Kisah Ahli Ibadah Masuk Neraka dan Ahli Maksiat Masuk Surga

Kisah Ahli Ibadah Masuk Neraka dan Ahli Maksiat Masuk Surga

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Jumat, 30 Jan 2026 05:00 WIB
surga
Ilustrasi kisah ahli ibadah masuk neraka dan ahli maksiat masuk surga. Foto: iStock
Jakarta -

Surga dan neraka adalah hak Allah SWT yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Seringkali, sebagai umat Islam kita terjebak pada penilaian, menganggap seorang yang ahli ibadah masuk surga dan seorang ahli maksiat pasti masuk neraka.

Padahal, Allah SWT menegaskan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 128:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا ۗقَالَ النَّارُ مَثْوٰىكُمْ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wa yauma yaḥsyuruhum jamī'ā(n), yā ma'syaral-jinni qadistakṡartum minal-ins(i), wa qāla auliyā'uhum minal-insi rabbanastamta'a ba'ḍunā biba'ḍiw wa balagnā ajalanal-lażī ajjalta lanā, qālan-nāru maṡwākum khālidīna fīhā illā mā syā'allāh(u), inna rabbaka ḥakīmun 'alīm(un).

Artinya: "(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), "Wahai golongan jin, kamu telah seringkali (menyesatkan) manusia." Kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, "Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan buat kami." Allah berfirman, "Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain." Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."

ADVERTISEMENT

Pesan tersebut sejalan dengan kisah tentang seorang ahli ibadah yang justru masuk neraka dan pelaku maksiat yang masuk surga. Ahli ibadah tersebut terjerumus karena kesombongannya, sementara ahli maksiat masuk surga berkat ketulusannya akan taubat kepada Allah SWT.

Disebutkan dalam buku Seni Menjemput Kematian oleh H. Brilly El-Rasheed, S,Pd, terdapat salah satu hadits shahih yang menjelaskan terkait kisah tersebut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Ada laki-laki yang suka berbuat dosa dan laki-laki yang rajin melakukan ibadah.

Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya. Suatu hari orang ahli ibadah berkata lagi, 'Berhentilah dari berbuat dosa.'

Dia menjawab, 'Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.'

Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, 'Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.' Kemudian Allah SWT mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman kepada laki-laki ahli ibadah, 'Apakah kamu lebih mengetahui daripada aku? Atau kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tangan-Ku.'

Kemudian kepada ahli maksiat, Allah SWT berfirman, 'Masuklah kamu ke dalam surga berkat Rahmat-Ku.' Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, 'Masukkan orang ini ke neraka'." (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa keputusan tentang surga dan neraka sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan atau menilai akhir dari orang lain, karena rahmat dan keadilan Allah SWT melampaui penilaian manusia.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads