Pembentukan struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar ke-35 NU ditargetkan selesai maksimal satu bulan. Meski demikian, Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyebut penyusunan struktur bisa lebih cepat.
Pimpinan Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 NU, Prof Ganefri, mengatakan penetapan ketua umum menjadi awal dari tahapan penyusunan rencana pelaksanaan formatur. Selanjutnya, tim formatur diberi mandat untuk menyusun struktur kepengurusan PBNU dengan batas waktu paling lama satu bulan.
Tim formatur terdiri atas H Abdul Qahar Yelipele dari Papua Pegunungan, H Amar Manaf dari Maluku, Prof Mansur Ma'shum dari NTB, dan KH Muhammad Wildan Salman dari Kalimantan Selatan. Selain itu, terdapat KH Abdul Ghaffar Rozin dari Jawa Tengah, Prof Ganefri dari Sumatera, serta tuan rumah Muktamar ke-35 NU, KH Abdul Matin Djawahir dari Tuban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir laman resmi NU, Gus Kikin menegaskan tenggat satu bulan merupakan batas maksimal, bukan waktu yang harus dihabiskan dalam proses penyusunan kepengurusan.
"Ya enggak tahu, nanti kita lihat aja. Tapi itu kan target maksimal 1 bulan. Itu kan butuh cepat juga, nanti kita lihat aja. Jadi seharusnya bisa dipercepat," ujarnya di Gedung Serba Guna, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Menurut Gus Kikin, pembentukan struktur organisasi menjadi pekerjaan pertama yang perlu dituntaskan agar PBNU dapat segera menjalankan berbagai program organisasi.
"Programnya tetap aja 1 bulan, itu kita ngisi dulu organisasi. Tanpa itu kita bagaimana mau kerja," ujarnya.
Mengenai empat kandidat calon ketua umum lainnya yang masuk dalam tabulasi, Gus Kikin memastikan potensi yang ada di lingkungan NU akan tetap dirangkul dan dimaksimalkan. Ia mengatakan seluruh kekuatan tersebut perlu diberi ruang untuk berkontribusi dalam organisasi.
"Tadi bawa jalan-jalan, itu kita akan coba kita wadahi. Karena itu memang potensi-potensi yang ada itu memang harus kita optimalkan," katanya.
Gus Kikin juga menyatakan keterbukaan untuk membangun sinergi dengan Kiai Ma'ruf Amin maupun berbagai elemen politik lainnya. Menurut dia, sikap terbuka tersebut sejalan dengan karakter NU sebagai organisasi yang inklusif.
"Betul, betul. Itu memang NU itu didirikan memang sangat inklusif..Jadi kita kembali lagi di sini," tuturnya.
Untuk arah kepengurusan ke depan, Gus Kikin menyoroti sejumlah bidang yang akan menjadi perhatian, mulai dari pembangunan sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi, hingga pengelolaan tanah milik NU. Ia mengatakan berbagai agenda tersebut akan dikaji dengan mengacu pada Qanun Asasi.
"Ada di pembangunan SDM, itu ada di buku Qanun Asasi itu. Nah ini, nanti kita pertimbangkan semuanya supaya semuanya itu nanti bisa berjalan bagus, jadi SDM-nya bagus, dan kemudian yang lain-lain, ekonomi juga itu kita optimalkan, bagaimana ekonomi kita, tanah juga di NU ini," katanya.
Ia kembali menekankan nilai keterbukaan dan persatuan menjadi bagian penting dalam prinsip NU. Hal tersebut, menurutnya, juga tercermin dalam Qanun Asasi.
"Jadi buku di situ itu nampak bahwa NU itu di buku itu sangat-sangat inklusif, terbuka. Nah itu nanti ada persyaratannya, bagaimana masuk ke dalam NU, nah di situ itu kita harus bersatu. Kemudian tidak ada kebersamaan, itu inti dari NU," pungkasnya.
