Sakit sering kali hanya dilihat sebagai musibah kemalangan. Namun sebenarnya, hilangnya nikmat sehat seorang hamba ini tak luput dari kemurahan hati Allah SWT.
Apabila dimaknai lebih dalam, Allah SWT memberikan keberkahan kepada hamba-hamba-Nya yang ditimpa rasa sakit melalui pengguguran dosa-dosanya.
Lalu sakit seperti apa yang dapat menggugurkan dosa? Simak penjelasannya dalam ulasan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalil Mengenai Sakit Menggugurkan Dosa
Allah SWT memberikan sukacita kepada para hamba-Nya dengan berbagai cara. Orang terpuji diberkahi dengan kesehatan dan pahala atas amal saleh, sedangkan orang yang sakit diberkahi dengan pengguguran dosa yang dilakukannya.
Mengutip buku Betapa Allah Mencintaimu susunan Ratna Dewi Idrus, sesungguhnya rasa sakit sekecil apa pun itu, niscaya Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya.
Dari Ummul 'Ala' berkata, "Rasulullah SAW mengunjungiku ketika aku sakit, lalu beliau bersabda, 'Bergembiralah, hai Ummul 'Ala', sesungguhnya apabila seorang muslim sakit, Allah akan menghilangkan kesalahannya sebagaimana api menghilangkan karatnya emas dan perak'." (HR Abu Dawud)
Sakit yang Menggugurkan Dosa Menurut Rasulullah
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam 'Uddatush Shabirin yang diterjemahkan Iman Firdaus memaparkan sejumlah hadits tentang sakit sebagai penggugur dosa. Rasulullah SAW pernah menjelaskan kepada para sahabat mengenai sakit yang dapat menggugurkan dosa.
Diriwayatkan dari hadits Abu Sa'id, ia bercerita, "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Apakah pendapatmu tentang penyakit-penyakit ini apabila menimpa kami?' 'Penghapusan dosa-dosa,' jawab beliau. Ubay ibn Ka'ab bertanya, 'Wahai Rasulullah, sekalipun sedikit?' 'Sekalipun tertusuk duri atau yang melebihinya,' jawab beliau. Ubay lalu berdoa untuk dirinya pada waktu itu agar penyakit demam itu tidak lepas darinya hingga meninggal dunia tanpa meninggalkan haji, umrah, jihad di jalan Allah, dan salat wajib berjamaah. Setelah itu, hingga dia meninggal dunia, setiap orang yang pernah menyentuh kulitnya pasti merasakan panas badannya." (HR Ahmad dan Nasa'i)
Diriwayatkan pula dari hadits mursal al-Hasan al-Bashri, dari Rasulullah SAW, "Allah benar-benar menghapuskan semua dosa orang mukmin dengan sakit demam satu malam." (HR Al-Mundziri dalam At-Targhib wat-Tarhib)
Mengenai hadits ini, Ibnu Abi Dunya berkata, "Ibnu Mubarak berkata, 'Ini termasuk hadits jayyid (sanadnya baik), maka para sahabat berharap terkena demam satu malam agar dosa-dosa mereka terhapuskan'." (HR Tirmidzi)
Adapun riwayat dari Sayyidah Aisyah RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, "Sakit demam itu menggugurkan dosa-dosa, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya." (HR Ibnu Qani', Ahmad dan Al-Mundziri)
Kisah Rasulullah Jatuh Sakit
Masih merujuk sumber sebelumnya, terdapat riwayat yang mengisahkan Rasulullah SAW jatuh sakit hingga tidak tidur selama kurang lebih 15 hari.
Masruq berkata, diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, "Tidak pernah aku melihat orang yang sakitnya lebih parah daripada Rasulullah SAW. Beliau menderita sangat parah apabila sakit, hingga barangkali beliau tidak tidur selama 15 hari. 'Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu?' saran kami. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya kami, para nabi, sakit kami diperparah agar menghapuskan dosa-dosa kami'." (HR Bukhari dan Muslim)
Hamba yang Sembuh dari Sakit Hanya Tersisa Baiknya
Berbagai riwayat juga menyebut seorang hamba yang sembuh dari sakitnya, maka ia suci.
Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang mukmin apabila sembuh dan kembali sehat dari sakitnya adalah bak salju yang jatuh dari langit; dingin dan putih." (HR Tirmidzi dan Ibnu Abi Dunya)
Diriwayatkan pula dari Abu Umamah secara marfu', "Setiap orang muslim yang tergeletak menderita sakit sampai tidak bisa bangun, pasti akan dibangunkan (disembuhkan) darinya dalam keadaan suci." (HR Ath-Thabrani dan Al-Mundziri)
Pun diriwayatkan oleh Abu Umamah, "Perumpamaan orang mukmin ketika sakit panas seperti besi yang dimasukkan ke dalam api lalu karatnya hilang, yang tersisa tinggal yang baiknya saja." (HR Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Wallahu a'lam.
