Turunnya makanan dari langit yaitu manna dan salwa untuk Bani Israil. Hal ini tertuang dalam surah Al Baqarah ayat 57.
Allah SWT berfirman,
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ ٱلْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ ٱلْمَنَّ وَٱلسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."
Apa Itu Manna dan Salwa?
Dilansir dari Tafsir Kementerian Agama, Allah SWT mengaruniakan makanan manna dan salwa bagi Bani Israil ketika mereka tiba di gurun pasir dan ditimpa panas yang amat terik. Manna sendiri disebut sebagai makanan yang manis seperti madu dan turun terus menerus sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
Sementara itu, salwa adalah semacam burung puyuh. Masing-masing dari Bani Israil mengambil secukupnya untuk makanan mereka keesokan harinya.
Allah SWT memberi makanan dan minuman yang mengandung zat gula karena Bani Israil sedang berada di tengah gurun pasir yang panas serta membuat energi dan tenaga mereka mudah terkuras. Manna jadi sejenis makanan manis atau minuman berenergi seperti madu yang dibutuhkan di daerah gurun pasir.
Apabila seseorang memakan makanan yang mengandung banyak zat gula, maka energinya meningkat dan memberi dampak perasaan senang. Zat gula juga membuat orang lebih bersemangat.
Begitu juga dengan salwa. Sejenis burung puyuh ini dagingnya memiliki kandungan protein dan lemak yang luar biasa tinggi.
"Makanan ini dibutuhkan oleh orang-orang yang berada di gurun pasir yang panas sekali. Allah Mahamengetahui dan Mahabijaksana dengan memberikan makanan Mann dan Salwa kepada Bani Israil yang melakukan perjalanan panjang dan berat dari Mesir ke Syria," tulis Tafsir Kemenag RI pada surah Al Baqarah ayat 57.
Sementara itu diterangkan dalam Qashash Anbiya susunan Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, manna disebut sebagai cairan berwarna putih mirip madu, seperti tetesan kristal menyerupai embun di atas daun. Saat pagi hari, Bani Israil mengumpulkannya menjadi makanan yang manis.
Manna dan salwa jadi keperluan yang disediakan Allah SWT untuk menopang hidup Bani Israil dengan makanan berbahan gula manis dan burung yang enak tanpa perlu bersusah payah. Bahkan mereka melihat semua itu sudah disediakan di hadapan mereka. Sehingga yang tinggal mereka lakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat itu. Namun mereka justru protes.
Mereka berkata, "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja."
Makanan yang mereka mintakan kepada Allah, yaitu bawang merah, bawang putih, mentimun, dan kacang adas itu lebih rendah kualitasnya daripada manna. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 61,
وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۗ قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ࣖ ٦١
Artinya: "(Ingatlah) ketika kamu berkata, "Wahai Musa, kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan. Maka, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah." Dia (Musa) menjawab, "Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota. Pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta." Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas."
