Jabar Hari Ini: Menilik Masa Lalu Sumedang di Balik Fosil Hewan Purba

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 17 Jun 2022 21:31 WIB
Penemuan fosil di Sumedang.
Penemuan fosil hewan purba di Sumedang (Foto: Nur Azis/detikJabar).
Bandung -

Munculnya fosil purba di Kabupaten Sumedang turut mengungkap kondisi masa lampau wilayah itu. Selain itu, ada kabar warga Subang meninggal usai terjangkit DBD.

Berikut rangkuman dalam Jabar hari ini:

Fosil Kura-kura dan Buaya Ungkap Masa Lampau Sumedang

Fosil satwa kura-kura dan buaya purba ditemukan di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Kedua Fosil yang letaknya berdekatan ini, awalnya ditemukan warga lantaran muncul di permukaan tanah.


Menanggapi hal ini Peneliti Museum Geologi Unggul Prasetyo Wibowo menjelaskan terkait penemuan yang ada di lapangan.

"Keduanya ditemukan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Secara geologis, Sumedang dulunya merupakan daerah estuari. Jadi daerah ini banyak lembah muara, rawa-rawa, sehingga bisa menemukan banyak satwa yang sifatnya amfibi," ujar Unggul saat dihubungi detikJabar Jumat (17/6/2022).

Ia mengaku tak heran jika di daerah tersebut kemungkinan akan ditemukan juga fosil sapi, kerbau, dan beberapa satwa purba yang biasa hidup di daerah daratan sekitar rawa.

Daerah estuari tersebut jadi ekosistem yang baik bagi hewan seperti kura-kura dan buaya, sebab ketersediaan makanan pun melimpah. Ukuran fosil temuan bisa dipengaruhi dari unsur ini.

"Untuk kura-kura dan penyu sekarang pun bisa tumbuh besar, paling tidak mencapai satu meter diameter cangkangnya. Jadi untuk temuan 80 cm itu normal. Terkait temuan buaya belum bisa bicara banyak, karena masih dalam proses apa saja temuannya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa ada dugaan satwa tersebut berada di zaman Pleistosen. Saat itu merupakan masa transisi baru, sehingga Pulau Jawa belum menjadi daratan sepenuhnya.

"Penemuan di Sumedang ini cukup menarik, karena kebanyakan fosil yang ditemukan di pulau Jawa adalah fauna darat sehingga rentang waktunya belum terlalu lama," ujarnya.

"Kalau yang ditemukan saat ini dugaan sementara dari zaman transisi. Saat Pulau Jawa masih berupa setengah daratan, belum muncul sepenuhnya dari permukaan laut. Sehingga ini menarik," kata Unggul menambahkan.

Unggul mengatakan bahwa beberapa tahun lalu fosil Stegodon atau Gajah Purba juga ditemukan di Jembarwangi. Fosil itu saat ini tersimpan di Museum Geologi Jawa Barat.

Terkait penyebarannya, menurut Unggul untuk satwa purba air seperti buaya memang tersebar di Jawa dan tidak punya persebaran spesifik. Sementara untuk kura-kura masih perlu diteliti bentuknya, karena masih hanya terlihat tempurungnya saja.

"Kalau buaya kan bisa mobile kemana-mana di area perairan, sehingga persebarannya luas. Untuk kura-kura masih diteliti apakah ini satwa darat atau air, pantauan terakhir baru terlihat tempurungnya. Dari temuan ini nampaknya akan mudah direkonstruksi," terangnya.

Melihat dari temuan di lapangan, kura-kura purba cangkangnya ditemukan utuh. Ini adalah kabar baik bagi para peneliti.

"Biasanya temuan itu berupa fragmented, jadi potongan. Ini bisa dikatakan penemuan perdana di Jawa Barat yang bukan fragmented, artinya cangkang utuh sehingga bisa memudahkan rekonstruksi," paparnya.

Saat ini tim dari Museum Geologi, beberapa pihak keamanan eksternal, bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumedang sedang melakukan pengamanan konservasi.

Setelah diamankan, fosil akan dibawa ke ruang preparasi untuk diberikan treatment konservasi. Barulah proses identifikasi dapat dilakukan.

"Tahap pertama masih pengamanan, dalam proses mengangkat fosil bersama matriks sedimen ke Balai Desa setempat. Karena jika dibongkar dari matriks sedimen di lokasi itu juga, akan berpotensi pecah," kata Unggul.

Harimau Jawa yang Ternyata Punah Tahun 70-an

Kemunculan diduga Harimau Jawa membuat heboh masyarakat. Harimau Jawa ini muncul di wilayah Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.

Padahal harimau bernama latin panthera tigris sondaica ini sudah dinyatakan punah sejak puluhan tahun lalu. Berdasarkan catatan The International Union for Conservation of Nature (IUCN), Harimau Jawa Punah pada dekade 1970-an.

Di situs resminya, IUCN menyatakan jika spesies terakhir Harimau Jawa terlihat di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur pada 1976. Penyebab kepunahan Harimau Jawa ini didasari oleh maraknya perburuan dan hilangnya habitat asli karena pembukaan lahan.

Kemudian berdasarkan penelusuran detikX pada 2017 lalu, Harimau Jawa pernah hidup di sejumlah hutan di Pulau Jawa, mulai ujung Banyuwangi di Jawa Timur sampai Ujung Kulon di Banten.

Pemerintah Indonesia saat ini hanya memiliki sisa bagian tubuh (spesimen) dari hewan karnivora itu. Pusat Penelitian Biologi LIPI, yang terletak di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyimpan dua spesimen kulit Harimau Jawa dan juga Harimau Bali.

Peneliti mamalia di Pusat Penelitian Biologi LIPI Profesor Gono Semiadi mengatakan dua spesimen harimau Jawa itu merupakan peninggalan Belanda tahun 1910 yang tersimpan dalam lemari khusus dan besar.

Kulit harimau itu tergantung bersama dua kulit harimau Bali dan beberapa macan tutul atau macan kumbang. Juga terlihat sejumlah kerangka dan tengkorak kepala harimau.

"Inilah ruangan harta karun milik pemerintah Indonesia, yang satu-satunya menyimpan dua spesimen kulit harimau Jawa dan Bali. Ada 30 spesimen kulit harimau Jawa lainnya, tapi ada di luar negeri," ungkap Gono, Senin, 18 September 2017.

Selain karena hilangnya habitat asli, kepunahan Harimau Jawa menurut Gono juga disebabkan masuknya senjata api ke Indonesia pada zaman Belanda.

Memang kala itu, marak juga budaya seperti gladiator, Harimau Jawa atau macan tutul dilepas di tengah massa yang membawa tombak untuk membunuh binatang itu.

"Tapi, kalau hanya budaya, itu sebenarnya tidak sampai memusnahkan. Tapi dengan adanya bedil (senjata api) masuk yang dibawa Belanda itu lebih signifikan," jelas Gono.

Ramainya kabar kemunculan diduga Harimau Jawa ini berawal dari cerita yang diungkapkan Rifi Yanuar Fajar. Ia pertama kali melihat diduga Harimau Jawa pada 18 Agustus 2019.

Rifi yang saat itu sedang melintasi kawasan hutan di Surade melihat seekor harimau melompat di depan sepeda motornya.

"Kejadiannya malam, pulang main dari Surade, meong (harimau) itu melompat sosoknya terlihat kurang jelas jadi memang tidak tersorot lampu motor langsung, jadi hewan itu berada di area gelap. Warnanya masih samar," kata Riri -sapaan Rifi Yanuar- kepada detikJabar, Selasa (7/6/2022).

Penganiaya Jurnalis di Sukabumi Ditangkap

Polisi berhasil menangkap pelaku penganiayaan Ilham Nugraha, jurnalis daring Jurnalsukabumi. Pelaku berjumlah dua orang dan juga merupakan keluarga korban kecelakaan di Jembatan Bagbagan, Kabupaten Sukabumi.

Pelaku inisial D dan B, keduanya diamankan di rumahnya masing-masing setelah sebelumnya sempat berusaha melarikan diri dari kejaran petugas.

"Terima kasih kepada Satreskrim dan tim yang sudah bisa ungkap kasus, hari ini kita ungkap kasus aniaya terhadap wartawan yang tengah meliput berita kejadian hari Senin 13 Juni 2022 pukul 21.00 WIB, dengan TKP di depan IGD Rumah Sakit Palabuhanratu," kata Kapolres Sukabumi AKBP Dedy Darmawansyah didampingi Kasatreskrim AKP I Putu Asti Hermawan, Jumat (17/6/2022).

Saat kejadian, dijelaskan Dedy dua pelaku tidak terima dengan kedatangan Ilham yang saat itu ingin meliput dan mengambil gambar situasi rumah sakit. Saat itu salah seorang pelaku datang dan melakukan pemukulan terhadap Ilham.

"Pelaku inisial D dan B, peran D adalah menarik, mendorong dan memukul bagian kepala korban sedangkan B memukul punggung korban. Mereka ini tidak terima saat wartawan meliput berita soal keluarganya yang mengalami kecelakaan jatuh dari jembatan," ungkap Dedy.

Kedua pelaku dijerat pasal 170 KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Sukabumi AKP I Putu Hasti Hermawan mengatakan dalam rentetan kejadian tersebut D adalah pelaku yang paling berperan dalam aksi penganiayaan tersebut.

"Jadi memang pelaku ini masih keluarga, D ini orang yang mungkin paling vokal dalam melakukan penganiayaan tersebut dibantulah oleh B yang mempunyai hubungan mertua terhadap D ini. Mereka diamankan di rumahnya sendiri, kebetulan memang selama tiga hari kemarin sempat berupaya menghilangkan diri, kita pancing melalui informan bisa kita amankan kemarin," kata Putu.

Warga Subang Meninggal Usai Terjangkit DBD

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang Maxi mengatakan, tahun ini terdapat 80 warga Subang yang terkonfirmasi DBD.

"Kasus DBD hingga hari ini kita mencatat ada 80 warga yang terkena DBD sampai Bulan Juni ini. Kami mencatat untuk angka kematian ada 4 orang," ujar Maxi saat ditemui detikJabar di kantornya, Jumat (17/6/2022).

Walau demikian, kasus DBD tahun ini di Subang tak sebanyak tahun lalu. Untuk tahun 2021, kasus masyarakat terjangkit penyakit DBD tersebut mencapai angka 200 lebih.

"Tahun kemarin kita mencatat ada 241 kasus DBD di Subang, jadi tidak ada peningkatan kasus dibanding tahun kemarin maupun tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan tahun ini tidak ada penambahan kasus," katanya.

"Memang penyakit DBD ini sudah dikatakan endemi yah, tapi memang selalu ada yang terjangkit setiap bulannya tapi tidak ada lonjakan apapun," kata Maxi melanjutkan.

Di Kabupaten Subang sendiri, menurut Maxi, terdapat beberapa wilayah yang rentan potensial terjangkit DBD. Terutama di daerah Subang Selatan.

Sementara itu, untuk mencegahnya terjaring penyakit DBD, Maxi meminta kepada masyarakat agar terus menerapkan hidup sehat. Terlebih, di saat musim penghujan kemarin yang dimana terdapat banyaknya genangan air yang dapat menimbulkan penyakit DBD.

"Untuk mencegahnya yaitu tetap masyarakat harus menjalankan hidup sehat. Apalagi banyak juga setelah hujan banyak kayak genangan-genangan air itu harus diperhatikan oleh masyarakat, soalnya, pada musim pancaroba ini nyamuk memang selalu berkembang" kata Maxi.

Calhaj Jabar Positif Subvarian Omicron

Dua calon jemaah haji asal Jabar terkonfirmasi positif COVID-19 subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Satgas COVID-19 memastikan kondisi demikian tidak mengganggu jadwal penerbangan haji di Jabar.

"Pada tanggal 14 (Juni), ada 12 (positif BA.4 dan BA.5). Paling banyak di Rumah Sakit Dustira, kalau tidak salah ada dua calon jemaah haji ditetapkan (positif)," kata Ketua Harian Satgas COVID-19 Jabar Dewi Sartika di Gedung Sate, Jumat (17/6/2022).

Dewi memastikan pemeriksaan terhadap calon jemaah haji itu dilakukan dua minggu sebelum pemberangkatan. "Jadi Insya Allah, sampai saat ini tidak ada calon jemaah haji yang berangkat, tidak jadi berangkat karena COVID-19," kata Dewi.

Dewi juga mengaku telah mengikuti rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B Pandjaitan dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dewi memastikan penambahan kasus COVID-19 saat ini merupakan subvarian dari Omicron.

"Tingkat penularannya sama dengan Omicron. Tetapi hospitalisasi-nya (kondisi dirawat di rumah sakit) relatif rendah," ucap Dewi.

(dir/mso)