6 Penyebab Mandi Wajib, Muslim Jangan Sampai Tak Tahu!

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 18 Jul 2022 16:06 WIB
mandi wajib ramadhan
Ilustrasi penyebab mandi wajib (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ekaterina79)
Bandung -

Tidak sah ibadah seorang muslim jika dia dalam kondisi berhadas besar. Ia harus mandi wajib atau mandi besar terlebih dahulu supaya bisa melaksanakan ibadah salat atau puasa.

Seseorang yang belum mandi besar dinilai masih bernajis sehingga menghalanginya untuk beribadah.

Ada 6 penyebab mandi wajib yang harus umat Islam ketahui. Jangan sepelekan jika tak ingin ibadahmu menjadi sia-sia karena tidak sah.


Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini 6 penyebab mandi wajib.

1. Berhubungan intim

Suami istri yang melakukan hubungan intim maka diharuskan untuk melakukan mandi wajib setelahnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا ، فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

"Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya, pen), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi." (HR. Bukhari, no. 291 dan Muslim, no. 348)

Bahkan dalam jika keduanya hanya bermesraan tanpa keluar mani pun tetap diwajibkan untuk mandi wajib. Seperti dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

"Walaupun tidak keluar mani."

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ ».

"Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi." (HR. Muslim, no. 350)

2. Keluar air mani

Keluar mani tidak hanya terjadi saat berhubungan intim saja. Keluar air mani dengan syahwat, baik dalam sadar maupun tidur atau terjaga juga wajib melakukan mandi wajib atau atau mandi besar.

Dalam hal ini, melakukan onani (mengeluarkan mani dengan tangan) juga termasuk penyebab mandi wajib. Bagi sebagian ulama, onani itu hukumnya haram. Kecuali dengan tangan istri maka hal itu (mengeluarkan mani) dibolehkan.

Dalill bahwa keluarnya mani mewajibkan untuk mandi adalah firman Allah Ta'ala,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

"Dan jika kamu junub maka mandilah." (QS. Al-Maidah: 6)

Secara bahasa, junub berarti jauh. Sementara secara istilah, junub yakni keadaan seseorang yang mengeluarkan mani atau sehabis hubungan intim karena orang tersebut tidak boleh mendekati shalat, mendekati masjid dan tidak boleh membaca Al-Qur'an. (Al-Mawsu'ah Al-Fiqhiyyah, 16:47)

3. Mimpi Basah

Bagi laki-laki yang sudah memasuki fase baligh biasanya akan ditandai dengan mimpi basah. Pengetahuan ini harus disampaikan pada anak laki-laki agar mereka mengetahui jika setelah mimpi basah maka wajib hukumnya mandi besar atau mandi wajib.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلاَ يَذْكُرُ احْتِلاَمًا قَالَ « يَغْتَسِلُ ». وَعَنِ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ « لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ ».

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah sementara dia tidak ingat telah mimpi, beliau menjawab, 'Dia wajib mandi.' Dan beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi tetapi tidak mendapatkan dirinya basah, beliau menjawab, 'Dia tidak wajib mandi'." (HR. Abu Daud, no. 236, Tirmidzi, no. 113, Ahmad, 6:256. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Juga terdapat dalil dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata,

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِى طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِى مِنَ الْحَقِّ ، هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِىَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ »

"Ummu Sulaim (istri dari Abu Thalhah) datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Ya, jika dia melihat air." (HR. Bukhari, no. 282 dan Muslim, no. 313)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas berkata, "Pada saat itu diwajibkan mandi ketika melihat air (mani), dan tidak disyaratkan lebih dari itu. Hal ini menunjukkan bahwa mandi itu wajib jika seseorang bangun lalu mendapati air (mani), baik ia merasakannya ketika keluar atau ia tidak merasakannya sama sekali. Begitu pula ia tetap wajib mandi baik ia merasakan mimpi atau tidak karena orang yang tidur boleh jadi lupa (apa yang terjadi ketika ia tidur). Yang dimaksud dengan air di sini adalah mani." (Fiqh Al-Mar'ah Al-Muslimah, hlm. 50)

4. Keluarnya darah haid dan nifas

Penyebab mandi wajib yang terjadi pada muslimah yakni saat menstruasi atau haid dan pada masa nifas. Tidak sah salat dan puasa seorang muslimah jika mereka belum mandi wajib setelah haid dan nifas.

Begitu pula, wanita muslim yang telah menikah juga belum boleh disetubuhi suaminya jika belum mandi wajib setelah haid atau nifas.

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

'Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.' (QS.Al-Baqarah: 222). Yang dimaksudkan "apabila mereka telah suci" adalah apabila telah mandi."

Dalil pendukung lainnya adalah hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata pada Fathimah binti Abi Hubaisy,

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

"Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haidh berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat." (HR. Bukhari, no. 320 dan Muslim, no. 333).

5. Mualaf

Saat seseorang memutuskan untuk memeluk Islam atau mualaf, maka wajib baginya untuk mandi besar. Hal ini berdasarkan hadits Qais bin 'Ashim, ia berkata,

أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ.

"Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku ingin masuk Islam. Lantas beliau memerintahkan aku mandi dengan air dan bidara." (HR. Abu Daud, no. 355; Tirmidzi, no. 605; dan An-Nasa'i, no. 188. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hukum asal perintah menunjukkan wajibnya.

6. Jenazah

Kematian bagi seorang muslim itu menyebabkan wajib mandi. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk memandikan jenazah.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu 'Athiyyah, ia berkata,

دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَغْسِلُ ابْنَتَهُ فَقَالَ « اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِى الآخِرَةِ كَافُورًا

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi kami dan ketika itu kami sedang memandikan puteri beliau, lalu beliau perintahkan, 'Mandikanlah tiga atau lima atau lebih daripada itu. Jika memang perlu dengan bidara dan di akhirnya diberi kapur barus." (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 939). Menurut jumhur ulama, yang dimaksud puterinya di sini adalah Zainab. Zainab ini yang menikah dengan Abu Al-'Ash.

Adapun yang mati syahid tidaklah wajib dimandikan karena berdasarkan hadits Jabir, ia menyatakan,

وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِى دِمَائِهِمْ ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menguburkan mereka (yang meninggal dunia pada perang Uhud) dengan darah-darah mereka dan tidak dimandikan, tidak pula dishalatkan." (HR. Bukhari, no. 1343)

(tey/tya)