Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) berpeluang memiliki gaya berpakaian baru saat berkantor. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengusulkan penggunaan sarung dan peci selama satu hari dalam sepekan bagi para pegawai Kemenag untuk merawat identitas budaya Nusantara.
"Mengenakan sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita kerja pakai sarung dan peci," kata Nasaruddin di Jakarta, dikutip dari laman Kemenag, Minggu (25/10/2026).
Nasaruddin menegaskan, gagasan ini bersifat anjuran dan tak perlu dijadikan kewajiban yang mengikat. Fleksibilitas tetap diutamakan dengan mempertimbangkan kenyamanan serta efektivitas pegawai dalam menjalankan tugas harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Menag, sarung dan peci bukan sekadar pakaian khas pesantren, melainkan warisan sejarah, filosofi, dan simbol kebanggaan nasional. Ia menilai kemajuan bangsa tak sepatutnya mengikis identitas lokal, sebagaimana bangsa-bangsa lain yang bangga mengenakan busana tradisional mereka di kancah internasional.
"Sarung dan peci itu adalah pakaian kebangsaan, pakaian spiritual, pakaian budaya, pakaian kehormatan," tegas Nasaruddin.
Ia mencontohkan beragam kekayaan tenun dan penutup kepala daerah, mulai dari sarung Samarinda, Bugis, batik, hingga peci khas Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi yang kaya nilai sejarah.
Muncul Usulan 'Selasa Bersarung'
Gagasan Menag langsung direspons cepat oleh Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said. Pihaknya mengusulkan gerakan khusus bertajuk "Selasa Bersarung" di lingkungan Ditjen Pesantren.
"Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung," ungkap Basnang.
Pemilihan hari Selasa didasari keserasian estetika seragam kerja pegawai Kemenag yang lazim mengenakan atasan putih.
"Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya," jelasnya.
Langkah ini diharapkan tak sekadar menjadi ajang nostalgia visual, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap tradisi keilmuan, kedisiplinan, dan kerendahan hati ala pesantren yang telah mengakar kuat di Indonesia.
