Bulan Ramadan merupakan momen penting bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 183,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alal-lażīna min qablikum la'allakum tattaqūn(a).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pertanyaan tentang kapan puasa dimulai selalu menjadi perhatian umat Islam.
Penentuan awal puasa tidak hanya mengacu pada kalender Masehi. Penetapannya mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan dan umumnya ditentukan melalui metode hisab (perhitungan) atau rukyat (pengamatan hilal).
Perbedaan penetapan awal puasa antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah pun membuat sebagian masyarakat bingung.
Lantas, puasa Ramadan dimulai tanggal berapa menurut masing-masing ketetapan tersebut? Berikut penjelasannya.
Awal Puasa Menurut Pemerintah
Pemerintah belum menetapkan secara resmi tanggal puasa Ramadan dimulai karena masih menunggu pelaksanaan sidang isbat. Namun, berdasarkan kalender resmi, awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menentukan awal Ramadan dengan metode rukyatul hilal yang dilakukan pada tanggal 29 Syaban (17 Februari). Hasil pengamatan hilal tersebut kemudian dibahas dalam sidang isbat yang melibatkan ulama, pakar ilmu falak, serta perwakilan instansi terkait.
Keputusan ini dikenal sebagai itsbatul 'aam, yakni penetapan yang berlaku secara nasional bagi umat Islam di Indonesia. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban disempurnakan menjadi 30 hari. Sambil menunggu keputusan resmi sidang isbat, perkiraan kalender menunjukkan awal puasa Ramadan 2026 berpotensi dimulai pada 19 Februari. Sidang isbat juga menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Awal Puasa Menurut NU
Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini belum menetapkan secara resmi tanggal 1 Ramadan 2026 karena masih menunggu hasil pemantauan hilal di akhir bulan Syaban. Meski begitu, berdasarkan prediksi dalam kalender Almanak NU, awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
NU menentukan awal Ramadan dengan metode hisab imkanur rukyat, yaitu penggabungan perhitungan astronomi dan pengamatan hilal secara langsung pada tanggal 29 Syaban. Penetapan resmi baru dilakukan setelah hasil rukyatul hilal diumumkan oleh tim yang bertugas.
Sambil menunggu hasil rukyat, kalender perkiraan menunjukkan kemungkinan awal puasa pada 19 Februari 2026. Dalam proses hisab, NU menggunakan Hisab Hakiki Imkan Rukyat dengan mengacu pada kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dalam penentuan awal bulan Hijriah, rukyat tetap menjadi acuan utama. Hilal diamati pada hari ke-29 bulan berjalan. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun, jika hilal tidak tampak, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari.
Awal Puasa Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penentuan ini dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki dengan mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tanpa menunggu proses pengamatan hilal.
Penetapan awal puasa tersebut diumumkan oleh Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Metode hisab yang digunakan memperhitungkan waktu ijtima' atau konjungsi bulan dan matahari serta posisi bulan secara global, sehingga awal bulan Hijriah dapat ditentukan secara astronomis.
Dengan pendekatan ini, penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah tidak bergantung pada rukyatul hilal. Untuk menunjang ketepatan perhitungan, Muhammadiyah juga menggunakan sistem digital HisabMu sebagai perangkat resmi dalam penentuan kalender Hijriah.
Selain awal Ramadan, Muhammadiyah turut menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penggunaan KHGT bertujuan menghadirkan kepastian waktu ibadah yang konsisten dan dapat berlaku secara global bagi warga Muhammadiyah.
Jadwal Libur Lebaran dan Cuti Bersama 2026
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1497/2025, 2/2025, dan 5/2025 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, berikut ini daftar libur nasional dan cuti bersama Lebaran 2026:
Rabu, 18 Maret 2026 : Cuti Bersama Hari Suci Nyepi 2026
Kamis, 19 Maret 2026 : Hari Suci Nyepi 2026
Jumat, 20 Maret 2026: Cuti bersama jelang Lebaran 2026.
Sabtu, 21 Maret 2026: hari pertama Lebaran 2026.
Minggu, 22 Maret 2026: hari kedua Lebaran 2026.
Senin, 23 Maret 2026: Cuti bersama Lebaran 2026.
Selasa, 24 Maret 2026: Cuti bersama Lebaran 2026.
Hitung Mundur Puasa 2026
Pemerintah memang belum menetapkan secara resmi awal puasa Ramadan 2026, hitung mundur menuju bulan suci sudah dapat dilakukan. Perkiraan ini bisa mengacu pada kalender Hijriah serta ketetapan Muhammadiyah. Jika pun nantinya terdapat perbedaan, umumnya hanya berselisih satu hari.
Apabila dihitung sejak Rabu, 21 Januari 2026, puasa Ramadan diperkirakan tinggal 28 hari lagi, merujuk pada keputusan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026.
Sementara itu, bila mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia yang memprediksi 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026, maka puasa Ramadan diperkirakan tinggal 29 hari lagi.
Dengan perhitungan ini, umat Islam sudah dapat mulai mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadan, sambil menunggu penetapan resmi dari pemerintah.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Kata-kata Nisfu Syaban 2026 Singkat Penuh Doa, Harapan, dan Ampunan
Hukum Mengambil Barang Temuan di Jalan yang Tidak Diketahui Pemiliknya
Bolehkah Puasa Tanpa Sahur? Ini Penjelasan dan Hukumnya