Puluhan Ribu Warga Korsel Mualaf, Ini Alasannya

Puluhan Ribu Warga Korsel Mualaf, Ini Alasannya

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 14 Okt 2026 20:00 WIB
Bendera Korea Selatan
Bendera Korea Selatan (Foto: J. Patrick Fischer/Wikimedia Commons)
Jakarta -

Gelombang fenomena baru tengah melanda masyarakat Korea Selatan (Korsel). Di tengah kepungan budaya pop dan gaya hidup modern, puluhan ribu warga asli Korea Selatan memilih untuk pindah keyakinan menjadi seorang Muslim.

Mengutip The Korea Times, diperkirakan ada sekitar 45.000 warga etnis Korea yang lahir dan dibesarkan di Negeri Ginseng tersebut kini memeluk agama Islam. Setiap bulannya, Masjid Pusat Seoul di Itaewon rutin kedatangan sekitar 5 hingga 25 mualaf baru yang mengikuti pelatihan dasar sebelum mengikrarkan dua kalimat syahadat. Mayoritas dari mereka merupakan anak muda berusia 20 hingga 30-an tahun.

Lantas, apa sebetulnya yang memicu tren ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasan Puluhan Ribu Warga Korsel Memeluk Islam

Salah satu alasan utama yang mendorong para pria Korea masuk Islam adalah kejenuhan terhadap budaya kencan di negaranya. Budaya pacaran di kota-kota besar seperti Seoul dinilai sangat kompetitif dan menuntut standar materi yang tinggi.

ADVERTISEMENT

"Kebanyakan pria melakukannya untuk mencari istri," ungkap Yusuf (30-an), seorang mualaf lokal yang memeluk Islam sejak 2014 lalu.

Menurut Yusuf, ajaran Islam menawarkan jalan hidup yang lebih sederhana dan jelas dalam membina rumah tangga.

Tak cuma pria, mualaf wanita di Korsel juga menyoroti konsep "kesederhanaan" dan tauhid sebagai alasan utama. Areum, seorang mualaf wanita berusia 30-an, mengaku tertarik pada ajaran Islam yang mengedepankan tauhid (Satu Tuhan) serta nilai-nilai penghormatan kepada orang tua yang sangat selaras dengan budaya asli Korea.

Secara umum, ajaran Islam dipandang sebagai 'jalan keluar' bagi generasi muda Korea yang merasa penat dan tidak puas dengan tekanan ekspektasi sosial budaya tradisional yang dinilai terlalu kaku (insular).

Fenomena mualaf ini kian terakselerasi berkat peran media sosial dan para kreator konten. Kehadiran influencer ternama seperti Ayana Jihye Moon dan Daud Kim dinilai berhasil mendobrak stereotip negatif tentang Islam yang selama ini kerap ditampilkan media arus utama Korea.

Selain itu, tren pernikahan lintas negara juga memicu populernya konten-konten bertema Oppa Muslim di TikTok dan YouTube, khususnya dari para pria Korea yang menikah dengan wanita asal Indonesia. Perpaduan gaya antara hijab dan busana tradisional Korea (hanbok) pun kini kian lazim dijumpai di media sosial.

Meski beberapa mualaf sempat khawatir akan bayang-bayang diskriminasi atau pengucilan dari lingkungan kerja dan pertemanan lama, sebagian besar mualaf Korea justru menemukan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat di dalam komunitas Muslim.

Bagi mereka, kehangatan dan rasa persaudaraan sesama Muslim memberikan sistem pendukung yang solid di tengah kerasnya kehidupan di Korsel.

"Meskipun saya tinggal di Korea sepanjang hidup saya, berkunjung ke Masjid Pusat Seoul untuk pertama kalinya akhirnya terasa seperti pulang ke rumah," tutur Areum.



(hnh/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads