Sosok Wanita Muslim di Balik Berdirinya Universitas Tertua Dunia

Sosok Wanita Muslim di Balik Berdirinya Universitas Tertua Dunia

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Kamis, 17 Sep 2026 16:15 WIB
Universitas Al-Qarawiyyin
Universitas Al-Qarawiyyin. Foto: Getty Images/iStockphoto/Gregor Inkret
Jakarta -

Islam menempatkan ilmu pengetahuan dan dakwah pada kedudukan yang mulia. Semangat menyebarkan ilmu ini tidak hanya ada pada kaum laki-laki, melainkan juga lahir dari ketulusan dan tekad kuat seorang muslimah.

Salah satu jejak mulia di antaranya adalah pendirian universitas tertua pertama di dunia yang diprakarsai oleh seorang wanita muslim, yakni Fatimah al-Fihri. Ketulusan hati dan niatnya untuk berbuat baik demi kemaslahatan bersama berhasil menciptakan pusat pendidikan termasyhur pada masa itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut adalah kisah Fatimah al-Fihri, sosok wanita muslim yang mendirikan universitas tertua di dunia.

Profil Fatimah al-Fihri

Fatimah al-Fihri merupakan anak perempuan dari Muhammad al-Fihri yang lahir pada 800 M di Kairouan, Tunisia. Ayahnya merupakan seorang saudagar kaya di daerahnya, sehingga Fatimah al-Fihri tumbuh dalam keluarga kaya yang berkecukupan sejak kecil. Mengutip buku Kisah Pahlawan Muslimah Dunia oleh Hafidz Muftisany, Fatimah cenderung memiliki ketertarikan pada bidang sosial dan pendidikan, meski tumbuh di keluarga pebisnis.

ADVERTISEMENT

Pada abad ke-9, ayahnya memutuskan untuk memboyong seluruh keluarganya ke Maroko dan menetap di sana untuk mengembangkan bisnis. Saat itu, Maroko dipimpin oleh Raja Idris II dan menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan Afrika Utara.

Dikisahkan bahwa setelah ayahnya meninggal, kekayaan keluarga dikelola oleh Fatimah dan sang adik, Maryam.

Kehidupan Fatimah Sepeninggalan Ayahnya

Sepeninggalan ayahnya, Fatimah dan Maryam tak hanya mengembangkan bisnis, tetapi juga melebarkan sayap ke dunia dakwah dan pendidikan. Dua bersaudara ini memiliki semangat, keinginan, dan misi yang sama, yakni agar harta warisan ayahnya dapat bermanfaat dan mendatangkan pahala.

Mereka memutuskan untuk membangun masjid. Fatimah membangun Masjid al-Qarawiyyin, sementara Maryam membangun Masjid al-Andalus. Kelak, kedua masjid ini menduduki posisi dan peran penting dalam penyebaran Islam di Maroko dan Eropa pada masa itu.

Fatimah al-Fihri Mendirikan Masjid Al-Qarawiyyin

Merangkum buku Tokoh Muslim Terkemuka oleh Tim Penulis Smart Media, Fatimah terjun langsung dalam proses pembangunan Masjid al-Qarawiyyin, mulai dari penentuan lokasi hingga pilihan gaya arsitekturnya. Bahkan, ia juga turut mengawasi pembangunan secara langsung.

Masjid al-Qarawiyyin terletak di Kota Fes, Maroko yang lokasinya sangat strategis dengan pusat agama dan budaya, sehingga para sarjana dan cendekiawan muslim tertarik mengunjungi masjid tersebut.

Masjid al-Qarawiyyin selesai dibangun pada awal Ramadan 245 H atau bertepatan dengan 30 Juni 859 M. Dikisahkan, Fatimah berpuasa selama pembangunan masjid berlangsung. Mengenai biaya pembangunan masjid, seluruhnya berasal dari uang pribadi Fatimah dan material bangunannya tidak diambil dari orang lain.

Masjid al-Qarawiyyin Bertransformasi Menjadi Universitas

Mengingat letaknya yang strategis, para sarjana dan cendekiawan muslim berbondong-bondong mendatangi Masjid al-Qarawiyyin. Para pelajar berdatangan dari penjuru Maroko, negara-negara Arab, bahkan dari berbagai belahan dunia.

Oleh karena banyaknya pelajar, sarjana, hingga cendekiawan yang berdatangan, kajian ilmu sering diadakan di Masjid al-Qarawiyyin yang mulai bertransformasi menjadi universitas. Bahkan dalam waktu yang cukup singkat, Kota Fes mampu bersanding dengan Cordova dan Baghdad sebagai pusat ilmu pada masa itu.

Universitas Al-Qarawiyyin Diakui UNESCO sebagai Kampus Tertua di Dunia

Menurut World History Encyclopedia dan University World News, UNESCO dan The Book Guinnes World Record mencatat Universitas al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua dan pertama di dunia yang memberikan gelar akademik kepada para lulusannya.

Universitas al-Qarawiyyin berdiri tegak dengan menjunjung tinggi keberagaman melahirkan cendekiawan yang bukan hanya dari kaum muslim, tetapi juga kaum nonmuslim.

Universitas al-Qarawiyyin melahirkan para pemikir ternama, di antaranya adalah pakar matematika Abu al-Abbas az-Zawawi, pakar bahasa Arab dan dokter Ibnu Bajjah, sosiolog tersohor Ibnu Khaldun, hingga tokoh pemuka mazhab Maliki, Abu Madhab al-Fasi.

Seorang filsuf Yahudi Maimonides (Ibn Maimun) belajar di al-Qarawiyyin di bawah asuhan Abd al-Arab Ibnu Muwashah. Bahkan, seorang astronom terkemuka yang dijadikan nama sebuah kawah di bulan (Alpetragius), yakni al-Bitruji juga disebutkan pernah menuntut ilmu di Universitas al-Qarawiyyin.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads