Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram Apakah Termasuk Bid'ah?

Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram Apakah Termasuk Bid'ah?

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 14 Jun 2026 07:00 WIB
Sejumlah anggota paskibra mengikuti pawai obor di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (26/6/2025). Pawai obor dengan tema Bersama Kita Nyalakan Obor Peradaban Untuk Indonesia Lebih Terang tersebut digelar oleh pemerintah setempat bekerja sama dengan yayasan Al-Markaz Al-Islami Makassar dan diikuti oleh ratusan peserta dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1447 H. ANTARA FOTO/Arnas Padda/foc.
Pawai Obor Sambut Tahun Baru Islam di Berbagai Daerah (Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda)
Jakarta -

Sebagian umat Islam merayakan tahun baru Hijriyah. Mulai dari doa, puasa hingga tradisi pawai obor.

Di beberapa daerah yang ada di Indonesia, momen pergantian tahun ini biasanya disambut meriah dengan beragam tradisi lokal. Namun, apakah memperingati Tahun Baru Islam boleh dilakukan? Apakah hal tersebut termasuk bid'ah?

Ulama berbeda pendapat mengenai peringatan Tahun Baru Islam. Ada yang mengatakan boleh, ada pula yang tidak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dipicu karena tidak ditemukannya dalil spesifik di dalam Al-Qur'an maupun hadits yang secara eksplisit memerintahkan perayaan tersebut. Berikut penjelasannya.

ADVERTISEMENT

Pandangan Soal Peringatan Tahun Baru Islam Adalah Bid'ah

Dikutip dari buku Fikih Keseharian: Ucapan Tahun Baru Hijriyah Hingga Hukum Parfum Beralkohol karya Hafidz Muftisany, sebagian ulama-terutama yang berasal dari Arab Saudi-berpandangan bahwa mengucapkan tahni'ah atau ucapan selamat tahun baru Hijriah bukan merupakan bagian dari syariat Islam. Salah satu tokoh terkemuka yang memegang pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Dalam fatwanya yang termuat dalam Mausu'ah al-Liqa asy-Syahri, Syaikh al-Utsaimin menyatakan bahwa umat Islam tidak dianjurkan untuk menjadi pihak yang pertama kali memulai atau mengucapkan selamat tahun baru. Kendati demikian, jika ada orang lain yang mendahului mengucapkan selamat kepada kita, maka tidak menjadi masalah untuk membalas ucapan tersebut.

Pandangan Soal Peringatan Tahun Baru Islam Diperbolehkan

Sudut pandang berbeda disampaikan oleh Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya. Dalam ceramahnya di kanal YouTube Al-Bahjah TV yang dikutip atas izin tim medianya, Buya Yahya menegaskan bahwa perayaan tahun baru Islam boleh saja dilakukan, bahkan dianjurkan untuk dijadikan sebagai momentum syiar Islam.

Menurut Buya Yahya, peringatan ini sama sekali bukan bid'ah karena umat Islam tidak berniat menambah hari raya baru di luar Idul Fitri dan Idul Adha. Peringatan ini murni ditujukan agar masyarakat luas semakin mengenal penanggalan Hijriah.

"Kita perlu hadirkan syiar tahun baru Hijriah. Ini bukan hari raya... Hari raya hanya Idul Adha dan Idul Fitri. Akan tetapi di saat kita mengangkat syiar Muharram tahun baru, ini punya maksud bahwa Islam punya (penanggalan khusus)," terang Buya Yahya.

Lebih lanjut, Buya Yahya mengulas sejarah penanggalan Hijriah yang diinisiasi oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. Penentuan 1 Muharram sebagai awal tahun sengaja dipilih agar para jemaah haji yang hendak pulang dari Tanah Suci dapat menyebarkan syiar Islam tersebut ke negeri asal masing-masing.

Buya Yahya juga menyayangkan banyaknya generasi muda saat ini yang tidak hafal bulan-bulan Hijriah, padahal kalender tersebut merupakan patokan utama ibadah umat Islam seperti puasa dan haji. Melalui momentum 1 Muharram, anak-anak dan masyarakat diharapkan bisa terbiasa dengan identitas Islam.

"Bagaimana semua orang membiasakan dengan Hijriah, ada makna iman, ada sesuatu yang ada aroma Islam-nya.... Kita ingin membiasakan anak-anak kita dengan sesuatu yang ada hubungan dengan Islam," tambahnya.

Senada dengan Buya Yahya, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar juga angkat bicara. Menag menegaskan bahwa memperingati 1 Muharram bukanlah bentuk dari pelestarian bid'ah, melainkan sebuah momen penting untuk introspeksi spiritual sekaligus pembersihan diri lahir dan batin.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menag dalam acara Ngaji Budaya bertema "Tradisi Muharram di Nusantara: Pesan Ekoteologi dalam Perspektif Kearifan Lokal" yang digelar Kementerian Agama di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Peaceful Muharram dalam menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.

"Memperingati 1 Muharram ini bukan melestarikan bid'ah. Justru kalau paham konsep ekoteologi, sulit untuk musyrik," ujar Nasaruddin Umar, seperti dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (23/6/2025).

Menag menjelaskan bahwa pesan ekoteologi-yang memandang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan-sangat selaras dengan esensi 1 Muharram. "Karena di waktu itu, kita dilarang berperang, dilarang membuat konflik, dan diminta untuk melakukan introspeksi," lanjutnya.

Bagi Nasaruddin Umar, peringatan 1 Muharram adalah waktu yang tepat untuk menajamkan hati nurani, bukan sekadar mengandalkan ketajaman akal. Ia juga mengajak masyarakat untuk merefleksikan tanggung jawab menjaga alam ciptaan Tuhan dengan penuh kasih dan kesadaran spiritual.

"Orang yang menyatu dengan alam tidak hanya mencintai bunga yang mekar, tapi juga bunga yang layu dan gugur. Karena dalam pandangan ekoteologi, semua fase kehidupan memiliki makna dan layak dicintai," pungkas Menag.

Wallahu a'lam.




(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads