Duh! Kondisi Air Tanah di Bodebek Kritis

Sudirman Wamad - detikJabar
Selasa, 15 Mar 2022 18:00 WIB
World Water Day atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang dilakukan untuk kembali menarik perhatian publik pada pentingnya air bersih dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Getty Images)
Bandung -

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jawa Barat (Jabar) menyebut kondisi air tanah di wilayah Bogor-Depok-Bekasi (Bodebek) kritis. Kondisi itu terjadi karena meningkatnya industri dan populasi penduduk.

"Di kawasan industri dan daerah padat penduduk mulai kritis, mungkin daerah Bodebek. Pertambahan penduduknya cepat sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan air," kata Sekretaris Dinas SDA Jabar Yossy Desra usai acara peringatan Hari Air Sedunia di Gedung Sate, Selasa (15/3/2022).

Yossy mengaku pihaknya telah mengkaji kebutuhan sumur resapan di beberapa daerah. Beberapa titiknya diarahkan ke wilayah Bodebek.


"Banyak di daerah Bodebek. Bisa jadi karena kawasan industri. Ada juga kebutuhan untuk pertanian dan domestik," ucap Yossy.

Lebih lanjut, Yossy mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk bisa menghemat penggunaan air tanah. Kesadaran tersebut salah satu upaya untuk tetap menjaga ketersediaan air tanah di Jabar, selain tentunya membangun sumur resapan.

"Gerakan masif untuk membangun sumur resapan ini adanya indikasi permukaan air tanah menurun. Hal ini menyebabkan banjir dan sebagainya," jelas Yossy.

Sekretaris Dinas SDA Jabar Yossy Desra.Sekretaris Dinas SDA Jabar Yossy Desra. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)

Sekadar diketahui, Pemprov Jabar telah meluncurkan program Hansip-Cai, akronim dari Tahan dan Simpan Jadi Cadangan Air, pada November 2021. Program tersebut merupakan upaya untuk memanfaatkan air hujan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Kita galakkan program ini terus kedepannya," ujar Yossy.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Air Tanah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Isnu Hajar Sulistyawan mengatakan penanganan ketersediaan air tanah harus membutuhkan sinergitas antar semua pihak. Isnu mengaku telah mendapat laporan tentang adanya beberapa daerah yang permukaan air tanahnya meningkat.

"Kenaikan air tanah di beberapa sudah kita identifikasi juga. Kita rutin memantau dari waktu ke watu untuk melihat parameternya," kata Isnu.

Isnu juga mengatakan sipil dan kepolisian bisa melakukan pengawasan langsung terhadap penggunaan air tanah oleh perusahaan atau pabrik besar. Penyalahgunaan air tanah yang tak sesuai izin bisa dijerat hukum.

"Penggunaan air tanah harus hati-hati. Dan, undang-undang telah mengatur sedemikian rupa," imbau Isnu.



Simak Video "Pelaku Modus Pecah Kaca Mobil Beraksi di Tasik, Rp 320 Juta Raib"
[Gambas:Video 20detik]
(sud/ors)