Nyaris Separuh Rumah Tangga di Sumedang Enggak Sehat gegara Rokok

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 02 Agu 2022 05:30 WIB
Ilustrasi Rokok
Ilustrasi rokok (Foto: (iStock))
Bandung -

Tingkat rumah tangga tidak sehat di Kabupaten Sumedang mencapai 42,6 persen. Salah satu indikatornya adalah adanya perilaku kebiasaan merokok di dalam rumah.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumedang Uyu Wahyudin menjelaskan, data tersebut berdasarkan hasil survei Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Sumedang pada 2021.

"Walau pun indikator lainnya sudah bagus sudah sehat namun salah satu indikator saja, yaitu kebiasaan salah satu anggota keluarganya yang merokok di dalam rumah menjadikan rumah tangga itu tidak sehat," terang Uyu saat dihubungi detikJabar, Senin (1/8/2022).


Uyu menegaskan, tingginya angka rumah tangga tidak sehat di Kabupaten Sumedang, salah satu penyebabnya adalah rokok.

"Jadi 42,6 persen rumah tangga tidak sehat itu, salah satu penyebabnya ada anggota keluarga yang merokok di dalam rumah," katanya.

Uyu memaparkan, jika kebiasaan merokok di dalam rumah ini terus dilakukan maka akan menyebabkan berbagai efek kesehatan bagi keluarga. Paling berbahaya utamanya bagi perokok pasif.

"Yang lebih berbahaya itu perokok pasif, semisal di sekitar seorang perokok ada ibu-ibu dan balita, itu justru mereka yang menghisap 75 persen racun dari rokok tersebut sementara bagi perokoknya hanya 25 persen," ujarnya.

Uyu mengatakan, salah satu upaya untuk menekan angka persentase tersebut, Pemkab Sumedang melalui payung hukumnya telah menerbitkan berupa Perda tentang Kawasan Tanpa Rokok.

"Jadi seperti tempat pendidikan, tempat ibadah, tempat pelayanan kesehatan itu tidak boleh merokok atau bebas asap rokok. Kita juga melakukan edukasi tentang bahaya asap rokok," ujarnya.

Uyu menambahkan, Dinas Kesehatan pun mengoptimalkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBCHHT) dari pusat dengan meningkatkan pelayanan kesehatan, konsultasi serta edukasi kesehatan bagi masyarakat.

"Dana DBHCT itu diantaranya untuk meningkatkan sarana kesehatan, membentuk konseling bagi masyarakat yang mau berhenti merokok, kemudian standar pelayanan minimal kesehatan kita itu dibiayai dari DBHCHT," ucap Uyu.

(yum/yum)