Hukum Puasa Tarwiyah dan Arafah Sekaligus Qadha Ramadan

Hukum Puasa Tarwiyah dan Arafah Sekaligus Qadha Ramadan

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Kamis, 21 Mei 2026 17:05 WIB
Senior Muslim woman preparing food
Ilustrasi puasa. Foto: iStock
Jakarta -

Puasa Tarwiyah dan Arafah sering menjadi amalan yang dikerjakan umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha. Namun, sebagian orang masih memiliki utang puasa Ramadan sehingga muncul pertanyaan mengenai hukum menggabungkan puasa sunnah dengan qadha.

Pembahasan mengenai puasa Tarwiyah dan Arafah sekaligus qadha Ramadan kerap dijelaskan para ulama dalam fikih puasa. Perbedaan pendapat terkait penggabungan niat juga menjadi hal yang banyak dicari masyarakat menjelang bulan Zulhijah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum Puasa Tarwiyah

Dalam buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa karya Ali Amrin Al Qurawy dijelaskan bahwa puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Zulhijah. Istilah Tarwiyah berasal dari kata tarawwa yang bermakna membawa atau menyediakan bekal air.

Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan para jemaah haji pada masa lampau yang menyiapkan persediaan air zamzam sebelum berangkat menuju Arafah dan Mina. Air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun hewan tunggangan selama perjalanan ibadah haji berlangsung.

ADVERTISEMENT

Mengenai hukum puasa Tarwiyah, terdapat sebuah hadits yang secara khusus menyebut keutamaan berpuasa pada hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Zulhijah. Hadits tersebut berbunyi:

"Barang siapa berpuasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan, untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun."

Para ulama menilai hadits tersebut berstatus dhaif atau lemah. Meski demikian, sebagian ulama membolehkan pengamalan hadits dhaif dalam konteks fadhailul amal, yakni amalan-amalan yang berkaitan dengan keutamaan ibadah. Kebolehan ini berlaku selama hadits tersebut tidak dijadikan dasar dalam penetapan akidah maupun hukum syariat.

Adapun dalil puasa Tarwiyah sendiri mengacu pada hadits shahih dari Ibnu Abbas RA yang menyebut keutamaan beramal pada 10 hari pertama bulan Zulhijah.

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Artinya: Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Niat Puasa Tarwiyah

Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab-latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."

Hukum Puasa Arafah

Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan setiap 9 Zulhijah, bertepatan dengan momen wukuf para jemaah haji di Padang Arafah. Ibadah ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Pelaksanaan puasa Arafah memiliki keterkaitan erat dengan salah satu rukun haji terpenting, yaitu wukuf di Arafah. Pada hari tersebut, jemaah haji mengenakan pakaian ihram dan berkumpul di Padang Arafah sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Hadits mengenai anjuran puasa Arafah diriwayatkan oleh Abu Qatadah. Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa hari Arafah diperhitungkan oleh Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan orang yang berpuasa setahun sebelum dan sesudahnya." (HR Muslim)

Hadits tersebut menjelaskan besarnya keutamaan puasa Arafah, yaitu sebagai amalan yang dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa selama dua tahun, yakni satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.

Niat Puasa Arafah

Berikut bacaan niat puasa Arafah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab-latin: Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala."

Hukum Puasa Qadha Ramadan

Hukum mengganti puasa Ramadan adalah wajib. Ketentuan mengenai qadha puasa tersebut juga dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 184 berikut:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya. Berpuasa juga lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Berdasarkan ayat tersebut, umat Islam yang memiliki utang puasa Ramadan tetap berkewajiban menggantinya di hari lain, termasuk saat memasuki bulan Zulhijah.

Niat Puasa Qadha Ramadan

Berikut bacaan niat puasa qadha tersebut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرٍ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Saya berniat mengganti (menggadha) puasa bubul Ramadan karena Allah Ta'ala."

Hukum Menggabungkan Puasa Qadha Ramadan dengan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Dijelaskan dalam buku Ensiklopedia Islam (Akidah, Ibadah, Muamalah, Tematik) karya Makmur Dongoran, menggabungkan puasa wajib dengan puasa sunnah dikenal dengan istilah at-tasyrik. Maksudnya, seseorang melaksanakan puasa qadha Ramadan sekaligus bertepatan dengan puasa sunnah tertentu, seperti puasa Tarwiyah pada 8 Zulhijah dan puasa Arafah pada 9 Zulhijah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum penggabungan niat tersebut karena tidak terdapat dalil yang secara tegas menjelaskannya. Namun, qadha puasa Ramadan pada dasarnya tidak wajib dilakukan segera setelah bulan Ramadan berakhir. Hal ini merujuk pada riwayat dari Aisyah RA yang pernah menunda pelaksanaan qadha puasa hingga bulan Sya'ban.

Sebagian ulama dari mazhab Syafi'iyah membolehkan penggabungan niat puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah. Pendapat ini juga difatwakan oleh Dar al-Ifta al-Misriyyah. Menurut pandangan ini, seseorang tetap dapat memperoleh pahala puasa wajib sekaligus pahala puasa sunnah apabila keduanya diniatkan bersamaan.

Pendapat tersebut turut dijelaskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dan Syamsuddin Ar-Ramli. Meski demikian, keduanya tetap menilai bahwa memisahkan antara puasa qadha dan puasa sunnah lebih utama agar keutamaan masing-masing ibadah dapat diperoleh secara lebih sempurna.

Sementara itu, sebagian ulama lain seperti Abdul Aziz bin Baz, Abdurrahman Ali Al-Askar, serta Muhammad bin Hassan berpendapat bahwa niat puasa qadha Ramadan tidak sebaiknya digabungkan dengan puasa sunnah Tarwiyah atau Arafah. Menurut pandangan ini, apabila kedua niat dilakukan bersamaan, maka yang dianggap sah adalah puasa qadha Ramadan, sedangkan pahala puasa sunnah tidak diperoleh secara utuh.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads