Isra Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW atas kuasa Allah SWT, yang dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Peristiwa luar biasa ini memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam karena di dalamnya terdapat perintah salat lima waktu.
Pembahasan mengenai tahun terjadinya Isra Miraj menjadi perhatian para ulama dan sejarawan Islam karena berkaitan dengan fase krusial dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapan Isra Miraj Terjadi?
Dalam kitab al-Isra' wa al-Mi'raj karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah, dijelaskan bahwa tidak terdapat kesepakatan tunggal mengenai waktu pasti terjadinya Isra Miraj. Para ulama memiliki pandangan yang beragam berdasarkan riwayat dan analisis sejarah masing-masing.
Sebagian ulama berpendapat Isra Miraj terjadi menjelang hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Pendapat yang paling banyak dirujuk adalah pendapat Ibnu Mas'ud RA yang menyatakan Isra Miraj terjadi sekitar satu tahun sebelum hijrah. Pandangan ini kemudian ditegaskan oleh Imam Nawawi dan kerap digunakan sebagai rujukan dalam penulisan sejarah Islam.
Selain itu, terdapat riwayat lain yang menyebutkan waktu yang lebih spesifik, mulai dari delapan bulan, enam bulan, sebelas bulan, hingga dua puluh bulan sebelum hijrah. Pendapat-pendapat tersebut diriwayatkan oleh sejumlah ulama, seperti Ibnul Jauzi, Abu Rabi' ibn Salim, Ibrahim al-Harbi, Ibnu Faris, dan Ibnu Abdil Barr.
Di sisi lain, sebagian ulama mengaitkan Isra Miraj dengan masa awal kenabian Nabi Muhammad SAW. Ada pendapat yang menyebut peristiwa ini terjadi tiga hingga lima tahun sebelum hijrah, bahkan ada pula yang menyatakan Isra Miraj terjadi beberapa tahun setelah Nabi diutus sebagai rasul. Perbedaan ini juga berkaitan dengan pembahasan mengenai praktik salat pada masa awal Islam.
Meski demikian, perbedaan pendapat tersebut tidak mengurangi kedudukan dan makna Isra Miraj dalam Islam. Oleh karena itu, dalam banyak kajian sejarah, pendapat yang menyebut Isra Miraj terjadi menjelang hijrah, khususnya sekitar satu tahun sebelumnya, dinilai paling moderat dan banyak digunakan.
Dalam buku Sebenarnya Aku Tidak Ingin Menyerah, Tapi Aku Lagi Berbenah karya Ipnu R. Nugroho, disebutkan bahwa Isra Miraj terjadi pada 'Amul Huzn atau tahun kesedihan, yaitu masa setelah wafatnya Khadijah RA, istri tercinta Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini dipahami sebagai bentuk penghiburan dan penguatan spiritual dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW di tengah beratnya tekanan dakwah.
Bulan dan Tanggal Terjadinya Isra Miraj
Para ulama juga berbeda pendapat mengenai bulan terjadinya Isra Miraj. Sebagian ulama, seperti Ibnul Munir, berpendapat peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Akhir, pendapat yang ditegaskan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim. Pendapat lain menyebut bulan Rabiul Awwal, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam Fatâwâ-nya.
Selain itu, terdapat pendapat yang menyebut bulan Rajab sebagai waktu terjadinya Isra Miraj, sebagaimana ditegaskan Imam Nawawi dalam kitab Raudhah. Al-Waqidi berpendapat peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan, sedangkan al-Mawardi menyebut bulan Syawwal. Meski demikian, pendapat yang paling masyhur dan dikenal luas di tengah umat Islam adalah bahwa Isra Miraj terjadi pada bulan Rajab.
Perbedaan pendapat juga muncul terkait tanggal pasti Isra Miraj. Ibnu Sa'ad berpendapat peristiwa ini terjadi pada malam Sabtu, tanggal 17 Ramadan. Sementara itu, Ibnul Munir al-Harbi berpendapat Isra Miraj terjadi pada tanggal 27 Rabiul Akhir dan menilai pendapat ini sebagai yang paling kuat karena dikaitkan dengan waktu hijrah.
Merujuk buku 12 Bulan Mulia: Amalan Sepanjang Tahun karya Abdurrahman Ahmad As, Isra Miraj disebut terjadi pada malam 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian. Pendapat ini dikemukakan oleh Allamah al-Manshurfury dan diikuti oleh mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa pada malam tersebut Rasulullah SAW menerima kewajiban salat lima waktu.
Pendapat yang menempatkan Isra Miraj sebelum tahun kesepuluh kenabian dinilai lemah, mengingat Khadijah RA wafat pada tahun tersebut dalam keadaan belum ada kewajiban salat lima waktu. Sementara itu, seluruh ulama sepakat bahwa kewajiban salat ditetapkan pada malam Isra Miraj.
Surah Al-Isra' juga mengisyaratkan bahwa peristiwa ini terjadi pada fase akhir dakwah Nabi di Makkah.
Dengan demikian, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu terjadinya Isra Miraj, pendapat yang paling banyak dirujuk menyebut peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, menjelang hijrah Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai Amul Huzn, seiring ditetapkannya kewajiban salat lima waktu.
Terlepas dari perbedaan tersebut, Isra Miraj tetap menjadi peristiwa agung yang menegaskan kebesaran Allah SWT dan pentingnya salat sebagai fondasi utama dalam kehidupan umat Islam.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Bolehkah Puasa Tanpa Sahur? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Hukum Mengambil Barang Temuan di Jalan yang Tidak Diketahui Pemiliknya
10 Ciri Rumah yang Sering Disinggahi Malaikat dan Penuh Berkah