Buya Hamka dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan tokoh Islam Indonesia yang menghasilkan banyak karya. Namun, jauh sebelum namanya dikenal luas, ia pernah menjalani perjalanan panjang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji saat berusia 19 tahun.
Perjalanan itu berlangsung pada Februari 1927. Kala itu, Hamka masih bernama Abdul Malik Karim Amrullah atau Malik. Ia berangkat dari Minangkabau, Sumatera Barat, dengan bekal terbatas dan tanpa memberi tahu ayahnya mengenai tujuan sebenarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat ke Makkah karena Kekecewaan
Merujuk buku Adi Cerita Hamka yang ditulis James R. Rush, sebelum berangkat haji, Malik menghadapi sejumlah persoalan yang membuatnya merasa kecewa. Ia dinilai belum cukup menguasai ilmu agama, terutama tata bahasa Arab, meskipun dikenal pandai berpidato dan menyampaikan gagasan.
Kekecewaannya bertambah ketika ia tidak diterima menjadi guru di sekolah Muhammadiyah Padang Panjang karena tidak memiliki ijazah yang disyaratkan. Nasihat ayahnya, Haji Rasul, agar ia memperdalam ilmu pengetahuan juga membuat ia semakin memikirkan masa depannya.
Dalam kisah hidupnya, Malik kemudian memutuskan pergi ke Makkah. Ia tidak menyampaikan rencana tersebut kepada ayahnya dan hanya berpamitan hendak pergi ke tempat yang jauh.
Dengan keterbatasan biaya, ia berjalan kaki dari Maninjau menuju Padang. Perjalanan kemudian berlanjut hingga ia tiba di Pelabuhan Belawan, Medan. Di sana, ia bertemu temannya, Isa, yang membantu biaya keberangkatannya.
Pada awal Februari 1927, Malik menaiki kapal Karimata menuju Jeddah. Ia berangkat bersama rombongan jemaah haji dari Indonesia. Selama pelayaran, kemampuannya membaca Al-Qur'an membuatnya dihormati penumpang lain. Ia bahkan dipanggil dengan sebutan ajengan.
Bekerja di Makkah untuk Bertahan Hidup
Setibanya di Makkah, Malik belum bisa langsung melaksanakan ibadah haji karena musim haji belum tiba. Ia harus menunggu sambil mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pada awalnya, ia membantu kegiatan pengajaran agama bagi jemaah Indonesia. Ia juga bergabung dengan perkumpulan Persatuan Hindia-Timur. Namun, penghasilan yang diperoleh tidak selalu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kesempatan kemudian datang ketika Malik bekerja di sebuah percetakan milik Hamid Kurdi. Pekerjaan itu memberinya penghasilan sekaligus akses untuk membaca berbagai kitab klasik, buku, dan buletin Islam berbahasa Arab.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga bagi Malik untuk memperluas wawasan keislamannya. Ia tidak hanya datang untuk menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga memanfaatkan waktunya untuk belajar.
Di tengah keterbatasan, Malik bahkan sempat dipercaya membantu kegiatan manasik haji bagi jemaah Indonesia. Ia bersama sejumlah anggota perkumpulan berupaya menemui Amir Faishal, putra Raja Ibnu Saud, dan Imam Besar Masjidil Haram Abu Samah. Malik juga sempat mengajar agama di kompleks Masjidil Haram, meski kemudian mendapat tentangan dari pemandu hajinya.
Sakit saat Wukuf di Arafah
Perjuangan Malik belum berakhir ketika musim haji tiba. Cuaca panas di Tanah Suci menjadi tantangan berat bagi pemuda asal Minangkabau tersebut.
Saat berada di Arafah, ia mengalami sakit kepala hebat hingga tidak mampu berjalan. Kondisinya semakin lemah dan ia sempat kehilangan kesadaran. Dalam catatan perjalanan yang dikisahkan kembali oleh detikNews, Malik bahkan pingsan ketika menempuh perjalanan di padang pasir dengan menunggang unta.
Di tengah kondisi tersebut, ia terus berusaha bertahan.
Meski demikian, Malik akhirnya berhasil menyelesaikan rangkaian ibadah hajinya. Ia menjalani rangkaian manasik, termasuk melontar jumrah di Mina, mencukur rambut, tawaf di Ka'bah, salat di Maqam Ibrahim, serta sa'i antara Bukit Safa dan Marwah.
Setelah menyelesaikan ibadah haji, Malik sempat mempertimbangkan untuk menetap di Makkah. Namun, pertemuannya dengan Haji Agus Salim mengubah rencana tersebut.
Agus Salim menasihatinya agar kembali ke Tanah Air dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuannya di Indonesia. Menurut Agus Salim, masih banyak pekerjaan penting yang dapat dilakukan Malik dalam bidang pergerakan, pendidikan, dan perjuangan.
Dalam catatan yang dilansir dari MUI Sulawesi Tengah, Agus Salim menyampaikan nasihat berikut:
"Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkan diri di Tanah Airmu sendiri".
Nasihat tersebut membuat Malik akhirnya memutuskan pulang. Setelah sekitar tujuh bulan berada di Makkah, ia kembali ke Tanah Air. Namun, ia tidak langsung pulang ke kampung halamannya, melainkan singgah di Medan.
Persinggahan di Medan menjadi babak penting dalam perjalanan karier Malik. Ia mulai menulis pengalaman hajinya untuk surat kabar Pelita Andalas. Dari sinilah kiprahnya sebagai jurnalis semakin berkembang.
Pengalaman selama berada di Makkah juga meninggalkan kesan mendalam yang kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bagi karya sastranya, Di Bawah Lindungan Ka'bah.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mencatat bahwa pengalaman Malik selama enam bulan di Makkah turut memberinya kesempatan mengasah kemampuan bahasa Arab sekaligus menjadi inspirasi kuat bagi novel tersebut. Sejumlah sumber biografi menyebut masa tinggalnya sekitar enam hingga tujuh bulan.
