Permintaan Maaf Rektor Usai Gaduh Konflik dengan SBM ITB

Permintaan Maaf Rektor Usai Gaduh Konflik dengan SBM ITB

Rifat Alhamidi - detikJabar
Senin, 14 Mar 2022 20:22 WIB
Konferensi Pers Rektorat ITB atas konflik Sekolah Bisnis Manajemen (SBM). (Foto : Rifat Alhamidi/detikJabar)
onferensi Pers Rektorat ITB atas konflik Sekolah Bisnis Manajemen (SBM). (Foto : Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Rektor ITB Reini Djuhraeni Wirahadikusumah melayangkan permohonan maaf atas konflik dengan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Reini mengakui, konflik tersebut berbuntut panjang sampai mengganggu jalannya perkuliahan di SBM.

Permintaan maaf itu ia sampaikan dalam konferensi pers di Auditorium CRCS ITB. Permintaan maaf pertama ia sampaikan kepada publik lantaran konflik dengan SBM menuai sorotan dari berbagai pihak.

"Yang pertama tentu permohon maaf sebesar-besarnya kepada publik bahwa kami membuat sedikit keributan. Atas nama seluruh civitas akademika, warga dan alumni semuanya kami memohon maaf," katanya, Senin (14/3/2022).


Reini juga melayangkan permohonan maaf kepada orang tua mahasiswa SBM ITB. Ia mengakui, insiden konflik itu berimbas kepada kepercayaan orang tua yang khawatir perkuliahan anak-anaknya terganggu akibat insiden tersebut.

"Yang kedua kami mohon maaf kepada orang tua mahasiswa yang menitipkan putra putrinya untuk bergabung di SBM. Kami amat menjaga amanah bapak ibu, karena kami pun merasakan kegalauan dan keresahan bapak ibu yang menuntut untuk meneruskan pendidikan putra putrinya. Insya Allah amanat itu tetap kita jaga, jadi mohon maaf sudah membuat sedikit banyak keresahan yang diakibatkan oleh kami," ungkapnya.

Ia menjelaskan, konflik ITB mencuat lantaran pihak Rektorat ITB tengah melakukan transformasi dalam hal pengelolaan kampus. Diketahui, saat ini ITB berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) yang mewajibkan pengelolaannya dilaporkan kepada negara.

Karena status itu, ITB akhirnya meneken peraturan rektor dengan nomor 1162/IT1.A/PER/2021 yang berisi pencabutan hak swakelola dan swadana yang dilakukan SBM. Sebelum peraturan itu muncul, ITB diketahui berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN) hingga Badan Layanan Umum (BLU).

"Tapi tentunya apapun kesalahan kita, akan kita koreksi. Mudah-mudahan masalah ini tidak tereskalasi lagi. Kami sedang bertransformasi agar pengelolaan ITB lebih baik, perbedaan pendapat sampai keragaman sudut pandang memang merupakan aset. Tapi, ada kerangka hukum, aturan, dan kerangka institut yang harus kita tegakan bersama," ucapnya.

Perkuliahan kembali normal

Reini pun memastikan perkuliahan di SBM ITB akan kembali berjalan normal. Pihak Rektorat dan sekolah bisnis manajemen sudah bertemu dan menyepakati beberapa poin mengenai konflik tersebut.

"Pada pertemuan tadi, disepakati sejumlah hal di antaranya kelompok dosen SBM ITB tidak akan melakukan mogok mengajar. Kemudian kegiatan belajar dan mengajar serta pelayanan akademik di SBM ITB akan berjalan secara normal kembali," ungkapnya.

Mengenai aturan swakelola, Reini menyebut hal itu akan dibahas lebih lanjut antara rektorat dengan SBM ITB. Pihaknya pun berkomitmen polemik itu harus segera selesai supaya tak mengganggu jalannya perkuliahan.

"Memang ini persoalan pelik, tapi kita diberi kemampuan untuk bahas ini. Kami mohon maaf atas polemik ini. Mohon maaf kepada orang tua, alumni, dan lainnya yang menitipkan anaknya di ITB. Amanat orang tua ini yang kami sangat pegang. Kami sangat rasakan kegalauan dan keresahan yang terjadi," pungkasnya.



Simak Video "Komisi X Mau Mendikbud Nadiem Jadi Mediator Konflik Dosen-Rektor ITB"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/yum)