Nabi Muhammad Manusia Paling Berpengaruh di Dunia Menurut Ilmuwan AS

Nabi Muhammad Manusia Paling Berpengaruh di Dunia Menurut Ilmuwan AS

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 09 Agu 2026 19:00 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Foto: iStock
Jakarta -

Nabi Muhammad SAW disebut sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Penilaian tersebut bukan datang dari seorang ulama atau tokoh muslim, melainkan dari Michael H. Hart, penulis asal Amerika Serikat yang menyusun daftar 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah.

Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW di posisi pertama dalam bukunya yang berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1978 dan kemudian mengalami revisi serta pembaruan.

Dalam buku itu, Hart menegaskan bahwa ukuran yang digunakannya bukanlah siapa tokoh yang paling baik atau paling mulia. Ia menilai berdasarkan seberapa besar seseorang mempengaruhi jalannya sejarah dan kehidupan manusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengaruh" inilah yang kemudian membuat Nabi Muhammad SAW berada di posisi teratas, mengungguli tokoh-tokoh besar lainnya, termasuk Isaac Newton dan Yesus Kristus.

Hart menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya tokoh dalam sejarah yang dinilainya berhasil secara luar biasa dalam dua ranah sekaligus, yakni agama dan kehidupan duniawi.

ADVERTISEMENT

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah sekitar tahun 570 M. Menurut uraian Hart, pada masa itu Makkah berada jauh dari pusat-pusat peradaban, perdagangan, seni, dan ilmu pengetahuan dunia.

Nabi Muhammad SAW kemudian menerima wahyu pada usia 40 tahun dan mulai menyampaikan ajaran tentang keesaan Tuhan. Setelah menghadapi penolakan di Makkah, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah pada 622 M.

Peristiwa hijrah tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan dakwah Nabi. Di Madinah, selain menjadi pemimpin agama, Muhammad juga memainkan peran sebagai pemimpin masyarakat dan politik.

Dalam beberapa tahun berikutnya, pengaruh Nabi Muhammad SAW berkembang semakin luas. Pada 630 M, beliau kembali ke Makkah sebagai pemimpin dan penakluk. Dua tahun kemudian, pada 632 M, Nabi Muhammad SAW wafat setelah pengaruh Islam telah menyebar luas di Jazirah Arab.

Pengaruh Agama dan Politik

Menurut Hart, Nabi Muhammad SAW berperan dalam membangun ajaran Islam sekaligus menjadi pemimpin politik. Ia juga memimpin komunitas yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar di kawasan Arab.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kepemimpinan dilanjutkan oleh para sahabatnya. Dalam beberapa dekade, wilayah kekuasaan Islam berkembang hingga mencakup wilayah yang sangat luas.

Hart menilai rangkaian penaklukan Arab pada abad ke-7 menjadi salah satu perkembangan penting dalam sejarah dunia. Ia bahkan membandingkannya dengan ekspansi bangsa Mongol di bawah Genghis Khan.

Namun, menurut Hart, terdapat perbedaan penting. Pengaruh ekspansi Arab tidak berhenti pada perubahan politik dan wilayah kekuasaan, tetapi juga membawa perubahan agama, bahasa, dan kebudayaan yang bertahan selama berabad-abad.

Dari Irak hingga Maroko, terbentuk kawasan yang memiliki keterkaitan dalam agama Islam, bahasa Arab, sejarah, dan kebudayaan.

Mengapa di Atas Yesus?

Hart menjelaskan bahwa pengaruh Nabi Muhammad SAW melampaui tokoh-tokoh agama lainnya. Dalam perbandingannya dengan agama Kristen misalnya, Hart menempatkan Yesus di posisi ketiga karena pembentukan teologi Kristen juga sangat dipengaruhi oleh peran Santo Paulus. Sementara itu, dalam Islam, Nabi Muhammad SAW memegang peran tunggal yang dominan dalam merumuskan teologi, prinsip etika, hingga penyampaian kitab suci Al-Qur'an.

Posisi Nabi Muhammad SAW di atas Yesus Kristus menjadi salah satu bagian paling menarik dari penilaian Hart. Hart menempatkan Yesus di posisi ketiga.

Hart juga melihat adanya perbedaan dalam sumber ajaran kedua agama tersebut. Ia menilai Al-Qur'an memiliki posisi yang sangat sentral dalam Islam karena memuat ajaran yang diyakini umat Islam sebagai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, Hart berpendapat pengaruh Nabi Muhammad SAW terhadap Islam sangat besar, baik secara keagamaan maupun sosial.

Hal lain yang menjadi perhatian Hart adalah posisi Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin duniawi.

Dalam buku tersebut, Hart menyebut kombinasi pengaruh keagamaan dan sekuler Nabi Muhammad SAW sebagai sesuatu yang sangat jarang ditemukan dalam sejarah.

Dari sudut pandang Hart, apabila Nabi Muhammad SAW hanya berperan sebagai pemimpin agama, posisinya dalam daftar tersebut mungkin akan berbeda. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Nabi juga memimpin masyarakat, membangun tatanan politik, dan mempersatukan berbagai kelompok Arab.

Pengaruh tersebut kemudian berlanjut setelah wafatnya melalui perkembangan kekuasaan dan peradaban Islam.

Karena itulah, Hart menyimpulkan bahwa kombinasi pengaruh agama dan duniawi tersebut membuat Nabi Muhammad SAW layak ditempatkan sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.



(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads