yang memanfaatkan air sungai apalagi untuk minum bisa berdampak pada kesehatan. Air yang mengandung bakteri ecoli, bisa menyebabkan diare atau muntaber," ungkapnya.

(ors/ors)