Teks Takbiran Idul Fitri Lengkap untuk Malam Lebaran

Teks Takbiran Idul Fitri Lengkap untuk Malam Lebaran

Kristina - detikHikmah
Jumat, 20 Mar 2026 16:30 WIB
Masjid Raya Bintaro Jaya di Tangerang Selatan menggelar malam takbiran Idul Fitri secara terbatas. Tidak ada kerumunan di masjid saat takbiran berlangsung.
Masjid Raya Bintaro Jaya di Tangerang Selatan menggelar malam takbiran Idul Fitri secara terbatas. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Teks takbiran Idul Fitri mulai dikumandangkan saat malam 1 Syawal tiba. Suara takbir menggema di masjid, musala, hingga rumah-rumah, sebagai ungkapan syukur atas berakhirnya bulan Ramadan. Lafaz takbiran berisi pujian dan pengagungan kepada Allah SWT.

Para ulama menjelaskan hukum takbiran Idul Fitri adalah sunnah. Anjuran ini juga disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut:

"Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (Fitri dan Adha) karena hal itu dapat melebur dosa-dosa." (HR Ahmad)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teks Takbiran Idul Fitri Lengkap

Berikut ini adalah bacaan takbiran Idul Fitri yang dirujuk dari buku Panduan Shalat Sunah Rekomendasi Rasulullah Dilengkapi Hikmah dan Doa Mustajab karya Zezen Zainal Alim.

ADVERTISEMENT

Teks Takbiran Idul Fitri Panjang

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Arab latin: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa
wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa

Laa ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal kaafiruun

Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, wa a'azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah

Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya
Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore

Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir membencinya.

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah."

Teks Takbiran Idul Fitri Pendek

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Arab latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

Artinya: "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah."

Kapan Takbiran Idul Fitri Dilakukan?

Menurut buku Fikih Mazhab Syafi'i karya Abu Ahmad Najieh, takbiran Idul Fitri mulai dikumandangkan sejak matahari terbenam pada malam 1 Syawal. Artinya, begitu masuk malam Lebaran, umat Islam sudah boleh bertakbir, baik sendiri maupun bersama-sama. Takbiran ini terus dilanjutkan hingga pagi hari saat akan melaksanakan salat Id.

Imam juga dianjurkan untuk ikut mengumandangkan takbir setelah salat Magrib, Isya, dan Subuh, sampai tiba waktu salat Id dan dimulai di tempat pelaksanaan salat.

Dikutip dari buku Serial Cinta Ramadhan-Betapa Allah Menyayangi Kita susunan Edi Purwanto, dalil mengenai waktu takbiran Idul Fitri terdapat dalam hadits berikut ini:

"Nabi SAW biasa keluar hendak salat pada Hari Raya Idul Fitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai salat hendak dilaksanakan. Ketika salat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir." (HR An-Nasa'i)

Selain itu, dalam buku Fikih Ibadah Madzhab Syafi'i, Syaikh Alauddin Za'tari menjelaskan takbiran boleh dikumandangkan selama masih dalam rentang waktunya, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Takbir juga bisa digemakan di rumah, di jalan, bahkan di pasar.

Untuk laki-laki, dianjurkan membaca takbir dengan suara yang lantang. Sementara perempuan cukup dengan suara pelan yang bisa didengar dirinya sendiri, terutama jika berada di tempat umum bersama orang yang bukan mahram.




(kri/Tia Kamilla)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads