Spanyol kembali mengukir sejarah. Tim Matador memastikan gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor 1-0 pada partai final di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu mengantarkan Spanyol meraih trofi Piala Dunia kedua sepanjang sejarah. Prestasi tersebut menegaskan posisi Spanyol sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia.
Namun, nama Spanyol tidak hanya dikenal karena prestasi di lapangan hijau. Berabad-abad sebelum menjadi negara dengan sepak bola yang kuat, wilayah ini pernah menjadi pusat peradaban Islam di Eropa Barat melalui pemerintahan Al-Andalus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Masuknya Islam ke Spanyol
Dalam buku Pengantar Sejarah Peradaban Islam Periode Awal-Pertengahan karya Murdiono dijelaskan bahwa sejarah Islam di Spanyol bermula pada abad ke-8 Masehi.
Pada 711 Masehi, pasukan muslim yang dipimpin Tariq ibn Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar dari Afrika Utara menuju Semenanjung Iberia. Saat itu, Afrika Utara berada di bawah Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus.
Dalam waktu relatif singkat, pasukan muslim berhasil menguasai sebagian besar wilayah Spanyol, termasuk kota-kota penting seperti Cordoba, Toledo, dan Sevilla.
Wilayah yang dikuasai kemudian dikenal sebagai Al-Andalus. Di kawasan ini, umat Islam membangun pemerintahan yang berkembang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, budaya, hingga arsitektur.
Cordoba Menjadi Pusat Ilmu Pengetahuan
Pada masa kejayaannya, Cordoba menjadi kota maju di Eropa. Kota ini memiliki perpustakaan, lembaga pendidikan, dan berbagai bangunan megah yang menunjukkan kemajuan peradaban Islam.
Salah satu peninggalan paling terkenal yang masih berdiri adalah Masjid-Katedral Córdoba, yang awalnya dibangun sebagai Masjid Agung Córdoba.
Selama beberapa abad, Al-Andalus tumbuh sebagai pusat intelektual di Eropa Barat. Para ilmuwan menghasilkan berbagai karya dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Berakhirnya Kekuasaan Islam di Spanyol
Kekhalifahan Córdoba, yang merupakan puncak pemerintahan Dinasti Umayyah di Al-Andalus, berakhir pada 1031. Setelah itu, wilayah Al-Andalus terpecah menjadi kerajaan-kerajaan muslim kecil yang berdiri sendiri yang dikenal sebagai taifa.
Memasuki abad ke-8, kerajaan-kerajaan Kristen di bagian utara Semenanjung Iberia mulai memperluas wilayahnya ke kawasan yang dikuasai muslim. Kerajaan-kerajaan tersebut mulai melakukan Reconquista, yaitu upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai umat Islam. Proses Reconquista ini semakin intensif pada abad ke-11 hingga ke-13.
Proses ini berlangsung selama beberapa abad hingga akhirnya kota Granada, benteng terakhir pemerintahan Islam di Spanyol, jatuh ke tangan pasukan Kristen pada 1492 Masehi.
Peristiwa tersebut mengakhiri kekuasaan Islam di Spanyol. Setelahnya, banyak umat Islam menghadapi penindasan, dipaksa berpindah agama, atau diusir dari wilayah tersebut.
Warisan Al-Andalus Masih Terlihat Hingga Kini
Meski kekuasaan Islam di Spanyol telah berakhir, warisan Al-Andalus masih dapat dilihat hingga sekarang. Salah satu yang paling terkenal adalah arsitektur Moor, yang terlihat pada Alhambra di Granada. Bangunan ini masih berdiri megah dan menjadi salah satu contoh arsitektur Islam yang terkenal di dunia.
Selain itu, banyak karya ilmiah dari Al-Andalus diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan ikut membantu perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa.
Pengaruh Islam juga terlihat dalam bahasa Spanyol modern. Banyak kosakata berasal dari bahasa Arab, salah satunya azúcar yang berarti gula, dari kata Arab as-sukkar. Jejak Al-Andalus masih tampak dalam budaya dan sejarah Spanyol hingga saat ini.

Komentar Terbanyak
Kutip Al-Qur'an dalam Khotbah, Masjid di Paris Ditutup 6 Bulan
Islam Masuk Nusantara Ketika Nabi Muhammad Masih Hidup
Viral Challenge Hafalan Al-Qur'an Hadiah Miras, MC Minta Maaf-Penyelenggara Marah