Kapan Rebo Wekasan 2026 dan Benarkah Allah Turunkan Bala?

Kapan Rebo Wekasan 2026 dan Benarkah Allah Turunkan Bala?

Kristina - detikHikmah
Rabu, 05 Agu 2026 10:15 WIB
Shot of a dramatic thunderstorm over a mountainhttp://195.154.178.81/DATA/i_collage/pi/shoots/783670.jpg
Ilustrasi bencana. Foto: iStock
Jakarta -

Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya bala bencana. Sebagian masyarakat kemudian melakukan sejumlah tradisi agar terhindar dari musibah.

Istilah Rebo Wekasan populer di kalangan masyarakat Jawa. Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar.

Safar adalah bulan ke-2 dalam kalender Hijriah, terletak di antara Muharram dan Rabiulawal. Dalam kalender Jawa, Safar disebut Sapar terletak di antara Suro dan Mulud.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rebo Wekasan 2026 Jatuh pada 12 Agustus

Tahun ini, masyarakat memasuki Safar 1448 H. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 susunan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Rabu terakhir bulan Safar atau Rebo Wekasan jatuh pada 12 Agustus 2026.

Benarkah Allah Menurunkan Bala pada Rebo Wekasan?

Tidak benar. Keyakinan turunnya bala atau kesialan pada Rebo Wekasan hingga anjuran amalan tertentu tidak terdapat dalam nash, baik Al-Qur'an maupun hadits shahih.

ADVERTISEMENT

Menurut penelusuran detikHikmah, keterangan turunnya bala pada Rabu terakhir bulan Safar terdapat dalam kitab Kanz an-Najah wa al-Surur. Kitab tersebut dikarang KH Abdul Hamid, ulama asal Makkah--pendapat lain Hadramaut--yang pernah singgah di Semarang dan Kudus, Jawa Tengah.

Dinukil dari artikel Jurnal THEOLOGIA Vol 30 No 2 (2019) berjudul Rebo Wekasan Menurut Perspektif KH. Abdul Hamid Dalam Kanz Al-Najah Wa Al-Surur karya Umma Farida, KH Abdul Hamid dalam kitabnya mengatakan Allah SWT menurunkan 320.000 bencana pada Rabu terakhir bulan Safar. Keterangan ini mengacu pada para wali yang memiliki pengetahuan spiritual mendalam.

Masyarakat yang meyakini turunnya musibah pada Rabu terakhir bulan Safar kemudian melakukan amalan dan ritual agar terhindar dari bencana tersebut. Ritual inilah yang kemudian disebut Rebo Wekasan.

Masyarakat Kudus melakukan salat sunnah mutlak. Salat ini terdiri dari 4 rakaat dengan membaca Al-Fatihah dilanjutkan Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq 1 kali, dan An-Nas 1 kali di setiap rakaatnya. Setelah salat selesai, masyarakat melanjutkannya dengan doa tolak bala, membaca Yasin, dan minum air Salamun.

Bantahan Tak Ada Kesialan Bulan Safar

Keyakinan akan kesialan bulan Safar sudah ada sejak zaman jahiliah. Rasulullah SAW lantas membantah hal itu. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: "Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR Bukhari)

Rasulullah SAW juga melarang mencela bulan, hari, atau tahun. "Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah (pencipta) masa." (Shahih Muslim)

Wallahu a'lam.



(kri/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads