- 16 Adab Safar Mudik Lebaran 1. Melakukan Istikharah 2. Berangkat pada Hari Kamis 3. Meminta Wasiat dan Doa Orang Shalih 4. Meminta Izin Orang Tua 5. Saling Mendoakan 6. Membaca Doa Safar 7. Mengangkat Pemimpin Perjalanan 8. Tidak Bepergian Sendirian 9. Mencari dan Menjadi Teman yang Baik dalam Perjalanan 10. Tidak Bercerai-berai Saat Singgah 11. Memperhatikan Kesiapan Kendaraan 12. Bersegera Kembali 13. Hindari Pulang Tiba-tiba di Malam Hari 14. Salat Dua Rakaat di Masjid 15. Berpelukan Saat Berjumpa 16. Tidak Membawa Anjing atau Lonceng
- Dzikir dan Doa Safar 1. Doa Musafir kepada Orang yang Ditinggalkan 2. Doa Orang yang Ditinggalkan kepada Musafir 3. Doa Naik Kendaraan Saat Mudik 4. Doa Bepergian 5. Doa Ketika Pulang dari Safar 6. Doa Masuk Desa atau Kota 7. Takbir dan Tasbih Saat Perjalanan 8. Doa apabila Kendaraan Tergelincir 9. Doa Musafir Ketika Menjelang Subuh 10. Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat
Mudik Lebaran telah menjadi tradisi tahunan yang dinanti-nanti untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga di kampung halaman. Namun, perjalanan jauh atau safar tentu memiliki tantangan tersendiri.
Agar perjalanan Anda tidak hanya sekadar sampai tujuan, tetapi juga bernilai ibadah dan penuh keberkahan, penting untuk memahami adab-adab serta doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
16 Adab Safar Mudik Lebaran
Berdasarkan buku Pedoman Safar terbitan Pustaka Ibnu 'Umar, berikut adalah panduan lengkap adab safar dan kumpulan doa keselamatan yang bisa Anda amalkan selama mudik Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Melakukan Istikharah
Sebelum memutuskan bepergian, mohonlah petunjuk Allah agar dipilihkan waktu dan cara terbaik demi kebaikan dunia dan akhirat.
Dari Jabir bin 'Abdillah, ia berkata, "Rasulullah mengajari kami doa istikharah (meminta dipilihkan) dalam menghadapi urusan-urusan tertentu sebagaimana beliau mengajari kami suatu surat dari Al-Qur'an. Beliau bersabda:
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي، وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي (أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي، وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي (أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي، وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ. قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ.
Artinya: "Jika salah seorang di antara kalian mencita-citakan suatu perkara, maka salatlah dua rakaat selain salat fardhu, kemudian ucapkanlah: 'Ya Allah, aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak kuasa. Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui. Dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika menurut-Mu bahwa masalah ini baik bagi agamaku, kehidupanku dan akibatnya bagiku (atau Nabi bersabda: di dalam urusan dunia dan akhiratku), maka takdirkanlah bagiku, mudahkanlah bagiku, dan berilah keberkahan padanya. Namun jika menurut-Mu masalah ini buruk bagi agamaku, kehidupanku dan akibatnya bagiku (atau Nabi bersabda: di dalam urusan dunia dan akhiratku), maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku di mana saja ia (kebaikan) berada, kemudian jadikanlah aku ridha terhadap kebaikan tersebut.
Nabi bersabda: 'Dan ia menyebutkan keperluannya (apa yang ia cita-citakan)."
2. Berangkat pada Hari Kamis
Rasulullah SAW menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis, sebagai bentuk mengikuti sunnah dan mencari keberkahan.
Diriwayatkan dalam hadits Ka'b bin Malik, bahwa Nabi keluar menuju perang Tabuk di hari Kamis. Dan beliau menyukai keluar untuk bepergian di hari Kamis.
Dalam satu riwayat disebutkan, "Sungguh, jarang sekali Rasulullah keluar untuk bepergian, kecuali beliau keluar pada hari Kamis."
Niatkanlah untuk mendapatkan keberkahan dengan melakukan apa yang beliau lakukan, karena hal ini termasuk karakter orang-orang shalih dan kebiasaan orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa mengikuti Nabi dalam segala urusannya, baik yang besar maupun yang kecil, maka tidak diragukan lagi, ia akan mendapatkan keberhasilan.
3. Meminta Wasiat dan Doa Orang Shalih
Sebelum berangkat, mintalah nasihat serta doa dari orang-orang shalih agar perjalanan dimudahkan.
Diriwayatkan dari Anas seorang datang kepada Rasulullah SAW bahwa seraya berkata, "Wahai Rasulullah, saya bermaksud mengadakan perjalanan, maka bekalilah saya."
Rasulullah bersabda:
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى
Artinya: "Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan."
Laki-laki itu berkata, "Tambahkan bagiku."
Rasulullah bersabda:
وَغَفَرَ ذَنْبَكَ
Artinya: "Dan semoga Allah mengampunimu."
Laki-laki itu berkata lagi, "Bekali lagi saya, ibu bapakku menjadi tebusanmu."
Rasulullah bersabda:
وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ.
Artinya: "Dan semoga Allah memudahkanmu kepada kebaikan di mana saja kamu berada."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah seraya berkata: "Ya Rasulullah, saya hendak bepergian, maka wasiatilah saya."
Rasulullah pun bersabda kepada laki-laki tersebut:
عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالتَّكْبِيرِ عَلَى كُلِّ شَرَف.
Artinya: "Tetaplah dalam ketakwaan kepada Allah, dan bertakbir di tempat-tempat yang tinggi."
Ketika laki-laki itu berpaling maka Rasulullah berdoa untuknya:
اللَّهُمَّ اطْوِ لَهُ الْبُعْدَ وَهَوِّنْ عَلَيْهِ السَّفَرَ.
Artinya: "Ya Allah, perdekatlah jauhnya perjalanan dia, dan mudahkanlah perjalanan itu bagi-nya."
4. Meminta Izin Orang Tua
Restu ayah dan ibu adalah kunci keselamatan. Safar yang mubah (boleh) bisa menjadi dilarang jika dilakukan tanpa izin mereka.
Dalam sebuah hadits, seseorang datang kepada Nabi meminta izin untuk pergi jihad, maka Nabi bertanya kepadanya:
"Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab, "Ya." Maka Nabi bersabda:
فَفِيهِمَا فَجَاهِد
Artinya: "Tinggallah dengan kedua orang tuamu, maka itulah jihadmu."
Ibnu Hajar berkata, "Hadits di atas dijadikan dalil haramnya safar tanpa izin orang tua. Karena manakala jihad dilarang, padahal keutamaannya sangat agung, maka safar yang mubah tentu lebih dilarang. Kecuali jika safar tersebut untuk mencari ilmu yang fardhu 'ain dan ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengadakan safar, maka safar dalam hal ini tidak dilarang. Adapun jika ilmu tersebut fardhu kifayah, maka para ulama berbeda pendapat."
5. Saling Mendoakan
Musafir mendoakan orang yang ditinggal, dan sebaliknya.
6. Membaca Doa Safar
Selalu konsisten membaca doa mulai dari naik kendaraan hingga sampai tujuan.
7. Mengangkat Pemimpin Perjalanan
Jika bepergian bertiga atau lebih, tunjuklah satu orang sebagai pemimpin rombongan agar perjalanan lebih terorganisir.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda:
إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
Artinya: "Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin."
8. Tidak Bepergian Sendirian
Terutama di malam hari, sangat dianjurkan untuk memiliki teman perjalanan.
Rasulullah bersabda:
لَوْ أَنَّ النَّاسَ يَعْلَمُوْنَ مِنَ الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ.
Artinya: "Seandainya manusia mengetahui seperti apa yang aku ketahui mengenai bepergian sendirian, niscaya seseorang tidak akan berkendaraan sendirian di malam hari."
9. Mencari dan Menjadi Teman yang Baik dalam Perjalanan
Saling membantu membawa barang atau menunjukkan jalan adalah sedekah yang bernilai pahala.
Imam al-Bukhari membuat bab khusus tentang keutamaan orang yang mengangkat barang bawaan saudaranya dalam perjalanan (Fadhlu man hamala mataa'a shaahibihi fis safari). Pada bab ini dimuat hadits Nabi:
كُلُّ سُلَامَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ يُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ يُحَامِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَدَلَّ الطَّرِيقَ صَدَقَةٌ.
Artinya: "Setiap persendian wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari. Seseorang membantu yang lain mengangkat barang bawaannya ke kendaraannya (adalah shadaqah). Atau membawakan barang bawaan orang lain (di kendaraan sendiri) adalah shadaqah. Kalimat yang baik dan setiap langkah untuk melaksanakan salat adalah shadaqah. Dan menunjukkan jalan adalah shadaqah."
10. Tidak Bercerai-berai Saat Singgah
Rombongan hendaknya tetap berkumpul di satu tempat saat beristirahat dan tidak berpencar di lokasi yang jauh.
Diriwayatkan dari Abu Tsa'labah bahwa ketika suatu saat Rasulullah singgah, maka para Sahabat memilih tempat berhenti yang terpisah-pisah. Maka beliau bersabda:
إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِي هَذِهِ الشِّعَابِ وَالْأَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ.
Artinya: "Sesungguhnya terpisah-pisahnya kalian di celah gunung dan lembah ini dari syaitan."
11. Memperhatikan Kesiapan Kendaraan
Pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Jika beristirahat di malam hari, hindari tidur di bahu jalan karena merupakan jalur binatang malam.
Rasulullah bersabda:
إِذَا سَافَرْتُمْ فِي الْخِصْبِ فَأَعْطُوا الْإِبِلَ حَظَّهَا مِنَ الْأَرْضِ وَإِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ فَأَسْرِعُوا عَلَيْهَا السَّيْرَ وَإِذَا عَرَّسْتُمْ بِاللَّيْلِ فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيقَ فَإِنَّهَا مَأْوَى الْهَوَامِ بِاللَّيْلِ.
Artinya: "Jika kalian melakukan safar di saat subur, maka berikanlah bagian unta dari bumi ini". Jika kalian mengadakan perjalanan di waktu kering, maka lakukanlah perjalanan dengan cepat. Jika kalian singgah di akhir malam (untuk istirahat dan tidur), maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu menjadi tempat lewat binatang dan serangga di waktu malam."
12. Bersegera Kembali
Jika urusan di kampung halaman sudah selesai, segeralah kembali ke keluarga untuk memenuhi hak-hak mereka.
Rasulullah bersabda:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ.
Artinya: "Safar itu sepotong siksaan, karena seseorang di antara kalian akan terganggu, baik tidur, makan atau minumnya. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian telah menunaikan keperluannya, maka hendaklah ia bersegera untuk kembali kepada keluarganya."
13. Hindari Pulang Tiba-tiba di Malam Hari
Jika sudah lama bepergian, sebaiknya beri kabar sebelum sampai agar tidak mengagetkan keluarga di malam hari.
Rasulullah bersabda:
إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الْغَيْبَةَ فَلَا يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلًا.
Artinya: "Jika salah seorang dari kalian telah lama bepergian, maka janganlah mendatangi keluarganya dengan tiba-tiba di malam hari."
14. Salat Dua Rakaat di Masjid
Sunnah Rasulullah saat tiba dari perjalanan adalah mampir ke masjid terlebih dahulu untuk salat dua rakaat.
Diriwayatkan dari Ka'b bin Malik, bahwa Nabi apabila datang dari sebuah perjalanan, maka beliau memulainya dengan datang ke masjid lalu salat dua rakaat di sana.
15. Berpelukan Saat Berjumpa
Sebagai tanda kasih sayang dan rindu, dianjurkan berpelukan saat bertemu keluarga atau sahabat setelah safar.
Diriwayatkan bahwa para Sahabat Nabi apabila saling berjumpa, mereka berjabatan tangan dan apabila mereka baru tiba dari sebuah perjalanan, maka mereka saling berpelukan.
16. Tidak Membawa Anjing atau Lonceng
Malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di dalamnya terdapat anjing atau lonceng.
Dalam bab Karaahatul Kalbi wal Jaras fis Safar (makruhnya anjing dan lonceng dalam perjalanan) al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
لَا تَصْحَبُ الْمَلَائِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا كَلْبٌ وَلَا جَرَسٌ
Artinya: "Malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di dalamnya ada anjing dan lonceng.
Dzikir dan Doa Safar
Masih mengutip buku yang sama, berikut bacaan doa safar mudik Lebaran agar diberi keselamatan. Bisa diamalkan sebelum dan selama perjalanan.
1. Doa Musafir kepada Orang yang Ditinggalkan
Sebelum berangkat mudik atau bepergian jauh, seorang musafir dianjurkan berpamitan sambil mendoakan keluarga yang ditinggalkan.
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Latin: Astawdi'ukumullāhalladzī lā taḍī'u wadāi'uh.
Artinya: "Aku titipkan kalian kepada Allah, yang tidak akan hilang titipan-Nya."
2. Doa Orang yang Ditinggalkan kepada Musafir
Orang yang ditinggalkan juga dianjurkan mendoakan keselamatan bagi orang yang sedang bepergian.
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ.
Latin: Astawdi'ullāha dīnak, wa amānatak, wa khawātīma 'amalik
Artinya: "Aku menitipkan agamamu, amanatmu dan kesudahan amalmu kepada Allah."
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ.
latin: Zawwadakallāhut-taqwā, wa ghafara dzanbaka, wa yassara lakal-khaira haitsu mā kunta.
Artinya: "Semoga Allah memberi bekal takwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu di mana saja kamu berada."
3. Doa Naik Kendaraan Saat Mudik
Ketika sudah berada di kendaraan seperti mobil, motor, bus, kereta, atau pesawat, dianjurkan membaca doa berikut.
بِسْمِ اللهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ، .. سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنقَلِبُونَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.
Latin: Bismillāh, alhamdulillāh. Subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.
Alhamdulillāh (3x)
Allāhu akbar (3x)
Subhānaka innī ẓhalamtu nafsī faghfir lī, fa innahu lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.
Artinya: "Dengan menyebut Nama Allah, segala puji bagi Allah, Mahasuci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat).' (QS Az-Zukhruf: 13-14)
Segala puji bagi Allah (3x), Allah Mahabesar (3x), Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau."
4. Doa Bepergian
Doa ini dibaca ketika perjalanan dimulai.
اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ... سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ, وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِيْ الأَهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَابَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ.
Latin: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
Subhaanal-ladzii sakh-khara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.
Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal-birra wat-taqwaa, wa minal 'amali maa tardhaa.
Allaahumma hawwin 'alaynaa safaranaa haadzaa, wath-wi 'annaa bu'dah.
Allaahumma antas-shaahibu fis-safari, wal khaliifatu fil ahli.
Allaahumma innii a'uudzu bika min wa'tsaa-is-safari, wa ka-aabatil manzhari, wa suu-il munqalabi fil maali wal ahli.
Artinya: "Allah Maha Besar (3x). 'Mahasuci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat).' (QS Az-Zukhruf: 13-14)
Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, dan kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku) yang ditinggalkan. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga."
5. Doa Ketika Pulang dari Safar
Apabila kembali (dari bepergian), maka doa di atas dibaca, dan ditambah:
آ يِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ.
Latin: Aa-yibuuna, taa-ibuuna, 'aabiduuna, lirabbinaa haamiduun.
Artinya: "Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami
6. Doa Masuk Desa atau Kota
Ketika memasuki daerah baru atau kota tujuan saat mudik, dianjurkan membaca doa berikut.
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ، وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ أَهْلِهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا .
Latin: Allaahumma rabbas-samaawaatis-sab'i wa maa azhlalna, wa rabbal-aradhiinas-sab'i wa maa aqlalna, wa rabbasy-syayaathiini wa maa adhlalna, wa rabbar-riyaahi wa maa dzarayna.
As-aluka khayra haadzihil-qaryati, wa khayra ahlihaa, wa khayra maa fiihaa, wa a'uudzu bika min syarrihaa, wa syarri ahlihaa, wa syarri maa fiihaa.
Artinya: "Ya Allah, Rabb tujuh petala langit dan apa yang dinaunginya, Rabb penguasa tujuh lapis bumi dan apa yang di atasnya, Rabb yang menguasai setan-setan dan apa yang mereka sesatkan, Rabb yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa ini, kebaikan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa ini, kejelekan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya."
7. Takbir dan Tasbih Saat Perjalanan
Dalam perjalanan, Rasulullah SAW juga mengajarkan membaca dzikir sesuai kondisi jalan.
قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ : كُنَّا إِذَاصَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا.
Artinya: Jabir bin 'Abdillah, dia berkata: "Apabila berjalan naik, kami membaca takbir, dan apabila turun, kami membaca tasbih."
Takbir: اللَّهُ أَكْبَرُ (Allahu Akbar)
Tasbih: سُبْحَانَ اللهِ (Maha Suci Allah)
8. Doa apabila Kendaraan Tergelincir
Jika kendaraan tergelincir atau terjadi hal tak terduga saat perjalanan, dianjurkan membaca:
بِسْمِ اللهِ
Latin: Bismillah
Artinya: "Dengan Nama Allah."
9. Doa Musafir Ketika Menjelang Subuh
Ketika mendekati waktu subuh saat dalam perjalanan, dianjurkan membaca doa berikut:
سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ ، وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا. رَبَّنَا صَاحِبَنَا، وَأَفْضِل عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ.
Latin: Samma'a saami'un bihamdillaah, wa husni balaa-ihi 'alaynaa. Rabbanaa shaahibnaa, wa afdhil 'alaynaa 'aa-idzam billaahi minan-naar.
Artinya: "Semoga ada yang memperdengarkan pujian kami kepada Allah (atas nikmat) dan cobaan-Nya yang baik kepada kami. Wahai Rabb kami, dampingilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api Neraka. "
10. Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat
Jika singgah atau beristirahat di suatu tempat selama perjalanan, bacalah doa ini:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.
Latin: A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq.
Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan sesuatu yang diciptakan-Nya. "
Wallahu a'lam.
(hnh/lus)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha