Nasaruddin Umar Ajak Imam Besar Dunia Gunakan Bahasa Agama untuk Redam Konflik

Nasaruddin Umar Ajak Imam Besar Dunia Gunakan Bahasa Agama untuk Redam Konflik

Lusiana Mustinda - detikHikmah
Jumat, 25 Sep 2026 14:55 WIB
Menteri Agama RI (Menag) Nasaruddin Umar
Foto: Kemenag
Jakarta -

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya peran imam besar dalam menyentuh hati nurani masyarakat untuk meredam konflik. Hal itu disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Nasaruddin mengatakan hari ini menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Sebab, para imam besar dari berbagai negara berkumpul di Jakarta untuk membahas sejumlah persoalan krusial dalam acara International Grand Imams Conference (IGIC) 2026.

"Ini adalah pertama kalinya kita mengumpulkan seluruh imam-imam besar dari Timur Tengah, dari Eropa, dari Amerika, Amerika Latin, dari Asia, ada Pakistan, Korea, dan Asia Tenggara," ujar Nasaruddin yang dikutip detikHikmah melalui live streaming Masjid Istiqlal pada (25/09/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nasaruddin, para imam besar memiliki posisi strategis di masing-masing negara. Mereka dinilai memiliki kemampuan untuk menyentuh sisi batin masyarakat melalui pendekatan agama.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk meredam konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sebab, menurutnya, diplomasi formal belum selalu mampu menyelesaikan berbagai persoalan.

ADVERTISEMENT

"Diplomasi formal ternyata tidak banyak berhasil meredam konflik. Mari kita cari cara lain bagaimana menyentuh hati," tuturnya.

Kemanusiaan Menyatukan Perbedaan

Nasaruddin kemudian mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki rasa kemanusiaan yang sama, terlepas dari perbedaan agama, etnis, maupun kewarganegaraan.

"Kita sangat yakin bahwa kemanusiaan itu hanya satu, humanity is only one. Apa pun agamanya, apa pun etniknya, apa pun warga negaranya, hati insan itu hanya satu," kata Nasaruddin.

Ia mengatakan kesamaan tersebut perlu menjadi dasar untuk mempertemukan hati nurani manusia. Dengan begitu, bahasa agama dapat digunakan untuk membangun kesadaran bersama mengenai berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia.

"Kita sama-sama anak Nabi Adam, anak manusia, pasti punya rasa yang sama. Mari mempertemukan hati nurani dan menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan diri kita," ujarnya.

Menurutnya, dengan menggunakan bahasa keagamaan untuk menciptakan suatu kohesi sosial, integrasi masyarakat dunia, itu akan lebih efektif.

Selain persoalan konflik, Nasaruddin mengajak para imam besar menggunakan pendekatan agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Menurutnya, agama dapat menjadi sarana untuk mengingatkan manusia agar tidak melakukan tindakan yang merusak alam semesta.

"Mari kita menyentuh mereka menggunakan bahasa agama untuk menjaga alam semesta ini," katanya.

Nasaruddin mengingatkan kerusakan alam yang terus terjadi akibat ulah manusia dapat membawa dampak besar bagi kehidupan. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab yang perlu dibangun melalui kesadaran bersama.

"Kalau kita melakukan perusakan alam, maka kita sesungguhnya akan mengundang kiamat. Itu akan datang," pungkasnya.



(lus/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads