Dua Isu Ini Diperkirakan Akan Jadi Bahasan Seru di Muktamar NU

Dua Isu Ini Diperkirakan Akan Jadi Bahasan Seru di Muktamar NU

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Jumat, 28 Agu 2026 14:31 WIB
Gus Ipul
Gus Ipul di depan Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jumat (28/8/2026). Foto: Dok PBNU
Jakarta -

Ketua Panitia Muktamar ke-35 Nadhlatul Ulama (NU) Saifullah Yusuf mengungkap dua isu yang berpotensi memunculkan perdebatan dinamis dalam bahasan Muktamar NU ke-35, yaitu sistem pemilihan Ketua Umum PBNU dan ketentuan terkait rangkap jabatan pengurus. Isu tersebut akan dibahas dalam sidang Komisi Organisasi.

Sebagaimana diketahui, Muktamar ke-35 NU mulai memasuki rangkaian persidangan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulilah hari ini dimulai sidang pleno pertama untuk membahas tata tertib Muktamar. Kita ikuti perkembangannya, setelh itu nanti ada laporan pertanggungjawaban, kemudian dilanjutkan sidang-sidang komisi," ujar Gus Ipul kepada wartawan Jumat (28/8/2026).

Dia menuturkan pembahasan di tingkat komisi kemungkinan membutuhkan waktu karena ada sejumlah materi yang sebelumnya sudah dibahas dalam forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU).

ADVERTISEMENT

Salah satu isunya berkaitan dengan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Pada materi yang dibawa ke Muktamar, ada opsi mempertahankan mekanisme yang berlaku selama ini maupun gagasan mekanisme baru.

Sebagai informasi dalam mekanisme yang kini digunakan, bakal calon yang memiliki dukungan dalam jumlah tertentu bisa melanjutkan ke tahap pencalonan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk mendapat persetujuan Rais Aam.

Namun, ada juga usulan mekanisme lain. Pada opsi ini, setiap pengurus wilayah dan cabang sebagai pemilik suara mengusulkan lima nama. Nama-nama dengan dukungan terbanyak akan diproses sesuai mekanisme yang ditetapkan Muktamar.

"Ini adalah opsi. Tentu semuanya tergantung keputusan Muktamar," sambung Gus Ipul.

Kemudian selain sistem pemilihan ketua umum, Muktamar juga akan membahas aturan rangkap jabatan di lingkungan kepengurusan NU. Gus Ipul mengatakan salah satu pertanyaan yang akan didiskusikan adalah apakah larangan rangkap jabatan hanya berlaku pada posisi-posisi tertentu sebagaimana ketentuan saat ini atau diperluas kepada jajaran pengurus lainnya.

"Ada usulan-usulan, ada dinamika-dinamika. Tentu nanti semuanya bergantung kepada muktamirin. Itu masih berupa aspirasi yang sebelumnya dibahas di tingkat Munas-Konbes," terangnya.

Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh rancangan materi yang dibawa ke Muktamar telah melewati proses pembahasan berjenjang. Materi tersebut bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba menjelang Muktamar.

"Draft materi yang ada ini melalui proses. Ada yang dibahas di PBNU, kemudian di Munas-Konbes, setelah itu dibawa ke Muktamar. Nanti dibahas di komisi, khususnya Komisi Organisasi. Pasti menarik," tambahnya.

Walau dirinya memperkirakan akan terjadi perdebatan, menurut Gus Ipul perbedaan pandangan jadi hal biasa dalam tradisi NU.

"Kita sudah terbiasa dengan perbedaan, kita sudah terbiasa berdebat," sambungnya.

Walau demikian, Gus Ipul mengingatkan agar seluruh dinamika tersebut tetap berlangsung dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan sebagaimana semangat Muktamar ke-35 NU.

"Sebagaimana harapan kita semua, khususnya Pondok Pesantren Bahrul Ulum, apa pun yang terjadi, perbedaan sekeras apa pun, kita harus tetap gembira," jelasnya.

Gus Ipul mengingatkan Muktamar kali ini berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki ikatan sejarah sangat kuat dengan para pendiri NU. Pondok Pesantren Bahrul Ulum sendiri adalah pesantren yang dibesarkan salah seorang muassis sekaligus penggerak utama NU, KH Abdul Wahab Hasbullah. Tidak jauh dari lokasi Muktamar juga terdapat makam KH Hasyim Asy'ari dan KH Bisri Syansuri.

"Kita berada di pangkuan para muassis, di pesantrennya Mbah Wahab Hasbullah. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat, inspirasi, dan motivasi bagi peserta Muktamar," katanya.

Gus Ipul berharap perdebatan yang berlangsung selama Muktamar bisa melahirkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama.

"Jadi setelah kita berdebat, tetap dalam suasana gembira. Dari kegembiraan itu mudah-mudahan datang keberkahan. Akhirnya kita semua bisa mengucapkan: Alhamdulillah," tandasnya.



(aeb/erd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads