Sosok Abah Maung Pendiri Pondok Pesantren 'Preman' di Subang

Dwiky Maulana Vellayati - detikJabar
Jumat, 08 Apr 2022 15:22 WIB
Abah Maung Subang.
Abah Maung. (Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar)
Subang -

Seorang kyai di Subang, Jawa Barat, mendirikan pondok pesantren gratis bagi semua santrinya. Tidak hanya warga miskin, pesantren tersebut diisi mantan anggota geng motor, mantan preman, hingga anak jalanan.

Pesantren tersebut bernama Raudlatul Hasanah yang berlokasi di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang Kota, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pesantren ini terbilang unik. Pasalnya, sosok dari pimpinan ponpes yang bernama Kyai Muhammad Abdul Mukmin ini merupakan seorang preman semasa mudanya.

Kyai Muhammad Abdul, dikenal dengan nama Abah Maung Subang. Ia tidak pernah lepas dari aksesoris seperti gelang bahar serta batu akik yang terpasang di jarinya. Bahkan, Abah Maung membiarkan rambutnya tetap gondrong dan terurai.


"Saya dikenal Abah Maung ini karena saya ini pemberani yah. Artinya pemberani itu saya ambil risiko apapun karena kenekatan saya bangun ponpes ini," ujar Abah Maung, sapaan akrabnya kepada detikJabar belum lama ini.

Abah Maung menceritakan, ia adalah penyuka tantangan sejak menjadi preman jalanan. Sehingga, terbentuknya ponpes yang dipimpinnya ini terbilang berhasil karena memiliki keinginan untuk bisa mencari karakter dari para santri.

"Saya ini tukang berantem dari kecil, saya ini orangnya suka tantangan. Artinya apa? Ya ibaratnya saya ini kyai jawara lah. Dari aksesorisnya juga terlihat lah dan saya ini senang dengan orang-orang keras. Saya ngelatih santri lumayan keras juga agar nantinya menjadi tahan banting kalau misalkan sudah keluar dari ponpes ini," katanya.

Selain berpenampilan nyeleneh, Abah Maung pun dikenal sebagai kyai yang sederhana. Hal tersebut terlihat dari rumahnya yang menyatu dengan ponpes itu hanya berdinding bilik.

"Ya, bisa dilihat rumah saya ini cuman hanya dari bilik saja, tapi saya tidak pernah mempermasalahkan itu," tuturnya.

Ia pun sempat menjadi bahan olokan masyarakat yang melihat penampilannya seperti berandalan dan tukang berantem.

"Saya juga dulu itu dilihat masyarakat kyai ini kaya gimana gitu kan, karena bisa nongkrong di terminal, bisa di mana. Tapi setelah mereka paham dan mereka melihat hasilnya, akhirnya pesantren yang saya pimpin selalu datang kesini," tuturnya.

Abah Maung Subang mengungkap, bahwa pesantren yang didirikannya sejak tahun 2002 lalu itu hanya sebatas pesantren kecil yang tempatnya hanya di sebuah kontrakan.

"Terbentuknya dari tahun 2002 bersama dua rekan saya. Awalnya itu hanya sebuah kontrakan saja. Kan tahu sendiri kalau misalkan kontrakan itu harus bayar tiap bulannya, tapi itu bukan suatu alasan bagi saya untuk menyerah," ucapnya.

Di sisi lain, Abah Maung dalam mendidik santrinya selalu mengajarkan kemandirian. Bahkan, bangunan yang saat ini terlihat megah dibangun sendiri oleh para santri.

Untuk makan pun, mereka memasak sendiri secara bergilir dan saat ini menurutnya tidak ada keluhan apapun dari para santriwan maupun satriwati. Abah Maung pun merasa seperti ayah didik dari santri yang saat ini berjumlah 200 orang itu.

"Ini ada dari Sumatera, Lembang, sama Ambon. Mereka (santri) rata-rata orang keras semua, nah disatukan dengan hati. Artinya di situ tuh semua saudara, kita utamakan pondok ini kekeluargaannya, tidak ada santri baru atau santri lama," tuturnya.

"Mereka (santri) diajarkan montir, semua santri harus bisa jadi supir lah, sampai mereka punya SIM. Ada juga belajar kerja. Kerja keras mereka ada yang bangunan, ada yang ngelas, seni kaligrafi, seni lukis bahkan sampai pecak silatnya juga," jelas Abah Maung.

(ors/bbn)