Pakar Sejarah Ungkap Duel Pesilat Vs Harimau Jawa di Sukabumi

Pakar Sejarah Ungkap Duel Pesilat Vs Harimau Jawa di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 13 Jun 2022 06:00 WIB
Ilustrasi harimau Jawa
Harimau Jawa (Foto: Ilustrator: Edi Wahyono)
Sukabumi -

Catatan panjang soal penampakan harimau Jawa oleh warga banyak dikisahkan dalam catatan sejarah hingga kisah dari mulut ke mulut. Bukan hanya oleh penjajah Belanda dan peneliti asing, harimau Jawa juga dikisahkan pernah terlibat pertarungan sengit dengan warga pribumi.

Irman Firmansyah, Pakar Sejarah dari Yayasan Dapur Kipahare menceritakan kepada detikJabar sejumlah kisah soal penampakan harimau Jawa di Sukabumi.

Pengarang buku Soekaboemi the untold story itu juga menggali kisahnya berdasarkan referensi dari buku f de Haan berjudul Priangan, kemudian Andries de Wilde berjudul Preanger Regentschappen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah menarik terjadi pada Juni tahun 1941, soal pertarungan warga pribumi asal Kampung Cikawung, Desa Kalaparea, Sukabumi dengan harimau Jawa. Warga pribumi bernama Haji Said itu dikenal jago silat itu naik pitam karena harimau memangsa ternak domba miliknya.

"Kisah pertemuan dengan harimau banyak misal bulan juni 1941, terjadi pertarungan antara Haji Said dengan harimau. Pria itu marah karena beberapa domba dan kambingnya dimangsa harimau, kebetulan sang haji dikenal jago silat dikampungnya," kata Irman mengawali ceritanya, Minggu (12/6/2022).

ADVERTISEMENT

Saat itu, diceritakan Irman, Haji Said hanya berbekal tongkat kayu masuk ke dalam area hutan untuk mencari harimau. Sampai kemudian ia menemukan harimau itu sedang tertidur di area kaki Gunung Gede.

"Dengan membawa tongkat kayu sang haji masuk ke hutan mencari harimau, akhirnya ditemukanlah harimau tersebut di hutan kaki Gunung Gede sedang tidur. Harimau tersebut kemudian dipukul kepalanya, namun harimau bangun dan menyerang sang haji hingga terjadi pergumulan hampir satu jam," tutur Irman.

Namun pertarungan itu berakhir tragis, Haji Said kelelahan dan kehilangan tenaga. Ia akhirnya tewas setelah digigit harimau tersebut.

"Nahas sang haji kehabisan tenaga dan mati digigit harimau. Keesokan harinya seluruh penduduk mengepung hutan dan membawa senjata. Dengan tiga kali tembakan akhirnya harimau mati," kata Irman.

"Panjang harimau itu sekitar 2,1 meter, ekornya 90 cm, bangkainya diangkut ke Cibadak dan ditunjukan pada wedana. Kulitnya kemudian dijual kepada orang Cina seharga 35 Gulden," tutur Irman.

(sya/yum)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads